Thursday, October 16, 2008

Kisah Persahatanku Dengan Freeport's First Lady



Malu-malu kusebut namaku: "Saya Nisye, Bu...". Dia tersenyum hangat dan berkata: "Mari masuk Nis, Kamu dari Papua ya?". Dan mengalirlah percakapan yang tak terlupakan antara aku dan wanita ini. Hari itu aku membantu mengatur persiapan Open House Idul Fitri di rumah Presiden Direktur Freeport Indonesia, bila bukan karena hal ini, mungkin kisahku tak akan pernah terjadi. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan wanita berkulit putih itu, sudah berulang kali kami bertemu dalam acara gathering perusahaan, namun aku tidak tau apakah dia mengingat namaku atau tidak. Maklum, dia seorang istri Presdir dan aku bukan siapa-siapa, hanya karyawan administrasi saja. Aku bukan Manager juga bukan Vice President, bukan pula relasi bisnis suaminya. Namun, aura wanita itu begitu tenang, hawanya ramah menetramkan hatiku yang takut salah langkah didepan matanya.

Kami duduk di ruang makannya yang super besar, awalnya kami hanya berbicara mengenai lay-out kursi dan meja makan, design tenda, catering makanan dan persiapan untuk tamu lainnya. Lalu, kami terlibat dalam pembicaraan mengenai pekerjaan. Dia bercerita mengenai pengalamannya pertama kali bekerja di Freeport, juga awal pertemuannya dengan seorang Armando Mahler yang kini menjadi suami sekaligus ayah bagi ke-tiga anaknya. Kuperhatikan wajahnya yang keibuan itu sambil sesekali mengangguk dan tertawa kecil mendengar ceritanya. Kata-kata yang keluar dari bibirnya merupakan magnet bagiku, aku terkesima dengan santun bahasanya dan pribadinya yang humble. Aku tidak menangkap kesan keangkuhan seorang istri pejabat dari wanita ini. Bila meminta bantuan, dia pasti menomorsatukan kata "Nisye, Tolong kah...". Bila dia cemas mengenai sesuatu, yang keluar dari bibir tipisnya adalah: "Nisye, Saya pingin ini...". Wanita ini sungguh membuatku sangat bersemangat dalam menangani project Open House ini.

"Sudah berapa lama kerja di Freeport, Nisye?" Dia bertanya padaku. Belum sempat kujawab, mengalir lagi kata-kata darinya: "Kunci bagi orang yang sukses adalah jujur, kerja keras dan berdoa Nis...". Nasihat demi nasihat keluar secara lugas darinya. Banyak pengalaman manis dan pahit telah dilalui wanita ini selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan tambang. Satu yang selalu dia tekankan kepadaku adalah kesabaran. Dan benar, dia telah mempraktekkan kesabaran itu, wanita yang duduk didepanku ini adalah hasil dari kesabaran yang dipupuknya selama puluhan tahun. Tentu bukan persoalan yang mudah baginya untuk setia mendampingi juga mendoakan seorang insinyur tambang dan hidup di kota kecil bersama tiga orang anak. Dia ceritakan masa kecilnya habis di kota Tondano, Sulawesi Utara dan bersama saudara-saudaranya dia merantau ke Papua hingga berhasil mendapatkan pekerjaan ini. Lalu setelah suaminya dipercaya menjadi VP, barulah dia mengambil keputusan resign dari pekerjaannya. Tapi kegiatannya tak berhenti sampai disitu, dengan semangat dia menceritakan aktivitasnya sebagai ketua PWT-Persatuan Wanita Tembagapura (perkumpulan istri karyawan Freeport Indonesia di Jobsita, Papua) dan PWKK. Ditunjukkannya kepadaku keahliannya dalam menyulam, menjahit dan memasak!

Fantastik! Dimataku dia hebat sekali! Dia seorang wanita karir yang jago memasak, menyulam dan menjahit! Suaminya pasti bahagia sekali hidup dengannya. Sambil melihat area design di kolam renangnya yang luas, dia berbisik kepadaku: "Nisye, kalo sudah nikah, nanti harus bisa ikat suami dengan masakan". Hahhaha aku tertawa keras sambil melihat matanya yang bulat, lalu dia memelukku. Dan kita tidak lagi membicarakan assignment project Open House ini. Sejak hari itu, kita berdua adalah teman. Pagi-pagi sebelum Open House berlangsung, dia melihatku mengenakan kebaya biru, dia berbisik ditelingaku: "Nisye, ini ngana pe pesta, karena ngana yang paling cantik hari ini..." Bulu kudukku berdiri, alamak, aku benar-benar GR. Hahhaha. Kutunjukkan padanya sepatu Rotelli seharga Rp 400.000 yang sengaja kubeli untuk acara ini. Dia tertawa kencang sambil berkata: "Your high heels is pretty, Saya juga senang high heels tapi itu dulu waktu masih muda..." Hahhaha. Semua wanita di dunia ini memiliki kesamaan: sama-sama menyukai sepatu cantik!

Open house selama 2 hari dikediamannya yang megah di jalan Sriwijaya berlangsung meriah. Banyak sekali tamu-tamu VIP dari kalangan pemerintah dan swasta yang datang berkunjung. Diakhir acara, aku berpamitan pulang dengannya juga kepada suaminya, wanita itu memelukku erat-erat dan mengucapkan terima kasih. Sejak itu, kami sering berbalas-balasan email. Dia sering mengirimiku email-email berisi nasihat hidup. Wanita itu juga mengucapkan selamat untuk pernikahanku. Saat kuceritakan kepadanya bahwa aku berada di Arizona, dia ternganga dan kaget luar biasa, namun sejurus kemudian kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah petuah-petuah yang terdengar indah bagiku. Sosoknya adalah inspirasi bagiku. Persahabatanku dengan wanita ini membuatku percaya bahwa diluar sana, benar-benar ada wanita karir yang lemah lembut, matang dan jago memasak! hahhahha :-)

Terima kasih Tante Fany.... Hidupku tidak lengkap bila tak mengenalmu :-)