Sunday, May 1, 2011

Belajar Menghargai Proses

Pernah mendengar kata "proses"?
Saya pernah. Bukan hanya pernah mendengar, tapi juga "merasakan", dan atau "mengalami" sebuah proses.

Beberapa waktu belakangan ini, saya sempat lupa bahwa dalam seluruh aspek kehidupan yang kita jalani: kita semua sedang berada dalam sebuah "proses".

Ketika saya masih SMP di Cijantung, seorang teman baik sungguh menginspirasi saya karena sudah berada pada level Advanced pada sebuah kursus bahasa inggris di LIA. Teman wanita ini bernama Renya, orangnya cantik dengan kulit putih mulus dan yang bikin buat bangga adalah kemampuan bahasa inggrisnya yang Top banget. Pada masa itu, saya baru saja pindah ke Jakarta dari mengembara mengikuti tugas Papah sebagai tentara. Saat itu, saya merasa benar-benar tersihir dengan semangat dan ketekunan seorang Renya. Dengan niat yang tinggi untuk mendalami bahasa inggris, saya pun mendaftar di EF - English First, sebuah lembaga kursus bahasa inggris berlokasi di Pondok Indah. Masa awal-awal menjalani kursus tidaklah gampang, saya perlu membagi waktu antara sekolah dan kursus. Terlebih saat itu, saya masih belia untuk naik turun bis kota menempuh tempat kursus, belum lagi masalah keamanan kota metropolitan yang semrawut. Setiap kali saya kelelahan, satu-satunya yang menjadi semangat saya adalah: saya ingin sampai pada level Advanced secepatnya dan mendapatkan sertifikat EF!

Tidak terasa, 4 tahun pun berlalu dan sebuah sertifikat sudah di tangan saya. Selembar sertifikat itu sudah memberikan saya banyak kesempatkan luar biasa. Namun, saat menyelesaikan kursus di level Advanced, rasanya semua beban, semua kelelahan dan semua masalah tidak lagi ada di depan mata saya. Hanya ada sebuah kebanggaan, karena sebuah keahlian telah saya miliki, keahlian yang dapat saya gunakan sewaktu-waktu dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya telah menjalani semua proses tersebut tanpa berhenti dan menyelesaikan proses pembelajaran dengan indah. Mengakhirinya dengan kebanggaan yang luar biasa.

Beberapa bulan terkahir, saya sempat lupa dengan konsep ini. Segala sesuatu membutuhkan proses. Pohon yang akan tumbuh besar, membutuhkan sebuah proses untuk berkembang. Seorang atlet yang ingin mendapatkan medali emas, membutuhkan sebuah proses untuk membentuk mentalnya menjadi seorang juara. Renya Nuriningtyas - teman SMP (inspirasi saya) yang kini telah sukses menjadi Public Relations di sebuah maskapai penerbangan internasional, tentu tidak akan menjadi wanita karir sehebat seperti sekarang ini bila tidak melalui serangkaian proses pembelajaran yang panjang dan membawanya menjadi seorang perempuan yang piawai menghadapi tantangan pekerjaannya.

Saya hampir lupa bahwa untuk menjadi "besar", saya perlu menghargai proses. Heng bahkan berujar, semua proses kehidupan adalah hal yang perlu dinikmati...

Sore ini, saya mulai belajar menikmati dan menghargai proses yang saat ini saya jalani. Tentu, dengan harapan yang sama dengan hasil yang pernah saya dapat saat bertekun belajar bahasa inggris. Saya mengharapkan, proses dapat mendewasakan saya dan mengantarkan saya pada sebuah kemenangan.