Sunday, November 13, 2011

November Comes... November Goes...

November datang lagi. November sangat special bagi saya, karena Tuhan menyerahkan saya kepada ibu pada bulan November. Tanggal 25 nanti, usia saya bertambah menjadi 28. Hihihihi :-) Saya geli sendiri, ternyata saya ini sudah tua, tapi kalau dilihat dari tingkah laku, kadang masih kekanak-kanakan, masih seperti anak kecil.

Dan sudah sejak setahun belakangan ini, saya membiarkan semua sifat kekanak-kanakan itu tetap muncul dari diri saya. Sudah setahun belakangan ini saya berhenti menjadi orang tua. Saya ingin hidup seperti anak kecil. Saya belajar berhenti untuk membuat target apapun dalam kehidupan masa depan. Sama seperti anak kecil yang tidak pernah mengkhawatirkan apapun.

Tidak membuat target dalam hidup mungkin terkesan slebor dan careless, tapi hal ini justru membuat saya melangkah lebih ringan terhadap hari esok. Tidak membuat target apapun justru membuat saya lebih lapang dada dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya, mengalir begitu saja...

Hal ini merupakan kontradiksi dari kebiasaan saya sebelumnya. Di usia early twenties, saya selalu menargetkan pencapaian sesuatu pada usia tertentu. Lulus kuliah Psikologi dalam waktu 4 tahun, bekerja selama 2 tahun, melanjutkan studi Program Profesi selama 2 tahun lalu menikah dan memiliki anak di usia 25.

Namun, tak ada seorang pun yang mampu membaca masa depan. Termasuk saya yang terlalu lugu dan dungu dengan semua kalkukasi itu. Ditengah perjalanan, ternyata ayah sakit dan saya yang saat itu masih kuliah semester lima, harus dipaksa keadaan untuk menerima semuanya dengan kedewasaan. Pada saat yang bersamaan, saya tidak mau kehilangan masa depan, karena bagi saya, pendidikan merupakan modal utama untuk menaiki tangga kehidupan, sehingga sekuat tenaga saya berusaha menyelaraskan antara kuliah dan bekerja, membiayai hidup sendiri, dan untuk pertama kalinya belajar berdiri di kaki sendiri. Target untuk menyelesaikan S-1 dalam waktu 4 tahun tidak tercapai kali itu. Tapi, proses pembelajaran hidup yang sangat mendewasakan diri saya, sungguh nikmat rasanya. Bila saya berkata, saya menyelesaikan kuliah S-1 dalam waktu 7 tahun, dengan bonus pengalaman kerja dan pembentukan karakter, tentu semua orang pasti akan tertarik mendengar cerita saya. Dan untuk itu, lagi-lagi saya tak pernah menyesal untuk mensyukurinya.

Atau mari kita bicara tentang target lain. Misalnya, tentang menikah dan memiliki anak. Hmmmm... Topik yang sensitif untuk dibicarakan, baik bagi wanita yang telah atau belum menikah, juga bagi wanita yang sudah atau belum memiliki anak. Seharusnya, menikah di usia tertentu tak perlu menjadi target dalam "things to do" bagi wanita segala bangsa. Saya selalu memimpikan punya anak di usia muda, seperti saya dan ibu, dengan usia yang terpaut tidak terlalu jauh. Dimana ketika kami berjalan di Mall, semua orang akan mengira kami seperti adik-kakak. Ibu melahirkan saya ketika usianya baru menginjak 20 tahun. Dan saya menginginkan hal ini terulang dalam siklus kehidupan saya, hamil di usia muda, mengandung bayi, melahirkan anak dan merasa lengkap, utuh juga sempurna sebagai seorang perempuan. Sampai detik ini, saya masih menantikan masa-masa itu. Namun target hanyalah target. Saya masih berusaha. Namun apalah arti semua usaha, bila Sang Empunya Hidup masih senang melihat perut saya buncit karena lemak, belum buncit karena anak. Saya bisa apa. Saya punya kekuatan apa. Saya tak dapat merubahnya. Dan karenanya, sampai saat ini, saya masih belajar untuk menerimanya dan berusaha berjalan dengan kenyataan.

Belakangan ini, saya banyak mendapatkan pencerahan bahwa pernikahan tidak melulu soal anak. Pernikahan tidak melulu berbicara tentang memiliki keturunan. Pernikahan tidak melulu harus melewati fase memiliki dan membesarkan anak. Ada banyak elemen yang terkandung didalamnya. Ada kompleksitas alasan untuk menjelaskannya. Ada gugusan hubungan sebab akibat yang saling melengkapi didalamnya. Saya masih butuh banyak waktu untuk memahaminya, namun saya sedang berjalan ke arah sana. Berusaha untuk mengerti jalan tersebut lebih baik, daripada tidak berusaha sama sekali, bukan?

Lalu, ada target apa lagi?
Sepertinya, target saya untuk melanjutkan studi Program Profesi sudah hanyut terbawa hujan ke pinggir sungai. Keinginan untuk menjadi Psikolog Klinis sudah tidak begitu menggebu-gebu. Saya diberikan pekerjaan oleh Sang Empunya Hidup di sebuah kota tambang, di sebuah remote area, jauh dari pusat pendidikan. Beberapa teman baik mengatakan, sungguh sayang tidak melanjutkan studi Program Profesi yang hanya berdurasi 2 tahun, karena licensed sebagai certified psychologist adalah hal langka di dunia industri dan organisasi. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang berubah dengan diri saya. Saat ini, saya memandang sekolah bukan lagi prioritas utama yang nomer satu harus dilakukan. Mungkin juga karena saya masih ingin mengejar beberapa hal dalam pekerjaan yang saat ini saya jalani. Atau mungkin karena saya masih ingin menikmati semua keribetan dan kerempongan pekerjaan ini. Dan ternyata masih ada saja orang yang senang dengan kesibukan bekerja daripada belajar di kampus hehehehe :-). Tapi, satu hari nanti saya pasti akan kembali ke kampus, karena saya masih ingin belajar, hanya saja tidak dalam waktu dekat. Tentu juga, tidak dengan target apapun. Saya belajar karena saya haus dan lapar, membutuhkan asupan pengetahuan yang baru, bukan karena ingin mencapai suatu target.

Lalu, apabila ditanya, what's my wishes for this November?
Jawabannya tidak terlalu susah. Saya ingin menjadi perempuan yang bahagia. Menerima kehidupan dengan santai. Mengalir tanpa beban. Berhenti membuat target. Belajar menerima hal-hal yang tidak mengenakan dalam hidup sebagai suatu pembelajaran. Menikmati hal-hal yang manis dalam hidup sebagai suatu hadiah sebagai penanda hari. Menyerap sari pati kehidupan, menghirup inti sarinya dan menyimpannya erat-erat dalam hati untuk diingat kembali saat sedang kehilangan semangat...


Semangat yang sama, dan semangat itu juga yang akan saya keluarkan untuk menanti bulan November berikutnya.... Seperti semangat seorang anak kecil yang sedang tak sabar menanti untuk meniup kumpulan lilin yang bertengger diatas kue ulang tahunnya, tepat saat semua doa dan harapan dinaikkan pada Sang Empunya Hidup...


(November comes, November goes... Let my heart flows with love and laughter...)