Friday, July 2, 2010

perempuan bekerja

"Bude bebek" begitulah biasanya saya memanggil perempuan setengah baya yang logat jawanya medhok dan sangat khas ditelinga. Saya baru mengenalnya tapi ooh Tuhan, hubungan kami sudah seperti ibu dan anak, dekat dan erat. Karena selain bertetangga, kami punya kesamaan: sama-sama bekerja, sama-sama mandiri dan sama-sama suka perhiasan emas! Hahahaha ;-p

Suatu siang, saya kelaparan setengah mati dan hendak memesan sebungkus nasi pecel bebek goreng buatannya, sambal khas Bude bikin orang modar keenakan, merem melek pingin nambah, apalagi saya yang hobbi banget makan sambal. Tapi siang itu, tidak hanya sambal yang buat hati saya senang, namun juga tentang pembicaraan antara kami berdua yang saya mulai dengan pertanyaan sederhana: "Bude, gelang emasnya bagus deh, bentuk Tifa Papua, kerennn..."

Lalu mulailah cerita Bude Bebek... Begini jawabnya:

"Nisye, aku ini orangnya suka bergaya, suka pakai emas-emasan, tapi kasian aku ini orang gak punya, saudaraku di kampung segambreng, banyak banget... Butuh makanlah, butuh sekolah, butuh ini itu dan intinya duit... Tapi aku ini gak bisa hidup dengan hanya mengandalkan uang suami, gak mau aku berantem dan akhirnya sakit hati gara-gara masalah duit. Lha makanya aku jualan bebek ya biar duitnya buat dipakai macam-macam, enak punya duit sendiri, mau ini itu gampang... Jadi perempuan jaman sekarang itu gak boleh malas, kudu rajin lihat peluang..."

Saya hanya ternganga, mengaminkan perkataan Bude.

Uang mungkin bukan masalah bagi sebagian perempuan, tapi dari cerita Bude, saya sungguh terenyuh melihat semangatnya yang berkobar-kobar tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan... Juga tentang kemauannya yang keras untuk tidak pernah menyerah pada nasib!



Yuuuk mariii, (siapa bilang perempuan gak boleh senang?)