Sunday, December 4, 2011

Cinta Pertama Pada Sastra Indonesia: Ibu dan Katon Bagaskara

Saya beruntung memiliki Ibu yang tidak terlalu menuntut anaknya untuk pintar secara akademik, atau menerapkan standard yang tinggi untuk mata pelajaran tertentu. Saya menyadarinya saat menerima raport kelas 1 SD dan melihat nilai matematika yang tertulis dengan sebuah angka 6. Ibu hanya mengatakan, "Gapapa, Kaka, Kalau tidak bisa matematika nanti Kaka belajar lagi, mungkin Kaka pintarnya di Bahasa atau di pelajaran lain..."

Sesingkat dan sesederhana itulah pengertian Ibu dalam menyayangi saya. Tak ada penjelasan dan perkataan lain yang lebih menenangkan seorang gadis berusia 6 tahun yang hanya mendapat nilai 6 pada kelas matematikanya. Tak ada kalimat lain yang ingin saya dengar kala itu selain apa yang telah disampaikan Ibu. Betapa santainya Ibu yang pada kelanjutannya tak pernah bosan menerima raport dan memandang nilai matematika anaknya hanya bermain disekitar angka 6 dan maksimal 7. Dan untuk selanjutnya, Ibu makin sering memberikan buku-buku mengenai sastra, sajak dan puisi Indonesia. Saya makin sering membaca dan melahap semuanya seperti cemilan di sore hari.

Efeknya, saya semakin cinta dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Saya semakin tenggelam dengan kekayaan Bahasa Indonesia. Mencintai setiap kata-kata dalam Bahasa Indonesia.

Bila ketika Sekolah Dasar saya hanya mengagumi keindahan kata demi kata dari Bahasa Indonesia dengan membaca, maka ketika mulai menginjak SMP, saya mulai berani menulis, tepatnya ketika saya pertama kali mengenal Katon Bagaskara. Saya ingat kala itu, Katon menulis lirik lagu "Gerimis" yang dinyanyikannya bersama grup musik "KLA". Begini bunyi liriknya:

"Gerimis"

Musim penghujan hadir tanpa pesan
Bawa kenangan lama telah menghilang
Saat yang indah dikau di pelukan
Setiap nafasmu adalah milikku

Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang mengoyak kedamaian
Segala musnah... Lalu gerimis
Langitpun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Kekasih, andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian tuk cinta kita
dan bukan alasan untuk berpisah...

Dan untuk selanjutnya, saya amat menikmati semua larik kata pada lagu-lagu KLA. Hingga sampai pada satu sore, saya berada di toko buku dekat rumah dan menemukan sebuah buku kumpulan puisi Katon Bagaskara judulnya: Satu Kayuh Berdua. Begini baitnya:

"Satu Kayuh Berdua"

Ingin Kukirim bunga
Yang pantas kau terima
Atau tuliskan lagu
Sekedar menuang rindu
Apa saja kumampu
Asal itu buatmu
Kuharap engkau suka
Beri kecil binar mata

Ingin dengar candamu
di telepon bicara
Pastinya kau tersipu
Waktu aku merayumu
Apa saja kumau
Untuk meraih hatimu
Kuharap engkau suka
Beri kecil binar mata
Melekat erat di jiwa

Sudikah naik ikut perahuku
Berkain layar cinta
Arungi warna-warni gelombang dunia
Satu kayuh berdua
Untuk sampai disana,
Kau turut serta...


----

Dan sejak saat itulah, saya yang masih bau kencur, saya yang masih culun, mulai berani menulis sajak-sajak sederhana diatas buku diary pink yang dibelikan Ibu. Buku kumpulan puisi dari Katon, lirik-lirik lagu milik KLA dan buku diary pink selalu menjadi teman baik saya setiap hari. Saya semakin banyak meresapi sastra Indonesia setelahnya. Ada sesuatu disela-sela rangkaian kata pada sebuah karya sastra yang membuat saya selalu takjub. Pada kesempatan berikutnya, saya mulai berani menuliskan apa saja yang ingin saya ungkapkan. Menulis merupakan arena saya mengungkapkan semua rasa yang tak sempat saya utarakan dengan bibir. Menulis memberikan saya ruang untuk jujur terhadap hati nurani yang kadang hanya dipenuhi dengan logika. Menulis selalu membuat saya lebih santai dalam melihat dan melangkah.

Betapa ajaibnya sebuah kecintaan terhadap Bahasa dan Sastra dapat menjadikan seseorang lebih merasa hidup dan berarti. Betapa menyenangkannya dunia ini bila ada begitu banyak orang yang menghasilkan semangat dan cinta hanya dengan bermodalkan serangkaian kata. Betapa indahnya dunia saat semuanya memiliki pengertian dan penggunaan bahasa yang baik dan benar....

Betapa bahagianya dunia ini bila ada ribuan orang seperti Ibu dan Katon Bagaskara yang selalu penuh dengan cinta....