Saturday, April 19, 2014

Sedikit Cerita Tentang Prabowo, Sang Pembawa Kesejahteraan bagi Prajurit & Cijantung




Sebagai individu yang disekolahkan oleh orang tua dan diberikan pendidikan budi pekerti sejak kecil, adalah baik bila kita menyampaikan pandangan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu dengan bahasa yang sopan dan kritik tersebut juga disertai dengan masukan / saran yang membangun. Pada beberapa waktu belakangan ini, saya membaca / melihat / mendengar banyak kritikan tajam, pedas bahkan cenderung seronok yang ditujukan kepada seorang Capres Gerindra yaitu Prabowo Subianto. Berbagai issue, masalah dan hal negatif ditujukan bertubi-tubi kepada beliau. Saya amat miris dengan banyaknya pemberitaan miring tersebut.

Mengutip tulisan dari Dr. Stephen Covey (penulis buku: The Seven Habits of Highly Effective People), "we simply assume that the way we see things is the way they really are or the way they should be. And our attitudes and behaviors grow out of these assumptions". Ingatlah bahwa apapun yang kita lihat dan kita dengar lewat pemberitaan yang beredar merupakan asumsi, apapun bentuknya, siapapun yang menuliskan, ingatlah bahwa kebenaran hanya milik Tuhan dan tentu saja azas praduga tak bersalah harus tetap kita junjung tinggi, karena seorang hakim yang agung pun dapat berbuat salah dan belum tentu segala macam pemberitaan yang ada mengandung fakta yang sahih dan benar. Bear in mind that, everything we hear is actually assumptions. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru malahan percaya mentah-mentah dengan asumsi. Parahnya lagi, masyarakat kini tidak menggunakan etika sopan santun dalam mengemukakan ketidaksetujuan mereka terhadap sesuatu / sesorang yang tentunya, lagi-lagi berdasar dari asumsi.

Tulisan saya ini tidak bertujuan mengubah pandangan masyarakat tentang siapa Prabowo Subianto, melainkan hanya untuk membagikan sedikit pengalaman tentang siapa Prabowo Subianto bagi warga Cijantung. Sejak kecil, telinga saya sudah akrab dengan nama Prabowo Subianto. Ayah saya yang berprofesi sebagai tentara Kopasandha merupakan anak buah langsung dari Prabowo. Pada operasi Tim-Tim 1983, Tim Nanggala yang dikomandani oleh Prabowo, sebagai tentara, ayah saya ikut didalamnya, pada tahun tersebut pula saya lahir dan surprisingly, walau dalam hutan belantara tengah berperang dan ayah sedang memburu fretilin demi kedaulatan RI, tiba-tiba diperintahkan Prabowo untuk naik helikopter berangkat menuju Cijantung menengok proses persalinan Ibu sekaligus menggendong saya sebagai putri pertama ayah. Tawaran tersebut sangat menggiurkan apalagi bagi tentara non-jawa seperti ayah yang berasal dari Papua, dan notabene pada kesehariannya jauh dari perlakuan istimewa ataupun privileged khusus dari para senior. Dengan pertimbangan profesional dan enggan meninggalkan anak buah di belantara medan Tim-Tim, ayah saya yang saat itu berpangkat Lettu menolak dengan penuh hormat tawaran Prabowo dan memilih untuk tetap menegakkan bendera RI bersama anak buah di medan perang. Ketika mengetahui alasan dari ayah, Prabowo langsung menyodorkan telegram dan perangkat komunikasi kepadanya untuk dapat mendengar kabar dari Ibu dan suara bayinya. Pada kesempatan itulah, Prabowo juga memberikan kado lewat istrinya (Ibu Titiek) berupa seperangkat pakaian bayi dan sebuah kulkas Sharp (yang pada jaman itu tentunya merupakan suatu fancy gift) kepada ibu sebagai tanda kenang-kenangan dari mereka. Kulkas tersebut bahkan masih tersimpan rapih di rumah kami di Cijantung. Pemberian perhatian dan apresiasi bagi ayah dan ibu saya dari Prabowo dan Ibu Titiek merupakan tonggak awal kepercayaan kami kepada kepemimpinan berwawasan nasional Bhineka Tunggal Ika yang dijalankan oleh Prabowo.

Menjadi tentara Papua pertama yang masuk dalam jajaran pasukan khusus merupakan hal yang membanggakan dan sekaligus memerlukan kebesaran hati bagi ayah. Sejak kecil saya melihat banyak perlakuan diskriminatif bagi orang yang berasal dari Indonesia timur. Andai kata saat muda dulu, ayah memiliki mentor yang bisa dijadikan contoh, juga sosok kebapaan yang mampu menaungi dan menyejukkan hati para tentara muda dari Indonesia timur seperti layaknya saudara-saudara lain yang terlebih dulu memiliki mentor dari para abang mereka dari Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang jumlahnya sangat banyak di TNI tentu jalan bagi ayah menuju bintang lebih mudah. Namun ayah selalu berkata: apalah arti kesuksesan mengemban pangkat bintang bila tanpa bersusah dan berpeluh.

Ketika banyak senior ayah di TNI yang justru lebih mementingkan suku, rasa dan golongannya sendiri, ayah dan keluarga kami justru melihat semangat keberagaman dari seorang Prabowo. Beliau tak pernah berhenti merangkul ayah dan rekan-rekan dari Papua dan Indonesia timur lain untuk diberikan prioritas sekolah mulai dari Suslapa hingga Sesko AD bagi prajurit yang berprestasi tanpa mementingkan suku dan asal, ini merupakan hal kontradiktif dalam kepemimpinan di TNI AD. Bukan rahasia lagi bahwa kesempatan sekolah di TNI merupakan gerbang untuk menjadi pucuk pimpinan tertinggi sesuai dengan posisi jabatan yang makin mengerucut seperti segitiga. Bukan rahasia lagi bahwa tentara dengan kondisi fisik paling kuat di TNI kebanyakan justru berasal dari Indonesia timur, aktivitas fisik seperti samapta, lari, berenang, menembak, cross-country dan sejuta kegiatan perang yang dilakukan di alam bebas merupakan hal biasa bagi orang timur.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa praktik kesukuan dan chauvinisme masih berlanjut hingga saat ini menyebar di instansi manapun termasuk di tubuh TNI. Bukan rahasia lagi bahwa sehebat apapun seorang tentara berlaga di medan perang, namun apabila dia tidak memiliki backing/rezim yang kuat untuk menopang, maka karir mulus bak jalan tol adalah sebuah hal yang mustahil. Tetapi hal ini tidak kami lihat dari sosok pemimpin bernama Prabowo. Beliau senantiasa hadir dan memberikan banyak kesejukkan bagi tentara yang nota bene tidak memiliki backing-an orang kuat. Prabowo yang adalah keturunan Jawa ningrat, mampu merangkul dan menjadi bapa bagi rekan-rekan Indonesia Timur. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Prabowo banyak menyekolahkan anak-anak korban perang Tim-Tim yang dia bawa langsung dari Timor ke Jakarta hingga bangku kuliah dan beberapa telah masuk Akabri. Saya juga melihat sendiri bahwa beberapa anak angkat Prabowo berasal dari Kalimantan, Ambon dan Papua. Bahkan ketika saya kecil, saya sering dajak ayah bertandang ke rumah dinas beliau dan melihat bahwa ajudan, caraka, supir, asisten pribadi yang bekerja di rumah Prabowo berasal dari Timor, Papua, Manado juga tentunya dari Jawa. Kepemimpinan dengan azas lintas suku seperti ini merupakan hal yang sulit dicari saat ini.

Tidak hanya itu, ayah yang ketika itu masih berpangkat Letkol dan terlalu sibuk bertugas menangani masalah Logitik Mabes Kopassus mengalami kesulitan dalam meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi di Sesko AD, tak segan-segan Prabowo memberikan surat rekomendasi kepada Komandan Sesko dan Panglima ABRI yang ketika itu dijabat oleh Jenderal Wiranto. Luar biasa, surat rekomendasi tersebut merupakan awal dari proses ayah saya menjadi prajurit Papua pertama di TNI AD yang berpangkat Brigjen. Surat rekomendasi dari Prabowo merupakan momentum berharga, tidak hanya bagi keluarga kami, namun juga bagi sejarah kepemimpinan TNI AD bahwa negara ini juga selalu berupaya untuk merangkul Indonesia Timur kedalam peta Bhineka Tunggal Ika. Alangkah indahnya bila pemimpin di Indonesia memiliki hati non-blok seperti Prabowo yang fair dalam menilai tanpa melihat embel-embel suku, rasa dan agama dari anak buahnya namun melandaskan penilaian kepada kemampuan sang sub-ordinate. Pada era kepemimpinanya, Prabowo mampu menghilangkan prasangka dan chauvinisme hingga sukses menerapkan Bhineka Tunggal Ika setidaknya di tubuh Kopassus.

Memasuki tahun 1996, Prabowo dilantik menjadi Danjen Kopassus dan berkantor di Mabes Kopassus yaitu di Cijantung. Kala itu saya masih duduk di bangku SMP. CIjantung bagi sebagian orang hanyalah Kelurahan kecil yang penuh dengan tentara memakai baret merah. Belum terdapat sentra ekonomi dan perdagangan yang baik. Akses jalan sering berlubang dan cenderung sepi. Belum ada tempat nongkrong yang layak bagi tentara Kopassus dan keluarganya, apalagi tempat meeting yang memiliki fasilitas memadai seperti proyektor atau ruangan ber-AC. Satu-satunya tempat makan yang lumayan bersih dan memiliki kipas angin hanyalah RM Bu Moer di Jalan Kesehatan, itupun berdiri sejak tahun 80an. Cijantung belum seramai sekarang, Cijantung pada medio 90an masih dkatakan kampung, padahal di keluarahan tersebut, berdiri sebuah markas besar pasukan elit Indonesia.

Berangkat dari itu, sepertinya jiwa sosial Prabowo terketuk. Lewat Kobame (Koperasi Baret Merah, milik Kopassus), Prabowo dengan jaringan wirausaha yang dimilikinya (ingat, adik dari Prabowo: Hasyim merupakan pengusaha sukses di Indonesia, dan Prabowo merupakan putera dari begawan ekonomi Indoesia) yang tentunya memiliki network permodalan yang luas dan strategi ekonomi yang berbasis kerakyatan, membangun Graha Cijantung (saat ini dinamakan Mal CIjantung) yang memiliki 5 lantai sebagai pusat perbelanjaan, dolanan kuliner dan hiburan bagi tentara dan masyarakat Cijantung. Prabowo sengaja memilih tenant yang menjual barang tidak terlalu mahal agar tentara dan masyarakat turut dapat menikmati geliat perkembangan ekonomi. Asal tau saja, dulu sebelum Graha Cijantung dibangun, kami harus jauh-jauh naik turun angkot ke Pasar Minggu atau ke Kramat Jati Indah untuk sekedar membeli kebutuhan sehari-hari terutama berupa sandang yaitu baju Natal/Lebaran dan pangan yaitu kebutuhan kuliner: makan bersama keluarga. Kehadiran Graha Cijantung praktis membuat tentara dan masyarakat tak perlu membuang ongkos terlalu banyak untuk menikmati kemewahan sebuah Mal. Pembangunan sentra ekonomi ini juga membuat remaja seperti saya mendapat akses yang mudah untuk memiliki quality time bersama ayah, menghabiskan akhir pekan dengan menonton bioskop atau sekedar makan di resto cepat saji bersamanya yang selalu sibuk dengan urusan negara, semua ini tak perlu jauh-jauh, hanya berjarak selemparan batu dari kompleks perumahan tentara. Selain itu, Prabowo juga memberikan opsi kredit bagi tentara yang hendak membeli unit di Graha Cijantung yang entah untuk disewakan kembali atau untuk dibuat menjadi tempat usaha. Pekerja di Mal CIjantung juga merupakan warga Cijantung, entah pemuda yang setempat yang sedang nganggur atau juga janda yang suaminya telah gugur atau pensiunan prajurit yang masih ingin berkarya. Perlu diketahui bahwa segala macam pengelolaan dari Graha Cijantung sepenuhnya dikerjakan oleh Kobame. Sehingga segala keuntungan yang didapat pun praktis menjadi keuntungan anggota koperasi Kobame yaitu para tentara Kopassus lewat sistem bagi hasil. Prinsip Berdikari telah dilakukan Prabowo bahkan sejak dulu kala, tak heran bila Gerindra mengusung prinsip ini.

Atas terobosan seperti itu, Prabowo tidak hanya membuktikan kepemimpinan kerakyatan yang dimilikinya namun juga hatinya yang haus untuk menjadi berkat dimanapun dia ditempatkan. Setidaknya, selama 1996-1998 kepemimpinannya sebagai Danjen Kopassus memberikan banyak manfaat bagi Cijantung dan legacy yang ditinggalkan masih ada hingga hari ini. Pada skala kecil, saya ingat bahwa dulu prajurit dengan pangkat menengah kebawah amatlah susah untuk mendapatkan kredit kepemilikan kendaraan dari Bank, pada masa kepemimpinannya, Prabowo memberikan fasilitas potong gaji tanpa bunga untuk prajurit yang berminat membeli sedan Timor. Terobosan ini seingat saya merupakan kolaborasi pertama antara institusi elit pasukan khusus Indonesia dengan swasta yang memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan prajurit dan keluarganya.

 Saya bisa menuliskan banyak contoh lain tentang keberadaan Prabowo bagi prajuritnya, bagi warga Cijantung dan sebagainya, tetapi semoga kisah diatas membuka sedikit cakrawala kita bahwa Prabowo juga terbukti memiliki hati untuk menjadi berkat. Legacy yang ditinggalkan, masih terpampang nyata di Cijantung dan di hati masing-masing prajuritnya. Menganai berita yang beredar di masyarakat tentang pelanggaran HAM, atau tentang kepergianya ke Jordania untuk menenangkan diri, ingatlah selalu bahwa setiap orang memiliki alasan dan pertimbangan sendiri untuk keputusan yang diambilnya. Ingat juga bahwa penghakiman hanyalah milik Tuhan, tak seorang pun di dunia ini benar adanya. Saya menulis ini untuk memberitakan hal yang mungkin hanya segelintir orang saja yang mengetahui siapa seorang Prabowo sebenarnya. Hanya sedikit orang yang mengerti buah tangan dan sepak terjang dari sosok Prabowo. Ini merupakan pengalaman pribadi terhadap tokoh yang dekat bagi keluarga saya. Seringkali, kita hanya menilai sesuatu dari pemberitaan yang sifatnya hanya asumsi. Terkadang kita juga mengambil keputusan pro dan kontra karena kurang memiliki informasi yang akurat. Pemberitaan yang beredar akhirnya berhasil membentuk opini tertentu pada diri kita yang terkadang hanya berasal dari satu arah saja. Seringkali pemberitaan dan informasi yang kita dapatkan: kurang bahkan tidak berimbang sama sekali sehingga kedua kaki kita mudah goyah terombang-ambing issue dan asumsi.

Ketika melihat pemberitaan tentang Prabowo dan pelanggaran HAM karena profesinya sebagai tentara. Saya tak serta merta dapat menghakimi beliau. Ibaratnya, saya sebagai anak tentara yang disekolahkan oleh ayah dengan air mata dan darah bagaikan sedang menunjuk hidung orang tua dan menyalahkan pekerjaanya yang justru telah membuat saya hidup berguna bagi masyarakat. Ayah saya juga berperang di Tim-Tim dan mungkin saja bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan paling kejam yang ada dunia. Namun ketahuilah bahwa setiap prajurit hanyalah pelaksana instruksi belaka, Ia mengemban misi negara yang luar biasa penting, mengibarkan sang saka merah putih di tiap nafasnya, memegang teguh janjinya untuk patuh dan tunduk pada insititusi militer tempatnya bernaung dan bersatu untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Mampukah saya menatap matanya untuk mengatakan bahwa dia bersalah karena pelanggaran HAM? Dia ayah saya, yang menyekolahkan saya dan adik dengan air mata dan darah, yang tidak mungkin berkata "tidak" bagi setiap perintah dari atasannya. Sekalipun dia bersalah, biarlah Tuhan yang mengetahui sekaligus mengampuninya...

Saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mengenal lebih jauh tentang Prabowo lewat tulisan ini. Entah kalian akan tetap membenci atau mendukungnya, saya tidak akan membahas lebih lanjut, saya hanya ingin mengingatkan kembali bahwa penghakiman adalah hak Tuhan, kebenaran di dunia ini hanyalah milik Tuhan, bahwa pro dan kontra, kritik dan saran kiranya dapat kita komunikasikan dengan santun, bila perlu disertai dengan saran yang membangun...

Toh katanya, Indonesia adalah bangsa yang berbudaya?