Sunday, January 15, 2012

Pakai Hati

Beberapa hari terakhir ini, kondisi mood saya berubah secara drastis, bahagia setengah mati tapi juga sedih setengah mati. Bahagia, karena mendapat tawaran pekerjaan yang menggiurkan di mining company lain dan berkantor pusat di Pondok Indah Jakarta Selatan, tantangan pekerjaan yang baru dan tentunya, sebagai perempuan yang selalu ingin berkarir, hal ini merupakan bekal tak ternilai untuk memperkaya resume dan skill pada CV saya nantinya.

Tapi juga, pada saat yang bersamaan, saya dilanda perasaan sedih setengah mati, terutama dengan peristiwa tragis "Insiden 9 Januari" yang terjadi di area tempat saya bekerja, kejadian ini begitu sadis dan membuat saya benar-benar lumpuh hingga hanya bisa menangis berhari-hari (semua perasaan ini saya lukiskan pada 2 posting saya sebelumnya: Tautan Doa dan Rapuh). Saya kesulitan tidur dimalam hari, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, dan kesulitan untuk meneruskan aktivitas sehari-hari, terutama setelah makin banyak terlibat dalam pengurusan administrasi dari insiden tersebut. Beberapa bulan terakhir saya dan teman-teman kantor menangani proyek HAM secara intens. Saya bukan orang yang menyenangi politik atau urusan kepemerintahan, saya juga tidak bisa melihat dan membaca peta politik atau arah dari kelanjutan masalah ini, saya juga bukan orang yang senang menulis tentang politik dan pemerintahan atau yang sejenisnya, tapi satu hal yang saya lihat hanyalah jalan buntu dan ignorant dari pihak-pihak terkait, yang seharusnya sungguh mudah bagi mereka untuk mengungkap dan berdiri demi nama prikemanusiaan.

Stateless.
Negara tidak berada pada satu wilayah di timur Indonesia.
dan saya hanya bisa pasrah...


Pada keadaan yang chaotic seperti ini, ada begitu banyak engineer dan professional bahkan kalangan executive yang memilih resign dan pergi dari perusahaan. Sudah selayaknya, setiap orang berhak untuk mendapatkan jaminan keamanan dan penghidupan yang layak. Tidak ada yang menyalahkan mereka untuk pergi. Dan merupakan satu pilihan yang wajar bila saya berniat untuk resign.

Lalu pada satu sore, interview antara saya dengan Country Manager dari mining company itu pun berlangsung lancar. Mereka sedang membuka site baru di area Sorong dan sedang membutuhkan seorang General Affairs & HR Prof untuk membantu mereka mengatur kantor baru yang akan berlokasi di Pondok Indah Jakarta Selatan. Saya sudah membayangkan betapa dekatnya jarak kantor dengan rumah di BSD. Saya sudah membayangkan akan selalu berakhir-pekan bersama keluarga di Cijantung. Saya sudah membayangkan betapa menantangnya pekerjaan ini karena saya akan dipercaya untuk mengatur kantor dan sistem kepersonaliaan dari awal berdirinya perusahaan. Mining company ini tengah melakukan ekspansi usahanya dalam bidang batu bara dan juga sedang membangun site di Kalimantan (dan bahkan sedang melakukan eksplorasi di Manokwari). Dari keterangan Country Managernya pula saya mengetahui bahwa perusahaan asli America ini baru saja memindahkan Asia Headquarter Officenya yang tadinya berada di Manila, kini berada di Jakarta. Itu berarti, bila saya merima tawaran pekerjaan ini, sayalah orang Indonesia yang akan incharge mengurus Asia Center Office mereka.

Sehabis interview, saya kembali ke meja kerja, disitu teman baik saya: Rudy Uban, sudah duduk diatas karpet dengan tatapan muka kosong. Saya gak pernah melihat Uban sepucat itu. Uban dan saya sudah bekerja sama sekian bulan membantu mengurus masalah HAM, bekerja bersama-sama setiap hari itu, artinya; ketawa sama-sama, bercanda sama-sama, dimarahin bos sama-sama, disayang bos sama-sama, makan sama-sama, lembur sama-sama, dan juga nangis sama-sama. Sore itu dia cuma bilang: "Nis, lo serius mau resign? Kalo gue sih terserah lo aja... Tapi kalo dari sisi departemen HAM, gue sama Pak Semmy akan kesulitan nyari pengganti lo..."

Saat pulang kerumah, Heng cuma bilang gini: "Gapapa kalau mau resign, tapi at least selesaikan dulu proyek HAM ini, bikin sesuatu yang berarti dan berpengaruh dulu... Kerja itu gak semata-mata hanya uang, tapi juga ada unsur penghargaan dari orang lain kepada kita, terutama saat ini, apakah kita sanggup pergi begitu aja saat banyak orang yang membutuhkan keberadaan kita..."

Sekecil apapun pekerjaan kamu, tetap aja itu punya peranan penting. Sesuatu yang besar gak akan terjadi bila tidak dimulai dengan hal yang kecil...

Dilema lagi.
Dilema lagi.
Bimbang lagi.
Bimbang lagi.

Namun, dari hati nurani yang terdalam, enggan rasanya untuk meninggalkan departemen saya dalam keadaan seperti ini. Walaupun bisa dikatakan, memang benar bahwa yang saya lakukan hanyalah hal-hal kecil yang bersifat administratif belaka. Mungkin hanya membuat report kronologis kejadian. Atau hanya mentranslate minutes of meeting kedalam bahasa inggris. Juga hanya mengurus budgeting atau kordinasi kiri-kanan. Pekerjaan remeh temeh, yang dapat dikerjakan oleh perempuan manapun. Hanya sebuah pekerjaan kecil... Tapi, setidaknya saya membantu melakukannya. Setidaknya, saya berada didalamnya. Setidaknya, saya berada dalam prosesnya. Saya tidak melihat kecil atau besarnya lagi, namun saya melihat diri saya berkontribusi. Saya melihat diri saya memberi. Saya juga merasa dibutuhkan. Amat sangat dibutuhkan...

Saya merasa, bila bukan saya, siapa lagi yang mau memberikan sumbangsih. Saya tidak boleh egois. Ini bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri. Ini bukan waktu yang tepat untuk bermegah diri. Tentu bagi saya dan bagi educated person lain, mencari pekerjaan lain adalah hal yang mudah... Hanya perlu mengirim CV by email, interview dan tinggal pilih-pilih mau kerja dimana. Namun, bagi kalangan buruh kasar yang hanya lulusan SD dan SMP, bagi teman-teman saya di perusahaan ini, bukan hal yang mudah untuk switching career just like that. This company is their life. This company is their everything. Perusahaan ini adalah piring makan mereka, tumpuan hidup satu-satunya...

Dan sungguh teramat pengecut, bila saya memutuskan untuk pergi... Sama sekali bukan ksatria, bila saya memilih untuk berhenti memberikan konstribusi...

Bila satu hari nanti saya resign, tentu bukanlah pada waktu chaotic seperti sekarang ini. Saya gak sanggup meninggalkan departemen ini yang sedang dirudung tanggung jawab. Saya berbeda dengan orang-orang yang memilih pergi, mereka bukanlah saya. Entah, apakah saya yang terlalu memakai "hati" dalam bekerja, atau mereka yang terlalu apatis dengan keadaan. Tapi biarlah saya belajar bahwa bekerja bukan melulu soal uang dan karir. Bekerja bukan selalu berbicara tentang gaining things.

Bukan, bukan itu...

Bekerja bagi saya adalah satu wadah untuk melakukan pelayanan. Saya bukan orang yang religius, tapi saya percaya bahwa Tuhan ada. Saya bukan orang yang rajin berdoa, tapi saya percaya Tuhan melihat tangan orang-orang yang bekerja demi misi kemanusiaan. Saya bukan orang yang rajin melakukan pelayanan gereja, lha wong gerejaan aja jarang... Tapi saya percaya, setiap pekerjaan yang dilakukan untuk menolong saudara-saudara terkasih yang sedang terhimpit beban hidup, adalah hal yang mulia dan Tuhan pasti melihat... Tuhan pasti mendengar...

Dan selalu ada harapan dalam Tuhan.
Akan selalu ada harapan didalam Tuhan...
Bukan dengan mata, tapi saya melihatnya pakai hati...