Thursday, October 24, 2013

Kencan Semalam


Sungguh memprihatinkan. Sekitar 9 dari 10 orang yang pernah saya
tanyakan perihal tujuan mereka datang ke Tembagapura. Jawaban
kebanyakan yang saya dapat hanya satu: "Untuk cari duit". Saya tidak
akan mempermasalahkan keinginan tersebut, karena saya pun demikian.
Saya datang kesini juga dengan dasar untuk memenuhi kebutuhan dasar:
sandang, pangan dan papan. Namun, setelah hampir 4 tahun bermukim dan
bekerja disini, makin lama saya merasa makin kasihan dengan kota ini.

Ada ribuan orang datang kesini, semakin hari saya semakin melihat
ketamakan. Orang dengan hati tamak. Mereka tak lagi kemari untuk
memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) namun dengan
keinginan untuk memiliki "kelebihan" dan "kelebihan". Gaji 2 digit
sekarang tak lagi membuat orang merasa cukup. Setiap minggu bisa makan
daging babi (selain ikan), bukan lagi merupakan kemewahan. Sudah punya
beberapa HP bahkan seri mewah berjenis Blackberry & Iphone juga masih
kurang. Punya satu atau dua rumah untuk berteduh, tidak lagi cukup.

Bila diibaratkan dengan hubungan percintaan, Tembagapura ini seperti
wanita. Sang pria datang kepadanya, kapan saja ia mau, dalam kondisi
apapun dan tentu saja bisa dengan sesuka-hati melampiaskan hawa
nafsunya. Tembagapura dieksploitasi secara membabi-buta. Siapa saja
dapat datang kemari mengadu nasib dan peruntungan. Tenaga kerja
terampil hingga tuna aksara dapat datang menimba ilmu, mendapatkan
nama & jati diri, menjadi pintar dan berpengalaman, lalu dapat kapan
saja meninggalkan tempat ini setelah meraih kepuasan.

Lebih parah lagi, ada banyak orang yang tak puas dengan hanya menimba
pengalaman, setelah memiliki nama dari keahliannya, banyak orang
bekerja dengan asal-asalan, magabut-an (makan gaji buta), datang
pagi-pagi ke kantor dan menghabiskan waktu tanpa melakukan hal
produktif apapun lalu pulang begitu saja tanpa merasa bersalah. Hal
ini belum seberapa dengan maraknya sistem pencurian yang terjadi
disana-sini, dari berbagai level. Tissue atok yang seyogyanya berada
di workshop guna membersihkan alat berat dari tumpahan oli kini
beralih fungsi dan bisa kita dapati dengan mudah di dapur para ibu.
Menurut mereka, tissue atok bisa dijadikan pembersih tumpahan minyak
goreng sekaligus napkin... Yassaaalammm.... Belum lagi masalah sosis & keju import milik perusahaan catering yang bisa kita dapati di kantor,
entah bagaimana caranya bisa berpindah tangan. Atau juga penjualan
kabel & besi tua yang tak kunjung selesai. Atau yang tak kalah
populer: penambang liar dipinggiran area tambang. Dan jangan kaget, di
kota kecil ini, barang apa saja bisa dicuri dengan mudah, apa saja.
Mulai dari alat perbaikan mesin, alat pertukangan hingga karpet! Entah
apakah sanksi kurang tegas, atau sistem pergaulan yang terlalu
kencang, bisa juga karena kesadaran manusia sebagai mahluk bermoral
yang sangat minim.

Prihatin... Prihatin...

Dan sampailah saya pada satu hari di pertengahan tahun. Di hari itu,
saya mendapat pencerahan. Sebuah pertanyaan tak pernah berhenti
memenuhi kepala dan relung hati, bahkan ketika pertama kali saya
menjejakan kaki di tempat ini. Pertanyaan ini selalu mengetuk
sanubari, berkembang kian hari. Sederhana namun selalu menghantui...

"Kapan kiranya waktu menghampiri saya untuk akhirnya menggunakan ilmu
& kepakaran yang saya miliki untuk menjadi berguna bagi sesama?"

Pencerahan itu datang dalam bentuk pertanyaan yang terus mendera. Saya
telah mengelabui hati saya kian lama. Kini saya tak lagi punya alasan.
Hanya ada saya dan luapan cinta tak terkatakan untuk kota ini. Saya
teramat mencintai kota ini karena tanahnya telah lebih dulu memberkati
hidup saya dan keluarga. Saya juga teramat prihatin dengan pola
hubungan yang terjadi didalamnya. Interaksi antara manusia dan alam
yang tamak. Interaksi hubungan sesama manusia yang terlalu
mengutamakan kepentingan. Keinginan manusia yang selalu mencoba untuk
menjadi "lebih" dan "lebih". Saya tak ingin seperti itu. Tamak, rakus
dan serakah tak pernah mendatangkan kesejahteraan. Manusia tak akan
pernah merasa cukup.

Maka tahun ini, saya telah memutuskan rantai dosa itu. Saya tak ingin
hubungan ini hanya seperti kencan semalam. Saya telah memutuskan untuk
mencintai kota ini dengan sepenuh hati. Menggunakan keilmuan dan
kepakaran yang saya miliki untuk saudara-saudara kecil di sebuah
asrama. Membantu mereka mengenal huruf dan angka. Menyediakan banyak
waktu untuk lebih berarti. Mengejewantahkan apa itu cinta.
Mengedepankan pelayanan daripada retorika.

Saya tak lagi ingin "lebih dan lebih". Saya belajar bahwa kata cukup
adalah tentang kordinasi hati dan otak. Saya belajar bahwa mengucap
syukur adalah hal yang paling indah. Saya belajar bahwa berbagi
ternyata memberikan side-effect berupa kepuasan bathin.

Sebuah kepuasan bathin yang tak ternilai harganya...