Wednesday, February 26, 2014

Kestabilan Menjaga Emosi


Jaman sekarang ini, semua orang rata-rata memiliki beberapa media sosial dalam ponsel mereka, ini artinya, tiap individu memiliki akses untuk mengkomunikasikan apapun perasaan, pikiran dan keinginan hati lewat genggaman tangan. Cukup mengetik dengan jari jemari perihal curhatan goresan hati, lalu tekan tombol 'upload' maka selesai sudah pekerjaan ungkapan perasaan. 

Saya tidak keberatan bila banyak dari antara teman-teman sekalian yang memilih media sosial sebagai tempat menyalurkan emosi negatif atau positif, namun bila boleh berbagi, saya ingin menekankan satu hal: jagalah privacy diri masing-masing, buatlah diri kita berharga  dengan pemilihan kata yang bijak. 

Bila orang melihat FB/TW/Path/IG kita hanya berisi kata-kata sampah, pembicaraan negatif & uneg-uneg gak penting, kita perlu merevisi bagaimana 'keberhargaan diri' kita sejauh ini. Tidak masalah bila sesekali kita menulis emosi hati, atau sesekali prihatin dengan kejadian sekitar, tapi alangkah baiknya bila kesedihan, kesusahan, kemalangan, kesialan, penyesalan, ataupun keprihatinan kita diuntai dengan kata-kaya yang sopan. Kenapa? Karena people judge. It might sounds weird but they Do judge us. From the way we talk, from the way we behave and even from how we interact with social media... So becareful... Be really careful... Social media cud be such a fun place yet a horrible crime scene at the same time... 

--- 

Saya tidak pernah keberatan ataupun nge-judge dengan semua isi status yang ada, status menangis, status memaki, status marah2 atau status terbrengsek sekalipun... Lha wong itu urusan sampeyan kok, tapi sebagai teman, saya hanya ingin mengingatkan, media social adalah tempat umum, semua mata memandang kita, alangkah baiknya bila manusia itu menjaga harkat & martabat diri sendiri beserta keluarga... 

----

Karena kehormatan diatas segalanya....