Tuesday, January 31, 2012

First Thing First

Hi Bloggers.......
Apa kabarmu dibulan pertama tahun 2012 ini? Apakah kamu sudah melakukan hal yang signifikan untuk hidupmu, atau kamu malah masih berkutat dengan hal-hal monoton yang sama sekali tidak membangunmu bahkan tidak membuatmu bertumbuh?

Beberapa hari lalu saya mendapat banyak insight dari khotbah seorang pendeta di Gereja Duta Injil. Kamu pasti heran khan kenapa saya tiba-tiba alim hehehehe :) sama seperti tanaman yang membutuhkan siraman air, saya pun demikian. Saya membutuhkan siraman segar untuk jiwa saya yang sudah layu dan keropos. Saya meminum air segar itu seperti tak ada hari esok. Dan ooohhh sungguh menyegarkan.. Jadi begini ceritanya.

Judul khotbahnya: First Thing First. Dahulukan yang paling utama. Utamakan yang paling penting.
Ini berbicara tentang apa sih yang paling utama dan paling penting untuk didahulukan dalam hidupmu. Dalam seluruh aspek hidupmu, dalam seluruh rangkaian kegiatanmu, bahkan dalam pekerjaanmu ataupun ketika kamu sedang santai.
Intinya, kamu harus bertanya pada diri sendiri, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, apakah yang kamu kerjakan adalah hal yang memang harus kamu kerjakan, dan apakah yang kamu kerjakan itu adalah hal yang penting untuk kamu lakukan pada saat ini?

Setelah mendengar khotbah ini, saya langsung merenung.

Iya yah, apakah selama ini saya sudah begitu? Apakah selama ini saya memakai konsep dahulukan yang paling utama dan utamakan yang paling penting?

Ngobrol ngarol ngidul ditelpon berjam-jam dengan seorang teman yang ceritanya hanya membahas seputar masalah perusahaan yang ternyata tak kunjung usai. Basa-basi tetek bengek berminggu-minggu tanpa kejelasan sikap. Pembahasan demi pembahasan yang hanya berakhir dengan sebuah kesimpulan pepesan kosong. Atau misalnya, perencanaan ini dan itu untuk proyek kemanusian dengan ide yang cemerlang tapi tanpa ada timeline dan pengejewantahan, itu sama aja dengan berwacana.

Retorika tanpa aksi malahan membuat semua yang dikerjakan jadi gak penting.

Saya sempat terjebak dengan sesuatu yang pernah saya anggap penting. Misalnya yah seperti paragraf diatas barusan: ngobrol ngarol ngidul, seru-seruan bahas masalah ini itu, tapi hasilnya nol besar. Omdo, alias ngomong doang. Waktu, energi dan pikiran terbuang sia-sia tanpa hasil.

Harusnya saya malu, telah membuang waktu begitu lama untuk capek-capek memikirkan hal yang sama sekali gak penting. Dan yah, sekarang memang waktunya saya untuk malu sama diri sendiri karna begitu naifnya telah mengira hal remeh temeh itu sebagai hal yang penting.

Harusnya saat seorang senior dikantor mengajak ngobrol yang kira-kira akhirnya sudah bisa ketebak bakalan jadi sebuah pepesan kosong, pada saat itu pula saya cut and end that bullshit conversation.

Harusnya saat teman baik sedang mengeluh tentang pekerjaan yang membosankan selama berjam-jam, saya bisa memberikan action plan, dan mengajaknya bersama-sama untuk semangat lagi, bukan malah berlama-lama membahas ini itu tanpa pengejewantahan sebuah aksi.

Dan akhirnya, saya akan menutup tulisan ini dengan pertanyaan:

"Sudah berapa lama waktu yang kita habiskan hari ini untuk melakukan pekerjaan yang sia-sia?"
Dan ini pertanyaan yang paling penting:
"Sudahkah ada hal penting yang berhasil kita selesaikan pada hari ini?"

Bila kamu kesulitan menjawab pertanyaan saya yang kedua, berarti kamu masih hidup pada masa lalu. Kamu perlu tau, Tahun 2012 diciptakan untuk mereka yang mau berlari mengejar kebaikan dan cita-cita, sama sekali bukan tercipta untuk orang pembual, pemalas dan terutama bukan untuk si tukang pembuat alasan.

Too much in making excuses will make other people sick.

Yes, the message is so clear: first thing first.
Dahulukan yang utama. Utamakan yang penting.
So, stop making excuses, even to ourselves!

Monday, January 30, 2012

Cijantung

Selalu menyenangi Cijantung
Terutama ketika hujan...

Wangi tanah basah nan syahdu
Rintik-rintik rindu
Daun-daun hijau
Dingin awan kelabu
Kerlap-kerlip lampu
Roti bakar pakai madu
dan tak pernah lengkap, bila tak ada pelukan ayah dan ibu :-))

Cijantung, bolehkah aku membawamu selalu
erat-erat dihatiku?

Surat untuk Tembagapura Part Two

Tembagapura,
Begini ya... Kamu sepertinya harus tau tentang satu konsep bernama cinta.
Kamu gak boleh terlalu posesif mengenai hal ini.
Bila kamu menggenggam butir-butir pasir terlalu kencang, ia akhirnya akan terlepas dari kedua tanganmu.
Begitu juga dengan cinta, kamu gak boleh posesif....

Tembagapura,
Begini ya... Apa perlu kuberitahu contah lain kepadamu.
Misalnya Heng itu seekor burung, lalu kamu karna sangking cintanya, tak mau melepaskannya untuk pergi.
Terus kamu memberikannya sangkar emas, kamu mengurungnya dan mengikatnya erat-erat.
Kamu berharap dia akan bahagia, tapi kamu lupa.
Pada hakikatnya burung itu punya sayap, ingin terbang bebas, tanpa peduli apa arti sangkar emas itu...

Jadi begini ya... Dari semua insinyur tambang yang ada dikotamu, apakah dia ITB atau bukan, apakah dia nasional atau expat, apakah dia Papuan atau Non Papuan, kenapa sih kamu harus menawan suamiku lama-lama dikotamu...
Emangnya udah abis ya insinyur tambang lain yang sesuai dengan keinginan hatimu?

Aku tau sih kalau kamu sangat membutuhkannya, aku juga tau kamu sangat menginginkannya.
Tapi seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, cinta itu gak boleh posesif. Biarkan dia berhenti sejenak untuk berpikir yang terbaik untuk kalian berdua. Cinta gak boleh memaksa. Bila kamu mencintainya, kamu harus memberi waktu kepadanya, memberinya sedikit ruang kebebasan, supaya dia mengerti....

Cinta itu hubungan timbal balik lho...

Makanya, biarkan dia memilih.

Tenang, kamu gak perlu kuatir, karna kamu selalu ada dihatinya kok.... Sembilan tahun terakhir, kamu sudah membantu mendewasakan pribadinya, memberinya cambuk dan juga madu sebagai pelajaran hidupnya. Sembilan tahun bukan waktu singkat, akan selalu ada kamu dihatinya...

Surat untuk Tembagapura

Tembagapura,
Jangan tahan suamiku lama-lama dikotamu,
Jangan bisik-bisik mimpi semu pada hatinya yang lugu,
Jangan menaruh bimbang pada cita-citanya,
Jangan berkata tentang matahari dan pelangi,
padahal kamu memberinya awan mendung dan hujan,
Jangan rebut suamiku,
Jangan mengambilnya dari pelukanku...
Dia milikku, sekali lagi kuberitahu kepadamu, dia milikku...
Dan dia berhak untuk memilih akan tetap kembali ke kotamu,
Atau melihat kerlip dunia lain...

Wednesday, January 25, 2012

Nyaman

Terkadang,
kenyamanan juga bisa jadi cobaan ya...
Kita jadi nggak berani untuk mencoba tantangan baru,
Kita merasa takut gagal, takut ini dan itu
Lalu mengurungkan niat untuk mencoba.
Kita jadi terbuai dengan rasa nyaman karena sudah duduk menikmatinya.

Terlalu nyaman,
amat sangat nyaman,
sehingga merasa benar-benar enggan berdiri
untuk melihat kerlip dunia lain...

---

Sunday, January 22, 2012

Crocs Eyewear

Setelah rajin menabrak spion mobil orang tiap nyetir, setelah rabun senja tiap kali bawa mobil waktu malam, dan setelah berkali-kali dipaksa dokter untuk pakai kacamata, akhirnya setelah annual MCU kemarin, aku pun tau bahwa minus mata kiriku jumlahnya jauh dari ambang batas mata normal...huhuhuhu :-)

Yang bener aja sih selama ini ternyata aku hanya melihat pakai mata kananku yang itu juga udah minus 0.5 dan mata kiriku yang udah hit minus 1. Dokter bilang, ga bagus tuh mata kanan dipakai setengah mati untuk melihat, jadi daripada makin parah, akhirnya deh diniatin pake kacamata, soalnya perbedaan minus mata yang jauh antara mata kiri dan mata kanan itu ternyata benar-benar gak bagus untuk kesehatan kedua mata...

Yaudah akhirnya kemarin itu sempet mampir ke beberapa optik untuk liat kacamata. Pilihan langsung jatuh ke Crocs Eyewear, tadinya khan aku taunya itu merk sepatu ya hehheheeh ternyata sekarang juga ada line kacamatanya... Modelnya lucu lucu, seru seru, anak muda banget dah pokonya... Dan ternyata gak semua optik besar menjual frame Crocs, kemarin itu aku dapet di optik Lily Kasoem Detos di Margonda Raya, pelayanannya manteb, mas-masnya sabar banget, ukur matanya pake alat yang udah modern dan besokannya kacamata plus lensa langsung jadi, optik ini juga punya banyak koleksi frame Crocs rupa rupa yang jenisnya jarang ada di optik lain. Highly recommendedlah...

Kemarin banyak yang nanya, jenis yang aku pake apaan, ini yah penjelasannya:
Lensa: Nikon Aspherical 1.6, Anti Radiation, IDR 545.000 (kalo lensa biasa yg ga pake anti radiasi komputer IDR 350.000)
Frame: Crocs Circulo 1, Grey color, IDR 1.200.000 (biasanya rata-rata harga frame Crocs: 1 - 1.7juta)
Jadi totalnya: IDR 1.770.000 (ludes langsung bonus PBA-ku sodare sodare......) hahhahhahaha. Abis beli, langsung ngibrit ke mejanya Olyne; "Babe, aku reimburse ini yak...." hihihihi ;) Olyne baek, Olyne baek...

Ok back to the topic, kelebihannya: setelah sebulan dan tiap hari aku pakai, tangkai framenya elastis, gak terlalu kendor tapi juga gak terlalu ketat, designnya chic dan lensanya jelassssssss bangetttt.... Jadi kalo malem aku nyetir, ga perlu takut nabrak lagi hehheheheh. Oh iya, satu lagi, kacamata ini nyaman sekali lho.... Untuk yang sedang nyari kacamata, semoga bermanfaat yah review ini... Cobain Crocs deh, pasti pada langsung suka. Kemarin anak anak kantorku juga udah pada nyoba dan mereka merasa kacamatanya enteng dan ga berat. Aku juga sengaja pilih frame yang besar supaya wide and clear, ceussssss hihihihihi :)

Yowessss... Happy hunting yah!





Kitchen Set Apartemen Kelapa Gading

Gara-gara liat kitchen-set rumahnya Woro (The Pradonos.Com) yang modern, chic tapi juga simple, aku pun langsung mupeng sih dong, mau renov dapur apartemenku juga :-)

Secara terakhir kali buat kitchen set untuk apartemen mungilku adalah waktu pertama kali beli pas 2008. Beli apartemennya pun dengan kesadaran untuk alasan nabungin uang supaya aku gak terlalu banci shopping :-) Nah sejak 2008 itu berati khan sekarang udah perlu direnov ya gak? Ya gak? Ya gak? Kitchen setnya pun aku maunya simple aja modelnya ga usah yang geda-geda, yang penting ada tempat naro kompor 2 tungku, microwave, kitchen sink, kulkas & perkakas dapur.

Bila perlu kompornya Modena (jiaahhh berasa banyak duit) kalo gak yaudah yaudah yaudah yang mirip-mirip Modena ajah. Kemarin sempet diapproved Heng untuk pake jasa designer interior tapi yaoloh gak tega pun lihat harganya meheng sih pun dong, yaudah yaudah yaudah lagi-lagi aku pun beralih kepada Sodikin hihihi :-) Mantablah nego harga sama dia, semua pake hukum kekerabatan dan persaudaraan, dengan berkali-berkali kuucapkan “Maturnuwun sanget Pak Sodikin…” setiap kali menutup telpon – demi diskon semata hakhakhak :-)

Tetapi oh tetapi, kelupaan satu hal yang krusial! Secara pun yang menyewa apartemenku masih betah pun tinggal disana :-) Ga mungkin khan aku minta mereka pindah temporary (Lha wong rejeki kok ditolak…)

Mamahku pun hanya teriak-teriak dari ujung telpon: “Hallah Ndhuk, kowe iki ojo aneh-aneh, lha orang sing nyewa ise kerasan, kowe weis kegatelan renov dapur. Ojo aneh-anehlah Ndhuk, kene, kene duwitthe karo Ibukmu aee tha…”

*jiaaahhh langsung nepok jidat akunya pun…..

Pikun...Pikun... Bisa-bisanya aku nelpon Sodikin dan nego ini itu tapi lupa kalo apartemen itu masih ada orangnyahhh hakhakhak :-)




Batik Cirebonan

Hi Bloggers! Saya gak sabar menunggu liburan minggu depan, setelah berbulan-bulan berkutat dengan urusan kantor, rasanya liburan kali ini akan sebanding bayarannya kalau diisi dengan shopping, shopping dan shopping! hihihi :-) Kali ini saya pingin beli batik Cirebonan yang banyak :-) Ciri khas batik Cirebon biasanya bermotif Mega Mendung, tapi ada juga motif lain yang lebih simple and modest, contohnya di foto ini :-) Thanks to Mba Prita yang udah ngenalin dunia perbatikan Indonesah dan jadi tempat berbagi wawasan batik sama saya :-)

Pusat batik Cirebon ada di Trusmi, sebenarnya bisa ditempuh dengan naik kereta dari Jakarta, kesananya juga selain wisata belanja (batik), ada cultural site dan wisata kuliner yang khas: empal gentong (yaaaahhh...lagi-lagi batal mau jadi vegetarian) hehehe :-) Kali ini, masih penasaran sama line batik tulis Cirebon yang khas...

Semoga rencana berburu batik tulis Cirebon dapat tercapai :-)




p.s: Mungkin ada yang tau, rumah batik tulis yang harganya affordable? Share yak!

Friday, January 20, 2012

memang aku

memang aku
hilang akal sehat
mengharap lautan
pada sebuah kolam
mengharap pesawat
pada layang-layang
mengharap matahari
pada lilin kecil

memang aku
tidak kunjung menemukannya
karena itu hilang akal sehatku

Tuesday, January 17, 2012

Ladies Nite Out :-)

I've been sad for many nights, crying and hopeless for many days.

So, I've decided to go out with my friends just to get a sense of togetherness, just to breath some fresh air out from my routine... The Underground Ladies had invited me to their engineer's party; which is: Widi's Bridal Shower. She'll get married @the end of this month!

Have a beautiful wedding and long happy marriage, Dear Widi...





They say, nothing last forever. Dreams change, Trends come and go, But Friendship: Never Go Out of Style :-)

Sunday, January 15, 2012

Oktober Tak Akan Lama...

oktober tak akan lama
aku bisa menunggu
sampai bulan sepuluh
bila itu yang kau perlu
semua hanya terserah waktu
tak ada salahnya menunggu
mimpi-mimpi syahdu...

rusak

Tuhan,
aku minta tolong,
benerin otakku yang sudah rusak
lurusin syaraf-syarafku yang ruwet seperti benang kusut,
perbaikin pikiranku yang berantakan

Tuhan,
aku minta tolong sekali...
karna,
hanya Tuhan yang mau aku paksa untuk jadi mekanik,
untuk benerin otakku yang rusak, kembali seperti sedia kala...

dalam genggamanMu...

Tuhan,
mimpiku
cita-citaku
angan-anganku
semua dalam genggamanMu...

Bila tak ada satupun
yang Engkau kehendaki
untuk terjadi dalam hidupku

Ijinkan aku
satu hari nanti melihat
jalanMu
keinginanMu
rencanaMu
jauh lebih baik dari semua yang kubayangkan...

Pakai Hati

Beberapa hari terakhir ini, kondisi mood saya berubah secara drastis, bahagia setengah mati tapi juga sedih setengah mati. Bahagia, karena mendapat tawaran pekerjaan yang menggiurkan di mining company lain dan berkantor pusat di Pondok Indah Jakarta Selatan, tantangan pekerjaan yang baru dan tentunya, sebagai perempuan yang selalu ingin berkarir, hal ini merupakan bekal tak ternilai untuk memperkaya resume dan skill pada CV saya nantinya.

Tapi juga, pada saat yang bersamaan, saya dilanda perasaan sedih setengah mati, terutama dengan peristiwa tragis "Insiden 9 Januari" yang terjadi di area tempat saya bekerja, kejadian ini begitu sadis dan membuat saya benar-benar lumpuh hingga hanya bisa menangis berhari-hari (semua perasaan ini saya lukiskan pada 2 posting saya sebelumnya: Tautan Doa dan Rapuh). Saya kesulitan tidur dimalam hari, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, dan kesulitan untuk meneruskan aktivitas sehari-hari, terutama setelah makin banyak terlibat dalam pengurusan administrasi dari insiden tersebut. Beberapa bulan terakhir saya dan teman-teman kantor menangani proyek HAM secara intens. Saya bukan orang yang menyenangi politik atau urusan kepemerintahan, saya juga tidak bisa melihat dan membaca peta politik atau arah dari kelanjutan masalah ini, saya juga bukan orang yang senang menulis tentang politik dan pemerintahan atau yang sejenisnya, tapi satu hal yang saya lihat hanyalah jalan buntu dan ignorant dari pihak-pihak terkait, yang seharusnya sungguh mudah bagi mereka untuk mengungkap dan berdiri demi nama prikemanusiaan.

Stateless.
Negara tidak berada pada satu wilayah di timur Indonesia.
dan saya hanya bisa pasrah...


Pada keadaan yang chaotic seperti ini, ada begitu banyak engineer dan professional bahkan kalangan executive yang memilih resign dan pergi dari perusahaan. Sudah selayaknya, setiap orang berhak untuk mendapatkan jaminan keamanan dan penghidupan yang layak. Tidak ada yang menyalahkan mereka untuk pergi. Dan merupakan satu pilihan yang wajar bila saya berniat untuk resign.

Lalu pada satu sore, interview antara saya dengan Country Manager dari mining company itu pun berlangsung lancar. Mereka sedang membuka site baru di area Sorong dan sedang membutuhkan seorang General Affairs & HR Prof untuk membantu mereka mengatur kantor baru yang akan berlokasi di Pondok Indah Jakarta Selatan. Saya sudah membayangkan betapa dekatnya jarak kantor dengan rumah di BSD. Saya sudah membayangkan akan selalu berakhir-pekan bersama keluarga di Cijantung. Saya sudah membayangkan betapa menantangnya pekerjaan ini karena saya akan dipercaya untuk mengatur kantor dan sistem kepersonaliaan dari awal berdirinya perusahaan. Mining company ini tengah melakukan ekspansi usahanya dalam bidang batu bara dan juga sedang membangun site di Kalimantan (dan bahkan sedang melakukan eksplorasi di Manokwari). Dari keterangan Country Managernya pula saya mengetahui bahwa perusahaan asli America ini baru saja memindahkan Asia Headquarter Officenya yang tadinya berada di Manila, kini berada di Jakarta. Itu berarti, bila saya merima tawaran pekerjaan ini, sayalah orang Indonesia yang akan incharge mengurus Asia Center Office mereka.

Sehabis interview, saya kembali ke meja kerja, disitu teman baik saya: Rudy Uban, sudah duduk diatas karpet dengan tatapan muka kosong. Saya gak pernah melihat Uban sepucat itu. Uban dan saya sudah bekerja sama sekian bulan membantu mengurus masalah HAM, bekerja bersama-sama setiap hari itu, artinya; ketawa sama-sama, bercanda sama-sama, dimarahin bos sama-sama, disayang bos sama-sama, makan sama-sama, lembur sama-sama, dan juga nangis sama-sama. Sore itu dia cuma bilang: "Nis, lo serius mau resign? Kalo gue sih terserah lo aja... Tapi kalo dari sisi departemen HAM, gue sama Pak Semmy akan kesulitan nyari pengganti lo..."

Saat pulang kerumah, Heng cuma bilang gini: "Gapapa kalau mau resign, tapi at least selesaikan dulu proyek HAM ini, bikin sesuatu yang berarti dan berpengaruh dulu... Kerja itu gak semata-mata hanya uang, tapi juga ada unsur penghargaan dari orang lain kepada kita, terutama saat ini, apakah kita sanggup pergi begitu aja saat banyak orang yang membutuhkan keberadaan kita..."

Sekecil apapun pekerjaan kamu, tetap aja itu punya peranan penting. Sesuatu yang besar gak akan terjadi bila tidak dimulai dengan hal yang kecil...

Dilema lagi.
Dilema lagi.
Bimbang lagi.
Bimbang lagi.

Namun, dari hati nurani yang terdalam, enggan rasanya untuk meninggalkan departemen saya dalam keadaan seperti ini. Walaupun bisa dikatakan, memang benar bahwa yang saya lakukan hanyalah hal-hal kecil yang bersifat administratif belaka. Mungkin hanya membuat report kronologis kejadian. Atau hanya mentranslate minutes of meeting kedalam bahasa inggris. Juga hanya mengurus budgeting atau kordinasi kiri-kanan. Pekerjaan remeh temeh, yang dapat dikerjakan oleh perempuan manapun. Hanya sebuah pekerjaan kecil... Tapi, setidaknya saya membantu melakukannya. Setidaknya, saya berada didalamnya. Setidaknya, saya berada dalam prosesnya. Saya tidak melihat kecil atau besarnya lagi, namun saya melihat diri saya berkontribusi. Saya melihat diri saya memberi. Saya juga merasa dibutuhkan. Amat sangat dibutuhkan...

Saya merasa, bila bukan saya, siapa lagi yang mau memberikan sumbangsih. Saya tidak boleh egois. Ini bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri. Ini bukan waktu yang tepat untuk bermegah diri. Tentu bagi saya dan bagi educated person lain, mencari pekerjaan lain adalah hal yang mudah... Hanya perlu mengirim CV by email, interview dan tinggal pilih-pilih mau kerja dimana. Namun, bagi kalangan buruh kasar yang hanya lulusan SD dan SMP, bagi teman-teman saya di perusahaan ini, bukan hal yang mudah untuk switching career just like that. This company is their life. This company is their everything. Perusahaan ini adalah piring makan mereka, tumpuan hidup satu-satunya...

Dan sungguh teramat pengecut, bila saya memutuskan untuk pergi... Sama sekali bukan ksatria, bila saya memilih untuk berhenti memberikan konstribusi...

Bila satu hari nanti saya resign, tentu bukanlah pada waktu chaotic seperti sekarang ini. Saya gak sanggup meninggalkan departemen ini yang sedang dirudung tanggung jawab. Saya berbeda dengan orang-orang yang memilih pergi, mereka bukanlah saya. Entah, apakah saya yang terlalu memakai "hati" dalam bekerja, atau mereka yang terlalu apatis dengan keadaan. Tapi biarlah saya belajar bahwa bekerja bukan melulu soal uang dan karir. Bekerja bukan selalu berbicara tentang gaining things.

Bukan, bukan itu...

Bekerja bagi saya adalah satu wadah untuk melakukan pelayanan. Saya bukan orang yang religius, tapi saya percaya bahwa Tuhan ada. Saya bukan orang yang rajin berdoa, tapi saya percaya Tuhan melihat tangan orang-orang yang bekerja demi misi kemanusiaan. Saya bukan orang yang rajin melakukan pelayanan gereja, lha wong gerejaan aja jarang... Tapi saya percaya, setiap pekerjaan yang dilakukan untuk menolong saudara-saudara terkasih yang sedang terhimpit beban hidup, adalah hal yang mulia dan Tuhan pasti melihat... Tuhan pasti mendengar...

Dan selalu ada harapan dalam Tuhan.
Akan selalu ada harapan didalam Tuhan...
Bukan dengan mata, tapi saya melihatnya pakai hati...

Wednesday, January 11, 2012

tautan doa

Tuhan,
apakah aku pantas menghabiskan puluhan juta, hanya untuk berlibur dengan alasan stres dan butuh suasana baru
sedangkan seorang saudaraku menjadi janda dan mungkin saat ini sedang galau memikirkan tagihan bulanannya, biaya susu anaknya, atau uang sayur untuk esok hari

Tuhan,
apakah aku pantas melihat halaman fashion di majalah, membeli baju dan tas puluhan juta demi kepuasan sehari
sedangkan seorang saudaraku disana terpaksa menjadi janda karena keadaan dan mungkin saat ini tengah dilanda kecamuk bathin tak terhingga akankah anak-anaknya dapat mengenyam bangku kuliah

Tuhan,
apakah aku pantas merencanakan renovasi rumah dengan biaya ratusan juta rupiah hanya demi kebanggaan sementara
sedangkan seorang saudaraku nun jauh disana meratapi nasibnya menjadi janda, kehilangan suami sebagai harta utamanya, kehilangan harapan dan masa depannya dalam sekejap mata runtuh sudah dunianya, tak ada lagi atap baginya untuk berteduh

Tuhan,
apakah aku pantas bersolek, berdiri angkuh dan berjalan membusungkan dada
sedangkan saudaraku disana kian layu, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk kembali tegak menatap hari yang suram, yang walaupun dunianya runtuh namun dipaksakan juga kakinya untuk berjalan


dan Tuhan...
aku tak bisa apa-apa,
berdoa saja belum becus...

tapi Tuhan,
dengan kaki berlutut
dan kedua tangan yang bertaut
aku manusia yang berdosa ini,
yang tidak tau berdoa ini,

memohon belas kasihan dari padaMu
sedikit saja Tuhan
sedikit saja...

untuk hal ini, Tuhan, amat sangat aku meminta belas kasihMu;

kekuatan

penghiburan

kasih

dan pengharapan

hanya kepada saudaraku nun jauh disana...

rapuh

Tuhan,
adakah Engkau barangkali lupa sejenak
mendengar rintihan tangis kami
di siang hari ini
sudah deras luruh air mata
seperti rintik-rintik hujan
tak terhingga jumlahnya
jatuh mengalir deras ke sungaiMu

Tuhan
adakah Engkau barangkali lupa sejenak
kami yang ringkih tak berdaya
setengah nyawa
melayang-layang hampa
menangis berhari-hari
limbung dan jatuh
hanya berharap pada pengasihanMu

rapuh kami Tuhan
hanya pada SungaiMu kami menemukan air…

rapuh kami Tuhan
hanya padaMu kami menemukan jawabnya…


----

kembali mencoba menulis dengan hati tercabik sehabis menangis berhari-hari setelah insiden 9 januari :-(

Sunday, January 8, 2012

Renungan di Awal Tahun Baru 2012

Selamat tahun baru, Teman-Temanku Tersayang...

Saya dapat banyak sekali ucapan selamat tahun baru dari kolega dan sahabat, salah satu yang begitu menyentuh adalah yang berikut...
Dan sungguhlah baik jikalau Teman-Teman semua pun merasakan kebajikan dan kearifan dari rangkaian kata-kata ini.

Selamat menikmati....

----

Kupikir KEBERHASILAN itu karena 'keturunan', ternyata karena... 'ketekunan'
Kupikir yang paling MAHAL, adalah uang & emas permata, ternyata yang paling BERHARGA itu 'kesehatan dan nama baik juga sahabat-sahabat...
Kupikir SUKSES itu hasil 'kerja keras', ternyata hasil 'kerja cerdas'
Kupikir Allah selalu mengabulkan setiap PERMINTAAN, ternyata Allah hanya memberikan yang kita 'BUTUHKAN'


Mencoba untuk tidak berhenti Mencoba
Berusaha untuk tidak berhenti Berusaha
Bersyukur untuk tidak berhenti Bersyukur...

----

(Terima kasih banyak untuk Bang Lucky yang sudah share renungan ini ke saya)

Wanna know more about him? Find out his thoughts at http://ikansako.blogspot.com