Wednesday, November 14, 2012

This November....

Ooo my God...
Here comes my november...

Saya merasa akhir-akhir ini waktu bergulir teramat cepat, sepertinya baru kemarin saya menuliskan refleksi ulang tahun di blog ini, ternyata sudah setahun berlalu...
Terus terang, saya tidak mengharapkan target apapun atau hadiah apa-apa untuk ulang tahun kali ini. Alhamdulilah, semua kebahagian dunia telah saya dapatkan. Saya beryukur, semua hal yang diinginkan oleh seorang perempuan telah saya miliki. Tuhan begitu baik telah memberikan banyak kelimpahan bagi saya dan keluarga.

Tetapi tahun ini saya mendapatkan sesuatu yang special dari Tuhan. Sesuatu yang benar-benar melegakan dahaga. Tidak ada yang lebih indah selain diberikan hidayah dari Sang Pencipta. Tahun ini, saya mendapat hidayah dari Tuhan untuk kembali bergereja. Setelah 3 tahun mangkir dari Rumah Tuhan tanpa alasan yang signifikan, akhirnya tahun ini saya kembali beribadah. Entah mengapa, sejak kembali dari Phoenix, saya kehilangan gairah untuk datang ke gereja. Saya selalu merasa tidak nyaman, selalu ada saja alasan untuk menghindar akibat dari ketidaknyamanan tersebut. Entah mengapa, saya selalu diliputi dengan perasaan kontradiksi yang luar biasa. Saya kurang cocok dengan gaya pembawaan beberapa pendeta bila diatas mimbar ngobrol ngalor ngidul tanpa dasar Alkitab yang jelas. Saya kurang nyaman bila khotbah tersebut isinya melebar kemana-mana hingga inti sari dan pembelajarannya menjadi kabur. Saya kurang nyaman bila bergereja lalu tidak begitu mengenal akar dan latar belakang teologis dari pendeta yang sedang berbicara di mimbar. Saya rindu mendapatkan tuntunan dari pendeta yang terbentuk dari pengalaman hidup dan background teologia yang kuat. Saya kurang setuju dengan style beberapa pendeta yang "nge-judge" gaya hidup jemaat atau nyindir-nyindir gak karuan tanpa mengerti psikologi masing-masing individu. Saya kurang akur dengan beberapa gaya hidup majelis yang katanya pembantu jemaat tapi bertingkah-laku diluar dari etika dan dogma.

Pengalaman saya tentang kekristenan pertama kali terbentuk dan terasah dengan tajam ketika hidup di Phoenix. Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga selama hidup di negeri orang, saya diajarkan untuk hanya mengandalkan Tuhan dan tidak berharap kepada siapa-siapa melainkan kepada Tuhan. Saya beruntung diberikan waktu untuk belajar mengenal tentang Tuhan lebih dalam. Di Phoenix, saya dan Heng tak pernah absen bergereja. Sebelum bergereja, ada kelas pendalaman Alkitab yang kami ikuti. Kelas Alkitab ini diadakan pada hari minggu selama 2 jam. Sungguh indah suasana persekutuan jemaat karena seusai belajar di kelas, jemaat langsung beribadah bersama, melakukan perjamuan kudus, dan makan siang :-)

Namun lain Arizona, lain juga Indonesia :-) Sekembalinya dari Phoenix, saya sangat kehilangan masa-masa indah itu. Saya merasa malas beradaptasi dengan lingkungan baru. Hanya bila di Jakarta saja, saya bergereja, selebihnya tidak. Berulang kali Heng mengajak tapi saya selalu menolak. Berulang kali Olyne - sahabat saya menasehati untuk bergereja namun selalu saya tolak. Beberapa teman kantor membujuk saya untuk bergereja dan ujungnya selalu tidak membuahkan hasil.

Pandangan saya kala itu adalah: "bergereja atau tidak: sepenuhnya merupakan urusan saya sama Tuhan, lha wong yang dosa itu saya kok sampean maksa-maksa sih..." hehehehe. Saya juga berpendapat bahwa gereja bukan berbentuk bangunan dan Tuhan adalah maha kuasa, Dia tidak hanya ada di GKI atau di GPDI tapi ada di rumah saya, ada di tempat tidur saya, Dia juga ada di mobil saya, Dia ada dimanapun saya berada, jadi jangan paksa saya untuk bertemu Dia di gereja karena saya dapat menghampiriNya kapan saja saya mau...

Selama 3 tahun saya menutup diri dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja. Saya tidak menentang adanya gereja, saya juga tidak membenci persekutuan gereja, hanya saja saya kehilangan gairah untuk bergereja. Kadang rasa bersalah muncul dalam hati, sebagai kompensasinya, saya tak pernah alpa dalam memberikan perpuluhan. Kompensasi lain, saya sering meberikan beberapa sumbangan bagi teman atau gereja atau organisasi nirlaba yang sedang membutuhkan. Lagi-lagi saya berpandangan: walaupun gak gerejaan tapi persembahan lancar...

Saya tau hal itu tidak benar tapi saya juga tidak berdaya untuk menolak ketidaknyamanan tersebut sehingga saya makin tenggelam didalamnya, terlarut dalam keengganan itu hingga makin jauh dari gereja. Walau sebenarnya, saya tetap menjaga hati saya untuk selalu putih dan tulus dalam menjalani kehidupan. Walau bila boleh jujur, terus terang saja pada keseharian kami, saya selalu merindukan saat-saat indah untuk kembali bergereja.

Dan akhirnya, tibalah saya pada pertengahan 2012. Hidayah itu akhirnya datang menghampiri saya. Entah darimana datangnya, tapi keinginan itu muncul begitu saja secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Seperti ada gejolak yang tiada tara datang ke dalam diri saya. Keinginan itu seperti ketukan yang lembut, yang datangnya dari dalam relung hati. Entah mendapat hikmah atau pencerahan namun saya selalu berbahagia bila hari minggu datang, hati ini tak perlu disuruh pun sudah bersiap untuk pergi ke rumah Tuhan dan menghampiriNya dengan suka cita! Seperti ingin terus dan terus. Lagi dan lagi. Tak mau berhenti. Seperti musafir yang haus dan dahaga. Saya melahap Alkitab dan FirmanNya secara sungguh-sungguh. Seperti seorang yang tengah kelaparan, saya memakan semua penjelasan khotbah demi khotbah. Lagu-lagu kidung yang dinaikan kepadaNya saya nyanyikan dengan penuh rasa hormat. Doa-doa yang saya panjatkan, selalu dengan khusuk dan khidmat.

Tahun ini, hidayah bergereja datang kepada saya. Menghampiri diri saya yang berdosa ini dengan indah dan syahdu. Ini merupakan hadiah terindah bagi saya: persekutuan dengan Tuhan yang telah menciptakan saya. Kembali kepadaNya. Tak ada yang lebih menyenangkan selain bertemu denganNya di hari minggu pagi...

Saya tidak lagi memanjatkan doa-doa yang isinya materi dan obsesi duniawi. Bagi saya, doa-doa seperti itu hanya membuang waktu. Saya tidak anti dengan teologi kemakmuran tapi percayalah, Tuhan yang maha kuasa sudah sedari dulu bahkan sebelum kita lahir, ketika kita masih jabang bayi pun Dia sudah memberkati kita. Berkat materi tidak pernah mendatangkan kebahagiaan bila hati kita jauh dari ucapan syukur. Yang terpenting adalah doa yang tak pernah putus tentang ucapan syukur dan hati yang selalu ingin bergaul karib dengan Tuhannya. Biarlah hati saya senantiasa seperti itu...

Saya tidak lagi mementingkan apakah Pak Pendeta berkata sesuatu yang Alkitabiah atau tidak karena bila tidak pun, biarlah hal itu menjadi urusan Pak Pendeta dengan Tuhan. Bukanlah bagian saya untuk 'nge-judge' salah atau benar. Bila saya masih lapar / ingin tau atau bahkan tidak puas, toh Alkitab bukan hanya milik Pak Pendeta, Alkitab ada dimana-mana, saya bisa membacanya kapan saja, bila perlu berulang kali juga tidak masalah, karena pemahaman Alkitab didapat dari tuntunan Tuhan, bukan dari siapa-siapa. Karena pemahaman dan pengalaman Alkitab dapat berbeda bagi tiap orang. Saya hanya perlu Tuhan.

Saya tidak lagi memusingkan tingkah laku majelis yang mungkin tidak 'sreg' dengan prinsip yang saya pegang. Toh, bila mereka berdosa pun itu urusan masing-masing, gereja boleh barengan tapi dosa kan tanggungan masing-masing ya Om & Tante :-) Tapi yang lebih penting lagi, ketika saya berusaha untuk tidak memusingkan hal-hal sepele, saya justru belajar bahwa penghakiman adalah milik Tuhan, bukan hak saya. Ketika saya mengosongkan pikiran dari hal-hal yang bersifat menghakimi justru persekutuan dengan majelis dan jemaat lain bahkan terjalin semakin erat :-) Saya sangat menikmati ibadah rayon dan ibadah persekutuan wanita yang saya ikuti...

Yang terutama adalah hati yang bersih.
Yang terpenting adalah Tuhan.

Hadiah terindah bagi saya adalah diberikan hidayah untuk kembali kepadaNya. Saya telah menceritakannya kepada beberapa sahabat, termasuk kepada kamu... Semoga kamu diberkati dengan cerita ini.

Bagaimana dengan ceritamu tahun ini?