Thursday, May 14, 2009

Bila Kau Berlari Terlalu Kencang...


"Gimana kabar, Sayang..." Suara dibalik telepon itu menyapaku lagi siang ini. Malas-malasan kujawab pertanyaannya: "Baik-baik aja Yang..." Lalu kami terdiam. Desahan nafasku mengisyaratkan kata-kata yang belum sempat terucap untuknya. Aku tidak mau mengeluh lagi. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiriku: Tidak Boleh Mengeluh, Nisye!

Suaranya diseberang telepon sana seperti membaca hatiku, "Sabar yah Sayang..." Dan benar, aku memang harus sabar... Tidak ada lagi kata-kata keluar dari bibirku. Disini, di Arizona yang yang tak berpantai, hidupku telah berlabuh kepadanya. Perahuku telah berlabuh dipelukan pantai seorang insinyur tambang. Telah kutinggalkan semua mimpiku dan semua hal yang kuinginkan di Jakarta, demi pria ini. Ini keputusanku. Aku telah memutuskan untuk tidak menerima tawaran pekerjaan yang menggiurkan itu demi dirinya. Aku telah memilih untuk hidup bersamanya disini. Lalu, kututup email berisi tawaran pekerjaan itu.

Pria itu berkata lagi: "Sayang, bila kau berlari terlalu kencang, kau tak akan melihat indahnya pemandangan disekelilingmu... Terkadang, kita perlu berhenti sejenak untuk menikmati hidup dan me-recharge kembali baterai hidup kita...".

"Usia-mu kan baru dua puluh empat, Sayang take it easy, banyak kesempatan lain yang akan menyapamu..." Pria itu mengatakan hal ini dengan suara lembut namun tegas.

Aku berusaha mengolah kata-katanya barusan. Dia benar... Aku perlu berhenti sejenak. Aku memang membutuhkan waktu sejenak untuk melihat indahnya dunia.

Cukup! Tidak ada keluhan lagi... Aku mengucapkan terima kasih kepadanya sambil berbisik: "Sayang, maafkan aku yang ingin berlari terlalu kencang...".