Sunday, December 11, 2011

Sapardi Djoko Damono dan Saya Makin Cinta Sastra Indonesia

Setelah Katon Bagaskara membuat saya jatuh cinta pada Sastra Indonesia, ada seorang sosok yang makin membuat hati saya tak pernah lepas dari Sastra. Dia seorang yang sangat spesial karena melalui pemilihan kata-kata yang sederhana, justru sajak-sajaknya begitu kuat dan mengakar, baik bagi penikmat Sastra yang masih pemula, maupun bagi mereka yang sudah mahir dengan Bahasa Indonesia tingkat tinggi.

Sempat menyesal karena tidak berkuliah Sastra di UI Depok (padahal jarak Cijantung-Depok hanya selemparan batu), sempet menyesal karena tidak pernah mengambil Sastra Indonesia di UI (berharap diajarin sama Pak Dosen Sapardi Djoko Damono), tapi toh, sosok SPD selalu dekat dan ada di hati saya :-)

Berikut adalah sajak-sajak karya beliau yang masih selalu berkekuatan magis setiap kali saya membacanya :-)

Enjoy!!!

----

HUJAN BULAN JUNI
(1989)

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

-----

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

----

DALAM DIRIKU
(1980)

Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya


----


YANG FANA ADALAH WAKTU
(1978)

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa.
“Tapi,
Yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu. Kita abadil


------


SIHIR HUJAN
(Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982)


Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan



----


TAJAM HUJANMU
(Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982)


tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu