Wednesday, October 23, 2013

Saya


Heng tau bahwa di dalam diri saya ini ada jiwa pemberontak, a rebelious mind yang tak akan pernah mengenal kata berhenti. Heng tau bahwa I am a free spirit, tak pernah merasa tua. Heng tau bahwa saya bukan tipe wanita pekerja kantoran yang bisa bekerja dengan tenang tanpa emosi dibalik meja. 

Sejak pertama bertemu, Heng sudah tau bahwa saya akan memilih untuk menjadi jiwa yang bebas tanpa aturan. Tanpa tekanan. Saya mungkin akan menjadi orang yang lebih menyenangkan ketika menari di atas panggung, menjelaskan arti outdoor-spot saat liburan atau tersenyum berseri-seri saat bersolek dan mengenakan gaun pesta. 

Heng juga tau, saya ingin hidup seperti binatang, living like an Animal, running wild and free. Seperti binatang yang hidup tanpa mengenal norma dan dogma, namun tetap bahagia karena dipelihara oleh Tuhannya. 

Heng tau, saya suka menulis dan tak ingin dibatasi oleh apapun, sehingga dia membiarkan imajinasi dan hasrat yang ada di kepala saya mengalir apa adanya... Heng tau saya suka bernyanyi keras-keras dengan lirik lagu asing atau musik yang tak pernah didengarkan telinganya, tapi dibiarkannya saya begitu...

Heng tau, saya senang melakukan hal-hal diluar dari mainstream. Memarahi orang yang kerja asal-asalan di depan umum tanpa rasa ragu. Menegur petugas yg salah melihat priority nama di heliops check-in dengan suara lantang. Menyukai extreme-sport sampe betis robek & secara drastis kehilangan berat badan belasan kilogram. Melakukan Anti-Gravity Yoga sampe badan bengkok ketika teman-teman lain bahkan tak mengerti apa itu Yoga. Atau juga berpose fantastis bak Marilyn Monroe demi hasil foto liburan yang menyenangkan.

Heng tau, saya senang memakai lipstik merah dan baju berwarna cerah, suatu kebalikan dari selera ibu-ibu normal lainnya... Toh, dibiarkannya saya memakai semuanya itu walau mungkin menyisakan gundah dihatinya karna mungkin kelihatannya saya seperti biduan dangdut... 

Dan dengan semua hal aneh dan gila dan juga liar yang ada dalam diri ini, patutlah saya mengucap syukur karena Tuhan selalu memberikan hati pria itu untuk saya... 

Dan bahwa dengan semua argumentasi juga kesabarannya, hidup saya tak akan pernah lengkap tanpa sosok kehadirannya... 

Dan bahwa walaupun saya segila ini, dia dan saya tak pernah terpisahkan... 

Tak terpisahkan...