Sunday, May 30, 2010

Bertemu Janda Muda

Aku ketemu janda, oow-oow rambut hitamnya panjang tergerai, badannya singset meski sudah beranak dua, wajahnya manis dipoles make-up, bibir tipisnya berwarna pink merona, tingkahnya centil ohh bukan main! Usianya baru 27. Jangan sembarangan godain, janda ini temenku. Dulu kami satu kantor. Dulu kami sering email-emailan. Dulu kami sering makan siang bersama. Dulu… Dua tahun lalu temenku belum berstatus janda. Dua tahun lalu temenku masih sering membawa anaknya kekantor. Tapi itu dulu.

Pria keparat yang adalah mantan suaminya, meninggalkan temenku demi perempuan berusia 20 tahun. Temenku tidak hanya berstatus janda tapi juga harus menanggung biaya hidup untuk buah hatinya. Laki-laki sinting. Dasar gila. Bejat. Bajingan sialan. Gak berotak. Sejuta sumpah serapah aku umpat untuk si begajul itu. Temenku memang sedih, perih dan merana. Namun setelah beberapa waktu, dia bisa bilang ini:

"Gue gak mau sakit jiwa karena ini, gue harus tetap waras dan kuat demi anak-anak. Laki-laki kayak gitu gak pantes ditangisin!"

Dengan suara lantang aku jawab: "Emberrrrrrr, bener banget tuh Cong..."

Temenku sekarang ceria lagi. Sudah bisa senyum. Sudah bisa ketawa. Kulihat dia makin merawat diri. Tiap sore kutemui dia baru pulang dari salon dengan rambut mempesona. Kulihat dia memakai baju-baju yang sexy aduhai. Kulihat lirikan matanya semakin menggoda. Genit iiih, begitu kataku.

Selain rambutnya yang selalu stylish, yang paling aku suka dari temenku adalah keterbukaanya. Topeng kemunafikan tidak ada pada wajahnya. Saat orang-orang bernada sinis menyanyikan lagu dangdut “Kau masih gadis atau sudah janda?” temenku tak mau menutupinya. Terang-terangan temenku berkata jujur. Tidak satupun ditutupinya, dia tidak suka menutup-nutupi aib dengan berpura-pura. Aku suka keterbukaannya, karena untuk bersikap terbuka butuh keberanian.

Kudengar temenku sedang melamar kerja. Tentu saja demi anak-anaknya. Biaya hidup mahal chooy! Makanya temenku nyari duit halal. Jelas halal, karena dia bisa nyari duit halal, lha wong temenku itu sarjana dengan IPK 3.73.

Beberapa bulan kemudian temenku dapat kerja. Tapi kupingku mulai panas mendengar omongan orang disekeliling menghina dan menista temenku. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Perempuan yang tau beribadah. Perempuan yang hapal ayat-ayat suci. Perempuan yang tak pernah absen ke tempat ibadah. Perempuan yang merasa terganggu dengan kehadiran temenku.

Hei, jangan salah kira. Temenku bukan murahan. Dia bukan pelacur. Bukan juga perempuan yang suka mengganggu suami orang. Temenku memang centil, sedikit genit malah. Tapi aku tau dia tidak seperti itu. Coba bicara dengannya, mungkin 10-15 menit, pasti Kau akan melihat betapa temenku adalah perempuan yang legawa, smart juga sabar. Hidup telah mengajarkannya untuk tabah.

Apakah salah ketika semua pencobaan usai, dia ingin kembali menata lembaran baru?

Kenapa harus dihakimi saat hidupnya baru saja akan dimulai?

Apa ada yang salah dengan pembawaannya?

Bila salah, coba bilang 4 mata dengan temenku, bukan dengan semua orang.

Kasian temenku.
Dia menjadi janda bukan karena dia ingin.
Hidup yang membuatnya demikian.

Kasian temenku.
Baru dekat dengan karyawan bujang yang baru masuk kerja,
sudah gempar satu kota memandangnya.

Kasian temenku.
Penghakiman justru datang dari orang-orang
yang sama sekali tidak dikenalnya.


.........

Selepas membathin, hatiku terikut sedih. Membaca sebanyak-banyaknya doa yang bisa aku ucapkan. Aku tak mau dia melihatku mengasihaninya. Aku tau dia perempuan tegar.

Dia kuat.
Karena ada tertulis:
Tuhan menyayangi para janda juga anak yatim piatu.
Firman Tuhan bilang begitu.
Makanya, aku gak mau ikut-ikutan ngomongin orang, hanya karena dia janda muda.



Tuhan kasih aku bibir bukan untuk menyindir apalagi mencibir
Melainkan untuk memperkatakan hikmat dan pengharapan.