Monday, November 21, 2011

Saya dan Perempuan Bernama Iliam Komber







Saya jarang punya sahabat perempuan. Entah kenapa dari dulu, sahabat saya selalu laki-laki. Kadang, saya merasa, sahabatan dengan perempuan itu sama dengan mencari kerepotan. Beda dengan laki-laki yang biasanya easy going, careless, telling the truth about yourself and have no drama at all. Sedangkan, most of my female friends kebanyakan sih terlalu drama, kek macem banyak ribet and rempongnya dah ahhh, masalah cuma pake baju apa hari ini, masa nanya pendapat sih? Mau makan siang apa nanti, masa harus mikir lama-lama sih? Mau beli iphone atau BB masa harus kasak-kusuk kiri kanan sih? Hadeehhh... Pokonya remponglah kalau sahabatan sama perempuan ituuuhhh :-) no offense Ladies, you know it's so f*uckin true, right? hihihi :-)

Tapi jangan salah yaaa...
Temen perempuan saya banyaaakkk... Kalau ga percaya, liat nooohhh di FB, banyakan temen perempuan daripada lelaki hihihi :-) Hanya saja untuk dijadikan Sahabat ohh No, No, saya tukang milih... Gak mau sembarangan deket sama orang... Beberapa kali saya sempat kecewa dengan ulah perempuan-perempuan banyak gaya di lingkungan saya tinggal sekarang ini. Tapi memang dari dulu, dan sudah sejarahnya sih, saya jarang nyambung kalau curhat masalah yang DaLeM BaNgeT kepada temen perempuan... (Aneh khan yaa hihihi), mungkin sebenernya dulu sebelum reinkarnasi, saya ini lelaki atau bagaimana sih?!? (mulai jaka sembung, gak nyambung ihihihih)

Naahhh kali ini, saya mau cerita tentang seorang perempuan yang punya tempat khusus di hati saya sejak 2 tahun belakangan ini. She's a special woman in my life, since her heart is purely white, contains no evil at all, even though sometimes her behavior might confused you ihihihihi :-)

Meet my girl: Iliam Clementia Komber a.k.a Gil a.k.a Ili a.k.a Ilko.
Secara diese perempuan paling gila yang pernah saya ketemuin di dunia ini (dan dia ga setuju, protes-protes segala, karena menurut dia, saya yg paling Edan!)

Waktu kenalan pertama khan ceritanya waktu itu saya diminta jadi bintang tamu di satu acara, terus si Iliam juga merupakan lead MC-nya, nah waktu itu saya penasaran banget soalnya saya belom pernah kenal sebelumnya, (perasaan, ini perempuan Papua asal Amungme paling cantik yang saya pernah kenal deh...) saya seneng liat bodynya yang aduhai, dan terutama: tulang pipinya! She's really having that America's Next Top Model face, with a strong cheek bone, jadi kalau pake blush on, ini cewek bener-bener glowing mirip Afro American Girl-lah istilahnya! Huhuhuhu *_* Sempurna deh, dia badannya juga bagus, mirip model-modelnya Ajie Noto getoh... (Good Lord, Iliam loe jangan GR pas bacanya yak!)

Jiaaahhh elllaaahhh, ternyata abis acara itu, saya ketemu lagi pas mau interview kerjaan di departemen yang sekarang saya kerjain (?!?@$&?!) Pas masuk ruangannya, Iliam langsung suguhin teh, kue, permen gitu, lumayanlah untuk ngilangin panik sebelum wawancara sama calon bos :-)) Terus Iliam ngajak ngobrol santai getooh deehhh... Pokonya, kesan pertama begitu menggodalahhh. Dalem hati, ini cewek udah cantek, baek pulak ya Mak! (Kamsudnya khan jaman sekarang banyak bener film drama, pake acara bumbu-bumbu jealous... Biasalah wanita, kebanyakan ngirian, syirikan, dengkian kalo liat yg laen bahagia...) Tapi ini cewek gak gitu orangnya... Gak ada sifat jealous atau takut tersaingi sama sekali lho... Orangnya nyanteee bangettt... Welcome banget... Ramah banget... Bahkan sering ngasih masukan untuk saya yang waktu itu buta banget soal dunia Industrial Relations (secara Mak sebelumnya khan saya di General Affairs, lebih banyak ngurusin kontrak daripada service orang...) Yah pokonya enaklah, asiklah... Dan, sejak pertemuan pertama ituh, kita jadi temenan, tukeran HP, pin BB dan akhirnya jadi sahabatan sampe sekarang...

Alhamdulilah yah Sesuatu Bangettttt.... (Ala Syahrini....) qiqiqiiqiqiq :-))

Satu yang saya demen bener dari seorang Iliam Komber adalah sifatnya yang cuek bebek, mirip sifat laki-laki alias tomboy abess tapi anehnya diese banci dandan bowww :-))) dan hatinya yang tulus juga blak-blakan. Kalau saya salah, yah dia bilang saya salah. Kalau saya dosa yah dia bilang saya pendosa. Iliam ga pernah "muna", sok-sok polos, apalagi maksain keadaan... Pokonya asik deh orangnyah... :-)) *aaaww-aaaww*

Secara juga di kantor IR tuh yang judulnya wanita hanya saya dan Iliam, maka makin erat dan kuatlah hubungan kasih sayang kami berdua (Huhhahahhaha *gubraakkk* cih-cih apaan tuh artinyah?!?) Gimana kagak berkasih sayang, secara di kantor tuh ya, kita berdua sering jadi tempat makiannya bos-bos, tempatnya bos-bos marah-marah, sering jadi babunya bos-bos, tempat sampahnya bos-bos, bahkan sampe juga jadi tempat sayang-sayangnya bos-bos ihiiiiyyy :-) atau juga jadi sasarannya bos-bos bagi-bagi rejeki qiqiqiiqiq :-)))

Serulah kalau kantor ada Iliam (secara kadang diese sering ditugasin di Lowlands untuk ngurusin Bipartitelah, Mediasilah, PHI-lah, alahualamlah...). Rasanya sepiii banget kalo Iliam gak ada :-( Secara kita sama-sama penyuka teh melati, teh poci, teh hangat, segala macem teh deh you name it, we love it... kita suka... Perempuan penyuka teh :-)) Kita berdua sama-sama suka bangun siang (ssssttt...jangan bilang-bilang ini gawattt), kita berdua sama-sama suka dipijet (mamposss gak sih... banci pijet ketemu banci pijet hihihihihi), kita berdua sama-sama lahir tahun 1983, kita berdua sama-sama kuliah Psikologi (what kind of coincidence is that?!?), kita berdua sama-sama suka gado-gado dan ikan bakar (selera endonesah deh...), kita berdua sama-sama banci dandan (teteup ya Mak, make-up is important), dan yang paling kacau: waktu kuliah dulu, kita berdua sama-sama suka DuGeM! DisCo Abisss Sampe Pageeehhh!!! Aaancur dunia persilatan hakhakahakhaka :-) Parah banget khan yaaa... Tapi, walopun kita berdua sering DuGeM, dan seancur apapun kita dulu, kuliah is still numero Uno, saya dan Iliam sama-sama berhasil menyelesaikan S-1 Psikologi dalam waktu 7 tahun hakhkahakhak :-) Rusaakkkk... Bodo amatan ya Mak, loe mau bilang ancur kek, caur kek, nih liat ijasah kiteee :-) nadanya rada nyombong dikittt ala ABG Gaol hahahhaa :-)

intinya, Iliam dan saya, sama-sama menikmati hidup dan ceritanya nih, gak mau terkungkung jadi orang yang picik, pinginnya gaol terosssh getoh deh (asheeekkkk....gak nahan bahasanya....) hihihihi :-)))


Pokonya, selama 2 tahun belakangan, saya seneng banget bisa kenal sama ini orang, seneng banget bisa berbagi cerita, berbagi rasa, berbagi suka duka, bahkan berbagi lipstick&parfum dengan Iliam...

Dan bila ditanya sama orang, "Apakah harta paling berharga di dunia ini?'
Saya akan menjawabnya begini: "Bukan uang deh, tapi Sahabat yang berhati baik..." Bukan ape-ape, nyari sahabat jaman sekarang itu Susyeh Mak! Bisa sinting kalau dunia isinya hanya temen-temen doang, punya sahabat dan sahabattttannn toehhh baru nendang!!!

----

P.S: Iliam.... Saya Gak mau kehilangan semua seseruan inih!!! Jangankaaahhh..... Sioooohhh.... :-)))

Sunday, November 20, 2011

kamu batu

kamu batu,
dan aku begitu bodoh
mengira kamu air
menyirami daun-daun
dihatiku

kamu batu,
dan aku begitu dungu
mengumpamakan kamu angin
meneduhkan pohon-pohon
dihatiku

kamu,
batu...

menghujam hatiku.

Sunday, November 13, 2011

November Comes... November Goes...

November datang lagi. November sangat special bagi saya, karena Tuhan menyerahkan saya kepada ibu pada bulan November. Tanggal 25 nanti, usia saya bertambah menjadi 28. Hihihihi :-) Saya geli sendiri, ternyata saya ini sudah tua, tapi kalau dilihat dari tingkah laku, kadang masih kekanak-kanakan, masih seperti anak kecil.

Dan sudah sejak setahun belakangan ini, saya membiarkan semua sifat kekanak-kanakan itu tetap muncul dari diri saya. Sudah setahun belakangan ini saya berhenti menjadi orang tua. Saya ingin hidup seperti anak kecil. Saya belajar berhenti untuk membuat target apapun dalam kehidupan masa depan. Sama seperti anak kecil yang tidak pernah mengkhawatirkan apapun.

Tidak membuat target dalam hidup mungkin terkesan slebor dan careless, tapi hal ini justru membuat saya melangkah lebih ringan terhadap hari esok. Tidak membuat target apapun justru membuat saya lebih lapang dada dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya, mengalir begitu saja...

Hal ini merupakan kontradiksi dari kebiasaan saya sebelumnya. Di usia early twenties, saya selalu menargetkan pencapaian sesuatu pada usia tertentu. Lulus kuliah Psikologi dalam waktu 4 tahun, bekerja selama 2 tahun, melanjutkan studi Program Profesi selama 2 tahun lalu menikah dan memiliki anak di usia 25.

Namun, tak ada seorang pun yang mampu membaca masa depan. Termasuk saya yang terlalu lugu dan dungu dengan semua kalkukasi itu. Ditengah perjalanan, ternyata ayah sakit dan saya yang saat itu masih kuliah semester lima, harus dipaksa keadaan untuk menerima semuanya dengan kedewasaan. Pada saat yang bersamaan, saya tidak mau kehilangan masa depan, karena bagi saya, pendidikan merupakan modal utama untuk menaiki tangga kehidupan, sehingga sekuat tenaga saya berusaha menyelaraskan antara kuliah dan bekerja, membiayai hidup sendiri, dan untuk pertama kalinya belajar berdiri di kaki sendiri. Target untuk menyelesaikan S-1 dalam waktu 4 tahun tidak tercapai kali itu. Tapi, proses pembelajaran hidup yang sangat mendewasakan diri saya, sungguh nikmat rasanya. Bila saya berkata, saya menyelesaikan kuliah S-1 dalam waktu 7 tahun, dengan bonus pengalaman kerja dan pembentukan karakter, tentu semua orang pasti akan tertarik mendengar cerita saya. Dan untuk itu, lagi-lagi saya tak pernah menyesal untuk mensyukurinya.

Atau mari kita bicara tentang target lain. Misalnya, tentang menikah dan memiliki anak. Hmmmm... Topik yang sensitif untuk dibicarakan, baik bagi wanita yang telah atau belum menikah, juga bagi wanita yang sudah atau belum memiliki anak. Seharusnya, menikah di usia tertentu tak perlu menjadi target dalam "things to do" bagi wanita segala bangsa. Saya selalu memimpikan punya anak di usia muda, seperti saya dan ibu, dengan usia yang terpaut tidak terlalu jauh. Dimana ketika kami berjalan di Mall, semua orang akan mengira kami seperti adik-kakak. Ibu melahirkan saya ketika usianya baru menginjak 20 tahun. Dan saya menginginkan hal ini terulang dalam siklus kehidupan saya, hamil di usia muda, mengandung bayi, melahirkan anak dan merasa lengkap, utuh juga sempurna sebagai seorang perempuan. Sampai detik ini, saya masih menantikan masa-masa itu. Namun target hanyalah target. Saya masih berusaha. Namun apalah arti semua usaha, bila Sang Empunya Hidup masih senang melihat perut saya buncit karena lemak, belum buncit karena anak. Saya bisa apa. Saya punya kekuatan apa. Saya tak dapat merubahnya. Dan karenanya, sampai saat ini, saya masih belajar untuk menerimanya dan berusaha berjalan dengan kenyataan.

Belakangan ini, saya banyak mendapatkan pencerahan bahwa pernikahan tidak melulu soal anak. Pernikahan tidak melulu berbicara tentang memiliki keturunan. Pernikahan tidak melulu harus melewati fase memiliki dan membesarkan anak. Ada banyak elemen yang terkandung didalamnya. Ada kompleksitas alasan untuk menjelaskannya. Ada gugusan hubungan sebab akibat yang saling melengkapi didalamnya. Saya masih butuh banyak waktu untuk memahaminya, namun saya sedang berjalan ke arah sana. Berusaha untuk mengerti jalan tersebut lebih baik, daripada tidak berusaha sama sekali, bukan?

Lalu, ada target apa lagi?
Sepertinya, target saya untuk melanjutkan studi Program Profesi sudah hanyut terbawa hujan ke pinggir sungai. Keinginan untuk menjadi Psikolog Klinis sudah tidak begitu menggebu-gebu. Saya diberikan pekerjaan oleh Sang Empunya Hidup di sebuah kota tambang, di sebuah remote area, jauh dari pusat pendidikan. Beberapa teman baik mengatakan, sungguh sayang tidak melanjutkan studi Program Profesi yang hanya berdurasi 2 tahun, karena licensed sebagai certified psychologist adalah hal langka di dunia industri dan organisasi. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang berubah dengan diri saya. Saat ini, saya memandang sekolah bukan lagi prioritas utama yang nomer satu harus dilakukan. Mungkin juga karena saya masih ingin mengejar beberapa hal dalam pekerjaan yang saat ini saya jalani. Atau mungkin karena saya masih ingin menikmati semua keribetan dan kerempongan pekerjaan ini. Dan ternyata masih ada saja orang yang senang dengan kesibukan bekerja daripada belajar di kampus hehehehe :-). Tapi, satu hari nanti saya pasti akan kembali ke kampus, karena saya masih ingin belajar, hanya saja tidak dalam waktu dekat. Tentu juga, tidak dengan target apapun. Saya belajar karena saya haus dan lapar, membutuhkan asupan pengetahuan yang baru, bukan karena ingin mencapai suatu target.

Lalu, apabila ditanya, what's my wishes for this November?
Jawabannya tidak terlalu susah. Saya ingin menjadi perempuan yang bahagia. Menerima kehidupan dengan santai. Mengalir tanpa beban. Berhenti membuat target. Belajar menerima hal-hal yang tidak mengenakan dalam hidup sebagai suatu pembelajaran. Menikmati hal-hal yang manis dalam hidup sebagai suatu hadiah sebagai penanda hari. Menyerap sari pati kehidupan, menghirup inti sarinya dan menyimpannya erat-erat dalam hati untuk diingat kembali saat sedang kehilangan semangat...


Semangat yang sama, dan semangat itu juga yang akan saya keluarkan untuk menanti bulan November berikutnya.... Seperti semangat seorang anak kecil yang sedang tak sabar menanti untuk meniup kumpulan lilin yang bertengger diatas kue ulang tahunnya, tepat saat semua doa dan harapan dinaikkan pada Sang Empunya Hidup...


(November comes, November goes... Let my heart flows with love and laughter...)

Saturday, November 12, 2011

Hari Ini Ingin ke Ubud








Ubud dalam bahasa Bali berasal dari kata "Ubad" atau bila dibahasa-indonesiakan artinya: obat. Saya sependapat dengan arti kata Ubud tersebut, karena setiap kali berkunjung kesana, Ubud selalu menawarkan banyak kesegaran baru bagi orang sakit seperti saya. Kalau ditanya, kenapa orang sakit harus ke Ubud? Mungkin jawaban saya hanya satu: di Ubud selalu ada ketenangan.

Selama ini saya selalu mencari ketenangan. Load pekerjaan yang tinggi, gaya hidup modern yang selalu penuh target, jam kehidupan yang selalu berputar dan semua chaotic drama yang terjadi setiap hari dalam hidup, semakin membuat mata saya sadar bahwa mendapatkan ketenangan sungguh merupakan hal yang penting bagi makhluk hidup yang terus menerus di-set untuk berpikir dan bertindak seperti saya saat ini.

Apabila ditanya, ngapain aja di Ubud? Wah jawabannya banyak sekali. Saya bisa berhari-hari di Ubud tanpa merasa bosan sedikitpun. Pagi hari saya senang memandang sunrise, memulai hari yang baru sambil menikmati matahari terbit dengan berjalan kaki di area terasering / padi field seputaran sawah penduduk dan melihat bebek-bebek yang berenang di sungai rasanya hanya dengan melihat hijaunya sawah, pikiran dan hati saya sangat plong. Udara pagi Ubud yang segar selalu membawa saya bersemangat menikmati aktivitas hari itu. Mungkin setelahnya, saya akan menyeruput teh melati dan roti bakar di Pasar Ubud sambil menikmati lukisan dan artwork seniman Bali di sepanjang Ubud Downtown. Saya bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menikmati seniman melukis, seperti sebuah mistis setiap kali menerka-nerka apa arti dan makna dibalik goresan lukisan itu.

Satu hal baru yang beberapa waktu lalu sempat saya coba dan saya senang adalah bersepeda mengelilingi pedesaan Ubud, melewati sawah, jalan setapak, melihat petani memanen padi, menikmati matahari yang pedis membakar gabah yang sengaja dijemur di aspal depan rumah penduduk, melihat langit biru dan hamparan sawah hijau yang melapangkan dada. Bersepeda dengan ditemani pemandangan alam yang indah, rasanya seperti mendapatkan obat kuat untuk jiwa dan raga :-)

Terus, terus, ngapain lagi di Ubud? Hmmm, saya selalu kangen merasakan suasana di perkebunan Satria Plantation. Selain banyak pilihan handmade coffee (favorite saya: Vanilla Coffee), ada banyak jenis tanaman disini. Perkebunan dan buah-buahan segar selalu membawa kenangan masa kecil nampak dekat di hati. Saya besar dengan bermain dan berlari-lari di kebun Opa dan Oma di Manado, sekarang walaupun sudah besar begini, saya selalu merasa seperti anak kecil tiap kali berada di tengah-tengah pohon rambutan, mangga, kelapa dalam lingkungan perkebunan!

Setelah puas keringetan bermain di perkebunan, saya juga suka dengan pemandangan Gunung Agung dan Danau Kintamani. Luar biasa indahnya. Ubud itu letaknya di dataran tinggi, tapi kontur tanahnya bagus sekali... Pemandangan gunung dan danau bisa langsung dinikmati dalam sekali tegukan air putih :-)

Hmmmm belom lagi Yoga Barn di Ubud Downtown, weleh-weleh, lengkap sudah semua kebahagiaan saya! Yoga, Yoga dan Yoga. Sejak mengenal Yoga, saya gak pernah bisa lepas karenanya. Apalagi di Ubud, gak boleh dilewatkan. 90 menit latihan Yoga itu sama dengan 1 hari melakukan detoksifikasi. Yoga merupakan pembersihan diri. It's like recharging your inner side, recharging your soul... Being present to yourself is an important thing...

Saat menjelang matahari terbenam, saya gak pernah absen untuk ngintip anak-anak SD yang lagi belajar tari Bali di Pura Agung Ubud, mereka cantik sekali dengan kain tenun khas Bali dan gerakan lentik yang gemulai. Rasanya, matahari senja indah sekali saat diiringi musik tradisional dan tarian mereka. Very refreshing!

Tentu saja, saya bisa menuliskan berlembar-lembar hal yang menjadi kesukaan saya tiap kali berkunjung ke Ubud. Tapi, yang jelas, setiap orang memerlukan obat untuk jiwa yang letih, dan bagi saya, Ubud selalu menyegarkan dan tak pernah lelah memberikan pencerahan, entah hanya mampir 2 hari ataupun 2 bulan, khasiatnya selalu sama yaitu: ketenangan lahir dan bathin.



(*Ketenangan itu yang selalu saya bawa pulang setiap kali meninggalkan Ubud...)


Terima kasih untuk Nyoman, teman baik saya yang sudah memperkenalkan Ubud. Check out his Cycling Tour and google his name: Jegeg Bali Cycling Tour.

Happy Weekend, Fellas!

Monday, November 7, 2011

SMS Untuk Papa...

Papa, selamat sore...
Hari ini rencananya mau berangkat ke Magelang yah?
Berduaan aja sama Mama yah? Assikkk doung...
Jagain Mama baik-baik yah Pa...
Kecup kening dan pipinya Mama sepanjang perjalanan nanti
Dekap Mama erat-erat
Eeehhh tapi jangan lama-lama Pa...
Malu aahhh diliat orang :-)

Papa, selamat sore...
Hari ini aku belom sempat telpon,
tapi aku tau kok Papa kangen sama aku
Aku juga pingin ngobrol lama-lama
Tapi aku harus kerja
Inget khan, Papa yang ngajarin aku mandiri
Menjadi perempuan yang kuat
Aku ini kan Papa tapi dalam versi perempuannya :-)

Papa, selamat sore...
Hari ini Mama sudah buatin teh manis belom?
Kalau belom, nanti Mama bakal kumarahin
Sekalian aku ciumin dan gigitin sampai merah
Kehangatan air teh selalu menyebar dimana saja,
Termasuk dalam relung hati anakmu yang bawel ini
Tiap hari merindukan rumah, hanya ingin dikecup
Pingin pulang, hanya ingin melihat wajah Papa :-)

Papa, selamat sore...
Hari ini obatnya sudah diminum belom?
Awas ya kalau belom nanti aku panggil dokter
Sama seperti dulu Papa jagain aku waktu aku masih kecil
Sekarang saat aku sudah besar
Dan walaupun aku sudah terlalu berat untuk digendong
Aku akan peluk Papa kuat-kuat...
jagain Papa setiap hari, setiap saat...

Papa, selamat sore...
Bila hari ini aku lupa bilang, Papa harus tau
Namanya Papa ada pada setiap helaan nafasku
Ada Papa dalam hatiku, ada wajah Papa di setiap langkahku
Papa gak boleh nangis ditelpon kalau kangen sama aku
Inget khan, dulu Papa bilang "Anak Tentara Ga Boleh Cengeng"
Sekarang gantian aku yang bilang: "Papa Gak Boleh Cengeng",
Karena bulan Januari aku cuti dan akan bersama Papa
Sepanjang hariiii... :-)


Catet yah Pa: Sepanjang Hariiii :-)

Wednesday, November 2, 2011

Jakarta dan Aku Gila Karenanya...



Hadeeehhh...
Biar kata, Jakarta macet, polusi, sumpek, ruwet dan banyak copet...
Jakarta tetap Jakarta.
Jakarta adalah Jakarta.
Tetap merupakan tempatku berasal, bertumbuh, belajar dan menghargai kehidupan

Jakarta adalah tempat peraduan,
tempatku menyimpan asa dan cita-cita,
tempatku pertama kali tertawa, menangis, melompat dan bermimpi,
tempatku merasakan bahwa bahagia adalah berada ditengah-tengah keluarga...

dan malam ini, aku merasa Jakarta begitu jauh dari genggaman,
begitu sulit untuk digapai, begitu letih aku mengejarnya,
begitu kejam Jakarta mengiris hatiku,
hingga kelelahan dan tak berdaya menahan semuanya...

menangis tak akan menyelesaikan persoalan,
berteriak sekencang-kencangnya tak akan membawa semuanya menjadi dekat,
berlari sekuat tenaga tak akan mengembalikan semuanya...


Jakarta tetap Jakarta.


Dan aku masih disini, dibuat gila karenanya...