Thursday, December 11, 2014

Melihat Kasih


Kemarin sewaktu ngajar di Tomawin, ada mama dari Banti yang sedang mengais tempat sampah di depan asrama. Mama bertanya kepada saya apakah ada plastik hitam dalam ruang kelas? Saya yang masih terbengong-bengong dengan seribu macam pikiran bertanya pada diri sendiri apakah memberikan sebuah kantong plastik disaat kegiatan belajar mengajar merupakan tindakan yang tepat, bilakah nantinya akan mengganggu apa yang sedang berlangsung karena distraction dan sebagainya, dan sebagainya... 

Saat saya masih mikir-mikir tentang berbagai kemungkinan ini dan itu, tiba-tiba saja Yoseph Beanal, murid kelas 3 SD dengan sigap melompat, membuka laci, lalu dalam waktu sepersekian detik mengulurkan sebuah plastik hitam kepada si Mama. 
Beberapa saat kemudian si Mama berterima kasih dengan suara sayup-sayup kepada seisi ruang kelas. Kejadian ini berlangsung hanya dalam hitungan detik! Luar biasa!

Dan lagi-lagi, saya masih dibuat terbengong-bengong karenanya... 

Bagaimana mungkin Yoseph Beanal, murid saya yang tubuhnya paling kecil, dapat melakukan manuver secepat kilat memberikan pertolongan tanpa ragu-ragu, seolah menertawakan saya karena berpikir terlalu lama, seolah menelanjangi pikiran saya karena menimbang sesuatu terlalu dalam, hingga moment membantu orang lain terlewat begitu saja... 

Yoseph Beanal murid saya yang tubuhnya paling kecil di kelas, telah mencontohkan arti kasih yang sesungguhnya... 

Demonstrasi kasih yang dilakukan dengan apa adanya, tanpa ragu, tanpa pertimbangan dan tanpa berlama-lama...

Maka genaplah apa yang telah tertulis pada alam, bahwa berbahagialah mereka yang memiliki hati tulus seperti anak kecil karena merekalah yang empunya surga...

Diberkatilah hatimu Yoseph, ketahuilah bahwa kemanapun engkau pergi, orang berbudi luhur sepertimu akan selalu disayangi oleh semesta & segala apapun yang engkau kerjakan pastilah akan selalu berhasil karena kebaikan hatimu!