Wednesday, November 10, 2010

Merindukan Sahabat

Merindukan sahabat, rasanya sama seperti jatuh cinta. Di pikiran dan di perasaan hanya ada dia dan dia. Menusuk-nusuk relung hati. Dia lagi, dia lagi. Saya ingin dia tau bahwa saya sangat merindukannya, menginginkannya berada di dekat saya setiap hari, berbagi tawa, canda, air mata dan duka. Bersama-sama. Hanya ada kita. Dia di hati saya, dan juga sebaliknya.

Tapi gak mungkin aaah rasanya saya mengatakan ini kepada dia setiap hari, nanti dia pikir saya gila, tidak waras dan sebagainya.

Padahal saya benar-benar seperti orang jatuh cinta. Bedanya, bila sedang jatuh cinta: saya tau bagaimana mengekspresikannya, sedangkan saat merindukan sahabat: saya tak pernah dapat mengatakannya secara gamblang. Plus, kata-kata "kangen" dan "rindu" sepertinya terbuat untuk para pecinta, pasangan yang sedang bercinta.

Lalu bagaimana dengan perasaan saya?

Tidak tau ahhh...
Saya bingung.

Yang jelas saya kangen.
Menemukan sahabat yang berwawasan sama dengan hati dan pikiran kita adalah yang sulit. Merajut hari bersama dan merangkai kenangan bertahun-tahun adalah yang langka untuk jaman sekarang.

Saya merindukan sahabat saya. Dia yang sedang melanjutkan hidupnya di New Orleans sana. Yang sungguh jauh dari tempat saya hidup. Dia yang sedang asyik dengan kegiatan barunya dan adaptasinya dengan kultur budaya baru. Yang mungkin juga sudah menemukan sahabat baru disana. Yang membuat saya cemburu setengah mati hingga malam ini rasanya ingin kembali ke tahun 2004, tahun pertama dimana Tuhan memperkenalkannya kepada saya dan membawa sejuta berkat dan bumbu-bumbu kehidupan yang indah bagi saya nikmati.

----


Saya kangen sekali...

Hermelia Gustin Simbiak, ini sajak untukmu...