Thursday, October 31, 2013

Swimming


Do one thing that scares you! 
itu ide gue sejak pertama kali resign. Gue pingin banget bisa menikmati hidup bersama dengan Heng tanpa rasa takut ini dan itu. Maklumlah, sebagai anak tentara, selama ini hidup selalu banyak aturan, norma & dogma... Walaupun sebenernya gue juga ga keberatan dengan cara hidup demikian karna toh selama ini fine fine ajah :)

Maka, inilah Nisye yg baru yg punya sejuta list untuk dilakukan! Dan minggu ini gue udah melakukannya... Salah satunya adalah... Gue berenang! Yup... Berenang bebe, berenang! Selama ini gue selalu merasa terpenjara dengan pekerjaan dan rutinitas jadi parno takut sakit flu dan batuk. Gue takut banget nyentuh kolam renang karena terakhir berenang gue malah sakit flu selama 2 bulan! Anjeeeng gak toeh? Qiqiiqqiqi :) Gimana gue gak kapok cyinnn...

Tetapi oh tetapi kali ini gue berenang dengan persiapan matang: handuk super tebal 2 biji - utk badan dan utk rambut. Teh panas yang tersedia dalam termos alumunium. Buah dan cemilan. Juga jaket! Also another thing : ga bole renang lebih dari 1.5jam cyinnn ini TEMBAGAPURA bebe, dingin beb dingin ....

Dan karena skarang gue udah ga keja jadi gue ga perlu takut sakit, ga perlu takut utk ketinggalan buat report dsb dan gue bisa berenang dengan santai cyinnn...

Alhamdulilah berhasil tuh! Renang tanpa bersin dan flu... Malah besok paginya bangun langsung lari subuh. Wonderwoman banget gak seh istrinya Heng ini wkwkwkwkwk :)



So You Lovelies out there:

Do one thing that scares you!!!!







Thursday, October 24, 2013

Kencan Semalam


Sungguh memprihatinkan. Sekitar 9 dari 10 orang yang pernah saya
tanyakan perihal tujuan mereka datang ke Tembagapura. Jawaban
kebanyakan yang saya dapat hanya satu: "Untuk cari duit". Saya tidak
akan mempermasalahkan keinginan tersebut, karena saya pun demikian.
Saya datang kesini juga dengan dasar untuk memenuhi kebutuhan dasar:
sandang, pangan dan papan. Namun, setelah hampir 4 tahun bermukim dan
bekerja disini, makin lama saya merasa makin kasihan dengan kota ini.

Ada ribuan orang datang kesini, semakin hari saya semakin melihat
ketamakan. Orang dengan hati tamak. Mereka tak lagi kemari untuk
memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) namun dengan
keinginan untuk memiliki "kelebihan" dan "kelebihan". Gaji 2 digit
sekarang tak lagi membuat orang merasa cukup. Setiap minggu bisa makan
daging babi (selain ikan), bukan lagi merupakan kemewahan. Sudah punya
beberapa HP bahkan seri mewah berjenis Blackberry & Iphone juga masih
kurang. Punya satu atau dua rumah untuk berteduh, tidak lagi cukup.

Bila diibaratkan dengan hubungan percintaan, Tembagapura ini seperti
wanita. Sang pria datang kepadanya, kapan saja ia mau, dalam kondisi
apapun dan tentu saja bisa dengan sesuka-hati melampiaskan hawa
nafsunya. Tembagapura dieksploitasi secara membabi-buta. Siapa saja
dapat datang kemari mengadu nasib dan peruntungan. Tenaga kerja
terampil hingga tuna aksara dapat datang menimba ilmu, mendapatkan
nama & jati diri, menjadi pintar dan berpengalaman, lalu dapat kapan
saja meninggalkan tempat ini setelah meraih kepuasan.

Lebih parah lagi, ada banyak orang yang tak puas dengan hanya menimba
pengalaman, setelah memiliki nama dari keahliannya, banyak orang
bekerja dengan asal-asalan, magabut-an (makan gaji buta), datang
pagi-pagi ke kantor dan menghabiskan waktu tanpa melakukan hal
produktif apapun lalu pulang begitu saja tanpa merasa bersalah. Hal
ini belum seberapa dengan maraknya sistem pencurian yang terjadi
disana-sini, dari berbagai level. Tissue atok yang seyogyanya berada
di workshop guna membersihkan alat berat dari tumpahan oli kini
beralih fungsi dan bisa kita dapati dengan mudah di dapur para ibu.
Menurut mereka, tissue atok bisa dijadikan pembersih tumpahan minyak
goreng sekaligus napkin... Yassaaalammm.... Belum lagi masalah sosis & keju import milik perusahaan catering yang bisa kita dapati di kantor,
entah bagaimana caranya bisa berpindah tangan. Atau juga penjualan
kabel & besi tua yang tak kunjung selesai. Atau yang tak kalah
populer: penambang liar dipinggiran area tambang. Dan jangan kaget, di
kota kecil ini, barang apa saja bisa dicuri dengan mudah, apa saja.
Mulai dari alat perbaikan mesin, alat pertukangan hingga karpet! Entah
apakah sanksi kurang tegas, atau sistem pergaulan yang terlalu
kencang, bisa juga karena kesadaran manusia sebagai mahluk bermoral
yang sangat minim.

Prihatin... Prihatin...

Dan sampailah saya pada satu hari di pertengahan tahun. Di hari itu,
saya mendapat pencerahan. Sebuah pertanyaan tak pernah berhenti
memenuhi kepala dan relung hati, bahkan ketika pertama kali saya
menjejakan kaki di tempat ini. Pertanyaan ini selalu mengetuk
sanubari, berkembang kian hari. Sederhana namun selalu menghantui...

"Kapan kiranya waktu menghampiri saya untuk akhirnya menggunakan ilmu
& kepakaran yang saya miliki untuk menjadi berguna bagi sesama?"

Pencerahan itu datang dalam bentuk pertanyaan yang terus mendera. Saya
telah mengelabui hati saya kian lama. Kini saya tak lagi punya alasan.
Hanya ada saya dan luapan cinta tak terkatakan untuk kota ini. Saya
teramat mencintai kota ini karena tanahnya telah lebih dulu memberkati
hidup saya dan keluarga. Saya juga teramat prihatin dengan pola
hubungan yang terjadi didalamnya. Interaksi antara manusia dan alam
yang tamak. Interaksi hubungan sesama manusia yang terlalu
mengutamakan kepentingan. Keinginan manusia yang selalu mencoba untuk
menjadi "lebih" dan "lebih". Saya tak ingin seperti itu. Tamak, rakus
dan serakah tak pernah mendatangkan kesejahteraan. Manusia tak akan
pernah merasa cukup.

Maka tahun ini, saya telah memutuskan rantai dosa itu. Saya tak ingin
hubungan ini hanya seperti kencan semalam. Saya telah memutuskan untuk
mencintai kota ini dengan sepenuh hati. Menggunakan keilmuan dan
kepakaran yang saya miliki untuk saudara-saudara kecil di sebuah
asrama. Membantu mereka mengenal huruf dan angka. Menyediakan banyak
waktu untuk lebih berarti. Mengejewantahkan apa itu cinta.
Mengedepankan pelayanan daripada retorika.

Saya tak lagi ingin "lebih dan lebih". Saya belajar bahwa kata cukup
adalah tentang kordinasi hati dan otak. Saya belajar bahwa mengucap
syukur adalah hal yang paling indah. Saya belajar bahwa berbagi
ternyata memberikan side-effect berupa kepuasan bathin.

Sebuah kepuasan bathin yang tak ternilai harganya...


Wednesday, October 23, 2013

Saya


Heng tau bahwa di dalam diri saya ini ada jiwa pemberontak, a rebelious mind yang tak akan pernah mengenal kata berhenti. Heng tau bahwa I am a free spirit, tak pernah merasa tua. Heng tau bahwa saya bukan tipe wanita pekerja kantoran yang bisa bekerja dengan tenang tanpa emosi dibalik meja. 

Sejak pertama bertemu, Heng sudah tau bahwa saya akan memilih untuk menjadi jiwa yang bebas tanpa aturan. Tanpa tekanan. Saya mungkin akan menjadi orang yang lebih menyenangkan ketika menari di atas panggung, menjelaskan arti outdoor-spot saat liburan atau tersenyum berseri-seri saat bersolek dan mengenakan gaun pesta. 

Heng juga tau, saya ingin hidup seperti binatang, living like an Animal, running wild and free. Seperti binatang yang hidup tanpa mengenal norma dan dogma, namun tetap bahagia karena dipelihara oleh Tuhannya. 

Heng tau, saya suka menulis dan tak ingin dibatasi oleh apapun, sehingga dia membiarkan imajinasi dan hasrat yang ada di kepala saya mengalir apa adanya... Heng tau saya suka bernyanyi keras-keras dengan lirik lagu asing atau musik yang tak pernah didengarkan telinganya, tapi dibiarkannya saya begitu...

Heng tau, saya senang melakukan hal-hal diluar dari mainstream. Memarahi orang yang kerja asal-asalan di depan umum tanpa rasa ragu. Menegur petugas yg salah melihat priority nama di heliops check-in dengan suara lantang. Menyukai extreme-sport sampe betis robek & secara drastis kehilangan berat badan belasan kilogram. Melakukan Anti-Gravity Yoga sampe badan bengkok ketika teman-teman lain bahkan tak mengerti apa itu Yoga. Atau juga berpose fantastis bak Marilyn Monroe demi hasil foto liburan yang menyenangkan.

Heng tau, saya senang memakai lipstik merah dan baju berwarna cerah, suatu kebalikan dari selera ibu-ibu normal lainnya... Toh, dibiarkannya saya memakai semuanya itu walau mungkin menyisakan gundah dihatinya karna mungkin kelihatannya saya seperti biduan dangdut... 

Dan dengan semua hal aneh dan gila dan juga liar yang ada dalam diri ini, patutlah saya mengucap syukur karena Tuhan selalu memberikan hati pria itu untuk saya... 

Dan bahwa dengan semua argumentasi juga kesabarannya, hidup saya tak akan pernah lengkap tanpa sosok kehadirannya... 

Dan bahwa walaupun saya segila ini, dia dan saya tak pernah terpisahkan... 

Tak terpisahkan...


Wednesday, October 9, 2013

Brigjen TNI Nico Obadja Woru


Satya Lencana Seroja.
Tanda jasa penghargaan operasi Timor-Timur mempertahankan NKRI 1980-1987. 

Nyawanya ada 7. Masa mudanya dihabiskan untuk mengabdi. Tiap tahun bertempur selalu dijaga oleh Tuhannya. Peluru fretilin tidak pernah melukainya. Angin badai tidak akan menghancurkannya...

Maka setiap kali aku merindukannya, hanya percaya bahwa sekalipun jauh, Tuhan tetap menyertainya...