Sunday, September 21, 2014

Tepat Sasaran & Tepat Guna dalam Memberi


Akhir-akhir ini saya dapat banyak hikmat tentang memberi. Lahir dan besar dari keluarga tentara yang memiliki tingkat jiwa korsa yang tinggi, prinsip tentang memberi sudah terpatri amat dalam sejak saya kecil. Bantuan apapun yang dibutuhkan, insya Allah pasti akan saya berikan, hal-hal yang sekiranya mustahil pun bila itu memberi arti yang besar bagi yang membutuhkan, pasti akan saya usahakan. Namun pada beberapa waktu belakangan ini, saya banyak belajar tentang memberi secara tepat guna dan tepat sasaran. Misalnya saja, apakah memang cokelat dan permen dibutuhkan untuk anak usia sekolah setiap hari? Bukankah lebih baik memberikan susu, keju dan wortel yang kaya vitamin kepada mereka? 

Atau begini saja, akan saya berikan contoh nyata tentang apa yang terjadi dalam kehidupan saya. Katakanlah selama ini saya selalu mengadakan open house dan acara makan-makan besar setiap hari raya di rumah, entah itu Natal , Paskah , atau ulang tahun. Dan karena disini adalah kota kecil, maka ada banyak sekali tamu yang berdatangan, bahkan yang teman dekat hingga orang yang saya tak kenal sekalipun. Pada beberapa kesempatan berikutnya, semua usaha, pesta, kegiatan masak memasak yang saya lakukan ternyata menjadi kesia-siaan belaka karena hal tersebut hanyalah sebuah "acara" tanpa meninggalkan arti yang mendalam seperti: "pesta Natal di rumahnya Nisye" atau "makan-makan ultahnya Heng". Ini jelas seperti Alkitab katakan: seperti membuang mutiara kepada babi. Tidak berguna sama sekali, seekor babi tentu tidak membutuhkan mutiara, melainkan hanya semangkuk makanan bukan? 

Akan sangat jauh berbeda ceritanya bila effort yang saya lakukan ditujukan untuk orang-orang yang memang benar-benar dekat, kepada mereka yang berhadapan setiap hari dengan kita, bekerja bersama kita, yang jatuh-bangun bersama kita, yang mengenal kita luar-dalam. Juga tentunya dilakukan dalam pertemuan dengan jumlah orang yang kecil agar lebih intimate. Pertemuan yang dilakukan dalam jumlah besar terkadang hanya akan berujung pada basa-basi dan kehilangan intimacy. Tidak ada nilai-nilai kesamaan yang akan dibagi secara bersama-sama bila semuanya sibuk dengan omong kosong untuk menghabiskan waktu. 

Selama ini saya telah salah menilai, saya melakukan effort terlalu besar dengan mengutamakan jiwa korsa, kebersamaan dan rasa memberi. Alangkah baiknya bila keinginan saya untuk berbagi dilakukan secara tepat guna dan tepat sasaran kepada orang-orang yang memang patut mendapatkannya. Memberi uang kepada pengangguran memang baik tapi ini bukanlah tindakan yang tepat tetapi memberikannya pekerjaan agar dia bisa terus bertahan hidup merupakan hal yang tepat. 

Memberi dan berbagi itu baik, tetapi apakah kita sudah melakukannya secara tepat?