Monday, January 30, 2012

Surat untuk Tembagapura Part Two

Tembagapura,
Begini ya... Kamu sepertinya harus tau tentang satu konsep bernama cinta.
Kamu gak boleh terlalu posesif mengenai hal ini.
Bila kamu menggenggam butir-butir pasir terlalu kencang, ia akhirnya akan terlepas dari kedua tanganmu.
Begitu juga dengan cinta, kamu gak boleh posesif....

Tembagapura,
Begini ya... Apa perlu kuberitahu contah lain kepadamu.
Misalnya Heng itu seekor burung, lalu kamu karna sangking cintanya, tak mau melepaskannya untuk pergi.
Terus kamu memberikannya sangkar emas, kamu mengurungnya dan mengikatnya erat-erat.
Kamu berharap dia akan bahagia, tapi kamu lupa.
Pada hakikatnya burung itu punya sayap, ingin terbang bebas, tanpa peduli apa arti sangkar emas itu...

Jadi begini ya... Dari semua insinyur tambang yang ada dikotamu, apakah dia ITB atau bukan, apakah dia nasional atau expat, apakah dia Papuan atau Non Papuan, kenapa sih kamu harus menawan suamiku lama-lama dikotamu...
Emangnya udah abis ya insinyur tambang lain yang sesuai dengan keinginan hatimu?

Aku tau sih kalau kamu sangat membutuhkannya, aku juga tau kamu sangat menginginkannya.
Tapi seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, cinta itu gak boleh posesif. Biarkan dia berhenti sejenak untuk berpikir yang terbaik untuk kalian berdua. Cinta gak boleh memaksa. Bila kamu mencintainya, kamu harus memberi waktu kepadanya, memberinya sedikit ruang kebebasan, supaya dia mengerti....

Cinta itu hubungan timbal balik lho...

Makanya, biarkan dia memilih.

Tenang, kamu gak perlu kuatir, karna kamu selalu ada dihatinya kok.... Sembilan tahun terakhir, kamu sudah membantu mendewasakan pribadinya, memberinya cambuk dan juga madu sebagai pelajaran hidupnya. Sembilan tahun bukan waktu singkat, akan selalu ada kamu dihatinya...