Tuesday, March 23, 2010

Saya, Lita & Masa Muda Kami...

Akhir-akhir ini saya kembali teringat kepada satu sahabat saya dari TK hingga kuliah. Nama sahabat saya itu adalah Elita Lastika. Kami berdua sama-sama lahir dari ayah yang setia berprofesi sebagai tentara dan besar di asrama militer Kopassus. Kami belajar di sekolah yang sama, juga memiliki aktivitas keseharian yang serupa. Saya dan Lita juga beberapa teman satu kompleks sering bersepeda memutari lapangan Atang Sutresna – tempat olahraganya para tentara Kopassus hingga tak peduli saat badan telah kehujanan dan kembali ke rumah dengan tawa riang. Saya dan Lita yang senang bermain in-line-skate di jalanan depan rumah kami dan sering dimarahi provost karena menganggu jalur tentara yang sedang berlari sore. Saya dan Lita yang sering berlarian menjemput ayah kami sepulang kantor dan berharap untuk mendapat sebatang coklat Silver Queen dari saku loreng mereka. Saya dan Lita yang senang berenang di kolam renang Tirta Yudha hingga maghrib tiba. Saya dan Lita yang ketagihan dengan Siomay Doa Ibu yang dijual sama Mang Encep di depan Lapangan Tenis Cijantung. Saya dan Lita yang sama-sama aktif, dan ceria sepanjang masa…

Saya dan Lita yang selalu ingin hidup seperti kupu-kupu, yang dapat terbang bebas, tak terikat dengan gravitasi bumi maupun aturan lain… Flying careless and free…
Lalu pada saat SMA, kami sama-sama dibelikan mobil sedan. Ceritanya, saat kelas 2 SMA, ayah berinisiatif membelikan saya mobil untuk keperluan transport dari rumah ke sekolah sampai ke tempat kursus inggris saya di EF Pondok Indah. Tak berselang lama, Lita pun ikut dibelikan mobil oleh ayahnya. Dan sejak itu, mulailah semua kegilaan serta petualangan belanja kami seantero Jakarta…

Tahun 1998 hingga 2003, yaitu dimulai saat masih kelas 1 SMA hingga sekitar tahun ke-tiga dari perkuliahan kami adalah masa-masa keemasan dari perekonomian saya juga Lita. Bagaimana tidak, pada tahun-tahun itu, ayah kami berdua sedang pada puncak karir masing-masing. Hidup kami berdua benar-benar bergelimang harta dalam bentuk uang jajan dan tentunya dana-dana lain dari orang tua hehehhe 
Setelah tamat SMA, Lita berkuliah di FE Trisakti dan saya di FPsi Untar, kebayang doung betapa dekatnya jarak kampus kami berdua dan bertambah eratlah hubungan saya dan Lita. Saya ingat sekali, jaman itu, kami sering tukar-tukaran mobil dan janjian pergi bareng. Sasaran perginya pasti ke Mall dan Kayaknya, gak ada Mall di Jakarta ini yang belum pernah kami jambangi.

Hari senin biasanya kami Nomat di PIM (dulu waktu awal saya kuliah mah belon ada Citos nih…), di PIM tentunya gak hanya nonton, kami pasti muterin Metro sambil nyari baju yang lucu-lucu hehehhe. Hari selasa, biasanya Lita ngajak saya main bowling di daerah Kelapa Gading, udah gitu pasti deh lanjut ke MKG – Mall Kelapa Gading sambil ngubek-ngubek ini dan itu. Hari Rabu biasanya agenda saya dan Lita adalah jogging di Senayan, dan pasti lanjut ke PS – Plaza Senayan nih emang paling tokcer deh kalo urusan fashion, saya sama Lita sering bela-belain pulang malem karena merhatiin the latest fashion trend yang lagi happening, untungnya pas saat itu kita emang lagi gak cepet capek, biarpun jalan berjam-jam tapi rasanya kok ini kaki gak pernah gempor dan tetap fun, ditambah uang jajan dari bokap masing-masing uuuhhh tambah semangat deh keliling hunting barangnya, jaman segitu saya sama Lita sampe punya tas dari Bally dan Cellini bok (hiksss wishing to go back to those sweet moments all over again…), lanjut ke hari kamis, pasti deh kita berdua kongkow-kongkow di daerah MTA – Mall Taman Anggrek atao Mall Ciputra deket kampus, sambil juga kita ngobrolin rencana weekend nanti mau nongkrong dimana hehhehe, pembicaraan kita gak jauh-jauh dari shopping place atau Mall pasti . Terus hari jumat, kita udah gregetan untuk pamerin mobil kita masing-masing yang udah di modif ke Parkit – Parkir Timur Senayan (guys, ngomong-ngomong Parkit sekarang masih ada gak seh…), waktu itu tuh, kita seneng banget gonta-ganti velg mobil sekalian nambahin aksesoris ini dan itu untuk kendaraan, langganan saya dan Lita biasanya ke ITC Fatmawati atau ke Ramanda di Depok, saya sampai bela-belain ganti jok sedan yang standar ke jok kulit nih atas saran Lita – secara dia juga pake jok kulit hehehhe. Hari sabtu dan minggu biasanya kita gak bisa ketemuan karena kita berdua udah sibuk ke Salon dan akhirnya kopdar sama pacar masing-masing hehhehehe

Kalo inget jaman itu tuh saya bawaannya ketawa melulu, soalnya hidup kok berasa happy and fun terus… Paling banter kalo gak ada duit, sasaran kita ke ITC Cempaka Mas (kita bilangnya ITC CEMAS hahhaha), MangDu atau ke Melawai, pokonya tiap hari bawaannya belanja melulu, non-stop dari pagi sampe malem…
Lita tuh sering ngajarin saya milih barang-barang elektronik kayak computer dan spare part mobil, kadang saya juga ngajarin Lita masalah mix and match baju (soalnya dia tomboy nih…).

Saya dan Lita gak bisa dipisahkan, kami benar-benar seperti amplop dan perangko yang saling cari-carian, bahkan saya sering nginep dirumah Lita saat Mama lagi nemenin Papa berdinas di Papua, tanpa malu-malu saya sering bawa baju dan nyelonong ke kamar Lita, atau pas pulang kuliah terus pas saya lagi laper, sering aja gitu dengan cueknya saya minta makan dirumahnya. Yang asyiknya lagi, jarak rumah kami berdua benar-benar dekat dan bisa dicapai dengan jalan kaki. Lita tau semua anggota keluarga saya dan dengan fasih menghapal sifat mereka masing-masing, demikian juga saya yang menyayangi semua keluarga Lita.

Lita yang ayah-ibunya berasal dari Lamongan asli, yang bicaranya medhok setengah mati sekaligus polos dan baik hati hingga membuat saya mengerti kearifan budaya khas Jawa Timuran. Saya benar-benar merasa berbahagia dengan jalinan persahabatan ini. Saya yakin, Lita pun begitu. Ibunya Lita yang biasa saya panggil Tante Eli pun sering menitipkan anak bungsunya ini pada saya, maklumlah Lita ini rada-rada keras dan manja, lagipula umurnya setahun lebih muda dari saya. Sebisa mungkin saya share tentang kesabaran hidup sama temen saya ini. Lita yang sering memacu adrenalinnya dengan selalu ngebut tiap kali nyetir mobil hingga saya sering “sekarat” bila duduk disampingnya. Lita yang sering gak sabaran saat macet menyapa jalanan Jakarta tiap kali kami pulang kampus. Lita yang tomboy namun memiliki koleksi kaset boy band yang paling lengkap. Lita yang selalu membelikan saya bubur ayam setiap pagi dan membuat saya tertawa dengan semua guyonan Jawanya. Lita yang kerap dipanggil “Mbak Pesek” oleh ibunya. Lita yang menyenangkan dan selalu membuat saya tertawa!
Lita is one of my BFF ever… (Best Friend Forever…)

Saya dan Lita juga punya panggilang sayang lho… Saya biasa memanggil Lita dengan sebutan BeLi alias Bebek Lita, sedangkan Lita manggil saya dengan sebutan BeNi alias Bebek Nisye. Orang-orang sering bingung sama kita berdua, karena saya dan Lita pasti manggilnya gak pernah pake nama masing-masing tapi dengan sebutan gini nih…

“Bek, Bek, tolong ambilin HP gue doung?” atau
“Bebek, liatin doung baju ini pantes gak buat gue?”
Hehehehe…
Seru!!!

Hidup waktu itu rasanya seru dan menyenangkan sekali… Tiap hari selalu ada canda dan tawa…

Lalu, sampailah kami pada suatu sore sehabis jalan bareng, dalam kemacetan Jakarta, disaat usia mulai merangkak naik dan memaksa kami untuk meninggalkan masa remaja. Pada suatu saat dimana kami “dipaksa” oleh waktu untuk menjadi wanita dan meninggalkan masa kanak-kanak kami. Meluncurlah kata-kata dari bibir merah sahabat saya itu… Kata-kata yang tak pernah bisa saya lupakan hingga saat ini.
Berikut petikannya:

“Bek… Kenapa yah usia kita harus bertambah hingga maksain kita jadi manusia dewasa?
Gue maunya kita jadi anak kecil terus…
Susah yah menjadi dewasa itu…
Banyak tanggung jawab yang harus dipikul…
Kenapa sih kita harus bertumbuh sedangkan masa-masa bahagia kita ada dibelakang saat kita kecil dulu…
Kenapa manusia harus menjadi besar…
Dan kenapa waktu harus berlalu…”

Mendengar hal ini saya langsung gagap, termenung dan benar-benar membeku…
Saya gak tau harus bilang apa… I have no clue at all…
Hari-haripun berlalu, saya sibuk dengan aktivitas Miss Indonesia juga bekerja di perusahaan tambang. Saya yang menjalani hari dengan segudang kesibukan demi meraih mimpi mulai tidak memiliki waktu untuk bersama sahabat kecil saya itu… Lita yang lebih dahulu menyelesaikan sarjananya, langsung menikah dengan perwira yang bertugas di Grup 5 Detasemen Anti Teror Kopassus, suaminya berpangkat Letnan Satu. Setelah Lita menikah dan mempunyai anak, saya pun makin kesepian.
Hidup sudah tak sama seperti dulu lagi… Saya tidak bisa seenaknya datang kerumahnya membawa bantal dan mengadakan sesi curhat bareng sampai pagi. Saya tidak bisa lagi seenak udel numpang makan seperti dulu, karena Lita sudah sibuk dengan kegiatan Persitnya (Persatuan Istri Tentara). Lita yang kini tinggal di Asrama Kopassus sudah benar-benar menjadi pribadi yang bertumbuh dan dewasa. Lita yang rumahnya masih satu daerah dengan saya di Cijantung namun rasanya sungguh jauh untuk dicapai, sungguh jauh dari jangkauan saya…

Setiap hari saya merindukannya, merindukan sifat lucu dan humorisnya, merindukan hidung peseknya serta semua guyonan ceriwisnya. Saya benar-benar kehilangan masa-masa kocak dan tawa jenaka kami. Tepatnya, saya benar-benar telah kehilangan masa-masa kecil juga masa remaja kami…

Waktu mendengar kalimat dan atau pertanyaan Lita diatas, saya bengong sendiri, gak ngerti mau jawab apa. Kayaknya saat itu saya belom ngerti maksud dari kalimat Lita itu. Dan sepertinya, baru akhir-akhir ini saya bisa sepenuhnya memahami bahwa manusia memang selalu akan bertumbuh besar dan tentunya menjadi dewasa adalah hal yang gampang-gampang susah untuk dijalani…. Bertumbuh dan besar dalam artian pertambahan usia juga membuat hidup kita memikul sekian banyak tanggung jawab…

Hmffff…
Manusia.
Lahir ke bumi.
Menjadi bayi lalu bertumbuh menjadi anak.
Menikmati masa kanak-kanak.
Bergerak ke masa remaja.
Belajar tentang hidup dengan melewati masa sekolah dan kuliah.
Memulai karir, bekerja dan mencari penghidupan yang layak.
Bertumbuh menjadi dewasa.
Menikah dan memiliki anak.
Lalu datanglah usia senja…

Dan saat waktu-waktu mulai berlalu dan siklus kehidupan perlahan-lahan mulai menyapa saya, akhirnya kalimat Lita pun semakin sering hinggap di hati dan pikiran saya…
Sampai saat saya menuliskan catatan ini, saya masih bingung harus menjawab pernyataan Lita tersebut dengan kata-kata apa. Saya masih mencari kata yang tepat untuk memberikan penjelasan yang baik dari sudut pandang saya kepada pernyataan Lita beberapa tahun lalu. Saya masih menyelami arti bertumbuh besar dan menjadi dewasa dengan tiap detik kehidupan yang Tuhan berikan.
Dan sampai sekarang ini, Saya masih berdialog dengan diri sendiri: Apakah saya memilih untuk sekedar menjadi besar atau pada saat yang bersamaan turut mengikutsertakan kedewasaan didalamnya?

Lita telah membukakan mata saya untuk mengenal satu siklus kehidupan yang absolute – yang sebelumnya tak pernah saya sadari…
Kini, siklus hidup manusia tersebut menjadi panduan saya untuk melangkah kedepan dengan belajar dari pengalaman masa lalu, mengenang semua kebajikan dan keindahan masa-masa muda kami serta menyisipkan bumbu-bumbu kedewasaan dalam menjalani pertambahan usia hidup…




(Kangen Lita…
Beruntungnya saya memiliki sahabat setulus, sekocak, sepolos, sekacau, secantik, semodis dan sebaik dia ini...)