Tuesday, April 22, 2014

2014 Health Resolution


Hello Pals! 

I'm gonna tell you my 2014 health resolution: being outdoor as much as possible, soak up the sun & more greenery view for freshness! I've done my 1st solo trekking #Tembagapura to Hidden Valley today, inspired by @ernilusi yg skrg juga lagi trekking di Ubud...

Hey btw what's your health resolution? 


Ofcourse Heng would kill me if he finds out bout  this... Hahahahahah ;)

Saturday, April 19, 2014

Sedikit Cerita Tentang Prabowo, Sang Pembawa Kesejahteraan bagi Prajurit & Cijantung




Sebagai individu yang disekolahkan oleh orang tua dan diberikan pendidikan budi pekerti sejak kecil, adalah baik adanya bila kita menyampaikan pandangan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu dengan bahasa yang sopan dan jika memungkinkan, kritik tersebut juga disertai dengan masukan / saran yang membangun. Pada beberapa waktu belakangan ini, saya membaca / melihat / mendengar banyak kritikan tajam, pedas bahkan cenderung seronok yang ditujukan kepada seorang Capres Gerindra yaitu Prabowo Subianto. Berbagai issue, masalah dan hal negatif ditujukan bertubi-tubi kepada beliau. Saya amat miris dengan banyaknya pemberitaan miring tersebut.

Mengutip tulisan dari Dr. Stephen Covey (penulis buku: The Seven Habits of Highly Effective People) yang berkata bahwa: "we simply assume that the way we see things is the way they really are or the way they should be. And our attitudes and behaviors grow out of these assumptions". Ingatlah bahwa apapun yang kita lihat dan kita dengar lewat pemberitaan yang beredar merupakan asumsi, apapun bentuknya, siapapun yang menuliskan, ingatlah bahwa kebenaran hanya milik Tuhan dan tentu saja azas praduga tak bersalah harus tetap kita junjung tinggi, karena seorang hakim yang agung pun dapat berbuat salah dan belum tentu segala macam pemberitaan yang ada mengandung fakta yang sahih dan benar. Bear in mind that, everything we hear is actually assumptions. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru malahan percaya mentah-mentah dengan asumsi. Parahnya lagi, masyarakat kini tidak menggunakan etika sopan santun dalam mengemukakan ketidaksetujuan mereka terhadap sesuatu / sesorang yang tentunya, lagi-lagi berdasar dari asumsi.

Tulisan saya ini tidak bertujuan untuk mengubah pandangan masyarakat tentang siapa Prabowo Subianto, melainkan hanya untuk membagikan sedikit pengalaman tentang siapa Prabowo Subianto bagi warga Cijantung. Sejak kecil, telinga saya sudah akrab dengan nama Prabowo Subianto. Ayah saya yang berprofesi sebagai tentara Kopasandha merupakan anak buah langsung dari Prabowo. Pada operasi Tim-Tim 1983, Tim Nanggala yang dikomandani oleh Prabowo, sebagai tentara, ayah saya ikut didalamnya, pada tahun tersebut pula saya lahir dan surprisingly, walau dalam hutan belantara, tengah berperang dan ayah sedang memburu fretilin demi kedaulatan RI, tiba-tiba diperintahkan Prabowo untuk naik helikopter berangkat menuju Cijantung menengok proses persalinan Ibu sekaligus menggendong saya sebagai putri pertama ayah. Tawaran tersebut sangat menggiurkan apalagi bagi tentara non-jawa seperti ayah yang berasal dari Papua, dan notabene pada kesehariannya jauh dari perlakuan istimewa ataupun privileged khusus dari para senior. Dengan pertimbangan profesional dan enggan meninggalkan anak buah di belantara medan Tim-Tim, ayah saya yang saat itu berpangkat Lettu menolak dengan penuh hormat tawaran Prabowo dan memilih untuk tetap menegakkan bendera RI bersama anak buah di medan perang. Ketika mengetahui alasan dari ayah, Prabowo langsung menyodorkan telegram dan perangkat komunikasi kepadanya untuk dapat mendengar kabar dari Ibu dan suara bayinya. Pada kesempatan itulah, Prabowo juga memberikan kado lewat istrinya (Ibu Titiek) berupa seperangkat pakaian bayi dan sebuah kulkas Sharp (yang pada jaman itu tentunya merupakan suatu fancy gift) kepada ibu sebagai tanda kenang-kenangan dari mereka. Kulkas tersebut bahkan masih tersimpan rapih di rumah kami di Cijantung. Pemberian perhatian dan apresiasi bagi ayah dan ibu saya dari Prabowo dan Ibu Titiek merupakan tonggak awal kepercayaan kami kepada kepemimpinan berwawasan nasional Bhineka Tunggal Ika yang dijalankan oleh Prabowo.

Menjadi tentara Papua pertama yang masuk dalam jajaran pasukan khusus merupakan hal yang membanggakan dan sekaligus memerlukan kebesaran hati bagi ayah. Sejak kecil saya melihat banyak perlakuan diskriminatif bagi orang yang berasal dari Indonesia timur. Andai kata saat muda dulu, ayah memiliki mentor yang bisa dijadikan contoh, juga sosok kebapaan yang mampu menaungi dan menyejukkan hati para tentara muda dari Indonesia timur seperti layaknya saudara-saudara lain yang terlebih dulu memiliki mentor dari para abang mereka dari Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang jumlahnya sangat banyak di TNI tentu jalan bagi ayah menuju bintang lebih mudah. Namun ayah selalu berkata: apalah arti kesuksesan mengemban pangkat bintang bila tanpa bersusah dan berpeluh.

Ketika banyak senior ayah di TNI yang justru lebih mementingkan suku, rasa dan golongannya sendiri, ayah dan keluarga kami justru melihat semangat keberagaman dari seorang Prabowo. Beliau tak pernah berhenti merangkul ayah dan rekan-rekan dari Papua dan Indonesia timur lain untuk diberikan prioritas sekolah mulai dari Suslapa hingga Sesko AD bagi prajurit yang berprestasi tanpa mementingkan suku dan asal, ini merupakan hal kontradiktif dalam kepemimpinan di TNI AD. Bukan rahasia lagi bahwa kesempatan sekolah di TNI merupakan gerbang untuk menjadi pucuk pimpinan tertinggi sesuai dengan posisi jabatan yang makin mengerucut seperti segitiga. Bukan rahasia lagi bahwa tentara dengan kondisi fisik paling kuat di TNI kebanyakan justru berasal dari Indonesia timur, aktivitas fisik seperti samapta, lari, berenang, menembak, cross-country dan sejuta kegiatan perang yang dilakukan di alam bebas merupakan hal biasa bagi orang timur.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa praktik kesukuan dan chauvinisme masih berlanjut hingga saat ini menyebar di instansi manapun termasuk di tubuh TNI. Bukan rahasia lagi bahwa sehebat apapun seorang tentara berlaga di medan perang, namun apabila dia tidak memiliki backing/rezim yang kuat untuk menopang, maka karir mulus bak jalan tol adalah sebuah hal yang mustahil. Tetapi hal ini tidak kami lihat dari sosok pemimpin bernama Prabowo. Beliau senantiasa hadir dan memberikan banyak kesejukkan bagi tentara yang nota bene tidak memiliki backing-an orang kuat. Prabowo yang adalah keturunan Jawa ningrat, mampu merangkul dan menjadi bapa bagi rekan-rekan Indonesia Timur. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Prabowo banyak menyekolahkan anak-anak korban perang Tim-Tim yang dia bawa langsung dari Timor ke Jakarta hingga bangku kuliah dan beberapa telah masuk Akabri. Saya juga melihat sendiri bahwa beberapa anak angkat Prabowo berasal dari Kalimantan, Ambon dan Papua. Bahkan ketika saya kecil, saya sering dajak ayah bertandang ke rumah dinas beliau dan melihat bahwa ajudan, caraka, supir, asisten pribadi yang bekerja di rumah Prabowo berasal dari Timor, Papua, Manado juga tentunya dari Jawa. Kepemimpinan dengan azas lintas suku seperti ini merupakan hal yang sulit dicari saat ini.

Tidak hanya itu, ayah yang ketika itu masih berpangkat Letkol dan terlalu sibuk bertugas menangani masalah Logitik Mabes Kopassus mengalami kesulitan dalam meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi di Sesko AD, tak segan-segan Prabowo memberikan surat rekomendasi kepada Komandan Sesko dan Panglima ABRI yang ketika itu dijabat oleh Jenderal Wiranto. Luar biasa, surat rekomendasi tersebut merupakan awal dari proses ayah saya menjadi prajurit Papua pertama di TNI AD yang berpangkat Brigjen. Surat rekomendasi dari Prabowo merupakan momentum berharga, tidak hanya bagi keluarga kami, namun juga bagi sejarah kepemimpinan TNI AD bahwa negara ini juga selalu berupaya untuk merangkul Indonesia Timur kedalam peta Bhineka Tunggal Ika. Alangkah indahnya bila pemimpin di Indonesia memiliki hati non-blok seperti Prabowo yang fair dalam menilai tanpa melihat embel-embel suku, rasa dan agama dari anak buahnya namun melandaskan penilaian kepada kemampuan sang sub-ordinate. Pada era kepemimpinanya, Prabowo mampu menghilangkan prasangka dan chauvinisme hingga sukses menerapkan Bhineka Tunggal Ika setidaknya di tubuh Kopassus.

Memasuki tahun 1996, Prabowo dilantik menjadi Danjen Kopassus dan berkantor di Mabes Kopassus yaitu di Cijantung. Kala itu saya masih duduk di bangku SMP. CIjantung bagi sebagian orang hanyalah Kelurahan kecil yang penuh dengan tentara memakai baret merah. Belum terdapat sentra ekonomi dan perdagangan yang baik. Akses jalan sering berlubang dan cenderung sepi. Belum ada tempat nongkrong yang layak bagi tentara Kopassus dan keluarganya, apalagi tempat meeting yang memiliki fasilitas memadai seperti proyektor atau ruangan ber-AC. Satu-satunya tempat makan yang lumayan bersih dan memiliki kipas angin hanyalah RM Bu Moer di Jalan Kesehatan, itupun berdiri sejak tahun 80an. Cijantung belum seramai sekarang, Cijantung pada medio 90an masih dkatakan kampung, padahal di keluarahan tersebut, berdiri sebuah markas besar pasukan elit Indonesia.

Berangkat dari itu, sepertinya jiwa sosial Prabowo terketuk. Lewat Kobame (Koperasi Baret Merah, milik Kopassus), Prabowo dengan jaringan wirausaha yang dimilikinya (ingat, adik dari Prabowo: Hasyim merupakan pengusaha sukses di Indonesia, dan Prabowo merupakan putera dari begawan ekonomi Indoesia) yang tentunya memiliki network permodalan yang luas dan strategi ekonomi yang berbasis kerakyatan, membangun Graha Cijantung (saat ini dinamakan Mal CIjantung) yang memiliki 5 lantai sebagai pusat perbelanjaan, dolanan kuliner dan hiburan bagi tentara dan masyarakat Cijantung. Prabowo sengaja memilih tenant yang menjual barang tidak terlalu mahal agar tentara dan masyarakat turut dapat menikmati geliat perkembangan ekonomi. Asal tau saja, dulu sebelum Graha Cijantung dibangun, kami harus jauh-jauh naik turun angkot ke Pasar Minggu atau ke Kramat Jati Indah untuk sekedar membeli kebutuhan sehari-hari terutama berupa sandang yaitu baju Natal/Lebaran dan pangan yaitu kebutuhan kuliner: makan bersama keluarga. Kehadiran Graha Cijantung praktis membuat tentara dan masyarakat tak perlu membuang ongkos terlalu banyak untuk menikmati kemewahan sebuah Mal. Pembangunan sentra ekonomi ini juga membuat remaja seperti saya mendapat akses yang mudah untuk memiliki quality time bersama ayah, menghabiskan akhir pekan dengan menonton bioskop atau sekedar makan di resto cepat saji bersamanya yang selalu sibuk dengan urusan negara, semua ini tak perlu jauh-jauh, hanya berjarak selemparan batu dari kompleks perumahan tentara. Selain itu, Prabowo juga memberikan opsi kredit bagi tentara yang hendak membeli unit di Graha Cijantung yang entah untuk disewakan kembali atau untuk dibuat menjadi tempat usaha. Pekerja di Mal CIjantung juga merupakan warga Cijantung, entah pemuda yang setempat yang sedang nganggur atau juga janda yang suaminya telah gugur atau pensiunan prajurit yang masih ingin berkarya. Perlu diketahui bahwa segala macam pengelolaan dari Graha Cijantung sepenuhnya dikerjakan oleh Kobame. Sehingga segala keuntungan yang didapat pun praktis menjadi keuntungan anggota koperasi Kobame yaitu para tentara Kopassus lewat sistem bagi hasil. Prinsip Berdikari telah dilakukan Prabowo bahkan sejak dulu kala, tak heran bila Gerindra mengusung prinsip ini.

Atas terobosan seperti itu, Prabowo tidak hanya membuktikan kepemimpinan kerakyatan yang dimilikinya namun juga hatinya yang haus untuk menjadi berkat dimanapun dia ditempatkan. Setidaknya, selama 1996-1998 kepemimpinannya sebagai Danjen Kopassus memberikan banyak manfaat bagi Cijantung dan legacy yang ditinggalkan masih ada hingga hari ini. Pada skala kecil, saya ingat bahwa dulu prajurit dengan pangkat menengah kebawah amatlah susah untuk mendapatkan kredit kepemilikan kendaraan dari Bank, pada masa kepemimpinannya, Prabowo memberikan fasilitas potong gaji tanpa bunga untuk prajurit yang berminat membeli sedan Timor. Terobosan ini seingat saya merupakan kolaborasi pertama antara institusi elit pasukan khusus Indonesia dengan swasta yang memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan prajurit dan keluarganya.

 Saya bisa menuliskan banyak contoh lain tentang keberadaan Prabowo bagi prajuritnya, bagi warga Cijantung dan sebagainya, tetapi semoga kisah diatas membuka sedikit cakrawala kita bahwa Prabowo juga terbukti memiliki hati untuk menjadi berkat. Legacy yang ditinggalkan, masih terpampang nyata di Cijantung dan di hati masing-masing prajuritnya. Menganai berita yang beredar di masyarakat tentang pelanggaran HAM, atau tentang kepergianya ke Jordania untuk menenangkan diri, ingatlah selalu bahwa setiap orang memiliki alasan dan pertimbangan sendiri untuk keputusan yang diambilnya. Ingat juga bahwa penghakiman hanyalah milik Tuhan, tak seorang pun di dunia ini benar adanya. Saya menulis ini untuk memberitakan hal yang mungkin hanya segelintir orang saja yang mengetahui siapa seorang Prabowo sebenarnya. Hanya sedikit orang yang mengerti buah tangan dan sepak terjang dari sosok Prabowo. Ini merupakan pengalaman pribadi terhadap tokoh yang dekat bagi keluarga saya. Seringkali, kita hanya menilai sesuatu dari pemberitaan yang sifatnya hanya asumsi. Terkadang kita juga mengambil keputusan pro dan kontra karena kurang memiliki informasi yang akurat. Pemberitaan yang beredar akhirnya berhasil membentuk opini tertentu pada diri kita yang terkadang hanya berasal dari satu arah saja. Seringkali pemberitaan dan informasi yang kita dapatkan: kurang bahkan tidak berimbang sama sekali sehingga kedua kaki kita mudah goyah terombang-ambing issue dan asumsi.

Ketika melihat pemberitaan tentang Prabowo dan pelanggaran HAM karena profesinya sebagai tentara. Saya tak serta merta dapat menghakimi beliau. Ibaratnya, saya sebagai anak tentara yang disekolahkan oleh ayah dengan air mata dan darah bagaikan sedang menunjuk hidung orang tua dan menyalahkan pekerjaanya yang justru telah membuat saya hidup berguna bagi masyarakat. Ayah saya juga berperang di Tim-Tim dan mungkin saja bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan paling kejam yang ada dunia. Namun ketahuilah bahwa setiap prajurit hanyalah pelaksana instruksi belaka, Ia mengemban misi negara yang luar biasa penting, mengibarkan sang saka merah putih di tiap nafasnya, memegang teguh janjinya untuk patuh dan tunduk pada insititusi militer tempatnya bernaung dan bersatu untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Mampukah saya menatap matanya untuk mengatakan bahwa dia bersalah karena pelanggaran HAM? Dia ayah saya, yang menyekolahkan saya dan adik dengan air mata dan darah, yang tidak mungkin berkata "tidak" bagi setiap perintah dari atasannya. Sekalipun dia bersalah, biarlah Tuhan yang mengetahui sekaligus mengampuninya...

Saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mengenal lebih jauh tentang Prabowo lewat tulisan ini. Entah kalian akan tetap membenci atau mendukungnya, saya tidak akan membahas lebih lanjut, saya hanya ingin mengingatkan kembali bahwa penghakiman adalah hak Tuhan, kebenaran di dunia ini hanyalah milik Tuhan, bahwa pro dan kontra, kritik dan saran kiranya dapat kita komunikasikan dengan santun, bila perlu disertai dengan saran yang membangun...

Toh katanya, Indonesia adalah bangsa yang berbudaya?

Friday, April 18, 2014

Gals Day Out at Laduree Paris


I'm so happy that my trip to Paris last month, I could manage some time to go to Laduree with my current fave gal: Mbak Disti. She's the owner of United Dance Work at Kemang Jaksel :) Accidentally we're kinda find ourselves having same fashion sense ;) I adore her entrepreneurship, running business with 2 kiddos aren't easy at all, but she can do it all. Hebatttt!!!

Anyway, on that day, She and I had a great time together having lunch, tasting Laduree's famous macaroons and sipping a glass of white wine. Up until today I'm still wondering what kind of wine that they served us coz it tastes sweet and crisp at the same time ;) Am not a big fan of wine but I like the way it tastes tho Hahahhahaa ;) The server lady told me that it's a rose wine (a few minutes latter I realized that it's actually not white but more like a rose wine, pardon my jet lag eyes hahahaha). 

Anyway, Laduree on that afternoon was packed with people, actually: beautiful people... The women dress nicely and the man are gorg! Macaroons taste so soft and melted easily in my mouth, not too sweet and so yummie. They have different tastes: chocolate, creme or strawberry! I could put all those macaroons inside my mouth if only Mbak Disti wasn't there Hahahhahaa ;) 

The other thing that we both love about Laduree is: they decorate their cafe like a true Parisian aristocrat dining room and the place is so cozy that successfully made us feeling like a Royal hahahahahah ;) 

We love the place so much! I cudn't wait to go back there ;) thank you Lord for the opportunity... I cudn't ask for more as your blessing keeps showering me! 





Natarajasana Pose


The Dancer pose, or Natarajasana, is a standing pose used to reduce menstrual discomfort and increase the lung capacity. This simple pose will also energize the mind and help relieve mild depression and anxiety.



Wednesday, April 9, 2014

Bersahabat dengan Tembagapura


Dulu waktu baru datang kesini, aku jauh dari rasa betah, tiap hari telpon Mama & aku maunya pulang ke Cijantung. Aku sempat minta Heng cari kerja di tempat lain. Kami pernah site visit ke Mexico, US & berkali-kali ke Aussie hanya untuk keluar dari kota ini...

Tapi anehnya, semakin aku sebel, justru Tuhan semakin kirim banyak berkat untukku di tempat ini. Bentuk berkatnya apa saja, dari materi hingga kekayaan rohani. Heng bahkan pernah promosi 2 kali dalam setahun! Pada saat yang bersamaan Tuhan juga memberikan karunia kebapaan, hikmat dan cinta pada kami berdua. Berkat dari Tuhan banyak sekali. Sangking banyaknya, aku sampe malu sendiri! Seolah Tuhan ngasih berkatnya sambil pamer sekaligus marah sama aku. Mama bilang, untuk itu aku gak boleh berkeras hati. Hidup itu dinikmati & dibikin enak tiap hari, bukan dilihat dari mata manusia tapi dari penyertaan Tuhan... 

Gak nyangka sekarang aku sudah masuk tahun ke-5 disini. Bila aku sebuah pena, maka aku sudah menuliskan berlembar-lembar cerita penuh sukacita dari tempat ini, tetapi biarlah Tuhan yang menyusun alurnya sehingga apapun yang aku kerjakan seturut dengan kehendakNya... Sekuat apapun manusia berusaha, alur hidupnya tetap diatur oleh Tuhan bukan? 

Bagaimana dgn kamu... Apa ceritamu tentang kotamu saat ini? Share dongs...

this dark curly Papuan girl...




I was born & grew up in Jakarta. Being the only Papuan girl at school was a tough one. I was probably the only dark skin female with a curly hair they ever seen in their entire life. 

Commercials & society have taught Indonesian one standard: white-skin girl with a straight hair is beautiful. Period. So I spent lots of money rebonding my hair & buying ridiculous lotions to make my skin whiter, I was trying too hard to meet their standard. Until a person came to my life told me this: 

"Each woman is beautiful in their own way. Having a dark skin is exotique & curly hair is unique... You are beautiful in your own way... This is your life, take control of it. Happiness isn't come because of a certain standard". 

From that moment, I stop living other people's dream, I throw away my old low self-esteem and let myself grow just the way I am. I'm no longer putting too much energy thinking what other's assumption about how do I look like... 

This is my 7 years living with Heng. I thank him for opening my eyes & showing what true beauty means. He told me I'm beautiful everyday with / without make-up, with / without my hair styling gel. The only regret is why it took me so long to understand that... But hey, better late than never rite? Don't waste your time too long like me... You don't need anyone to convince you... 

Bear in mind that: you are beautiful in your own way... Never let society fools you. You are beautiful and you are worthy... Happiness starts when you take control. Confidence is the key... 

Sunday, April 6, 2014

---


Sudah pukul 23.00 waktu Indonesia Bagian Timur dan saya masih menatap foto-foto liburan bulan lalu diantara suara televisi yang masih menyala. Di medio 2014 ini tak terasa saya sudah bersamanya selama 7 tahun, waktu seolah berputar amat kencang dan saya telah dibuatnya berjalan amat cepat. Rasanya baru kemarin Heng mengajak saya makan malam di Chatter Box Kuningan pada kencan pertama kami, rasanya baru kemarin berlelah melakukan foto preweding di Kota Tua, rasanya baru kemarin menikmati traveling pertama kami di Arizona...

Dalam sekejap mata semua berubah dengan cepat, waktu melaju dengan kecepatan melebihi rata-rata dan bila tak ada kesempatan untuk menikmatinya, berbagai macam moment dalam hidup hanya akan terlewat begitu saja... Saya terhenyak sejenak. Berpikir keras dalam renggukan rembulan malam, masih bertanya dalam hati: moment apa yang telah terlewat begitu saja? 

Semoga saja tidak ada yang terlewat tanpa saya syukuri... Saya ingin menikmati semuanya bersama Heng, susah dan senang selamanya... Bila ternyata ada sedikit waktu untuk kami berhenti, kami ingin menikmatinya bersama... Bila waktu tetap berputar cepat, tak mengapa kok, asalkan saya tetap berjalan bersama Heng...

Selamanya...

Friday, April 4, 2014

Live Your Passion!




Bahkan hampir setahun setelah saya resign pun bos & kolega kantor masih sering menelepon sekedar menanyakan kabar, membahas pekerjaan & tak henti-hentinya mengingatkan bahwa posisi tsb masih dibiarkan vacant, katanya "jaga-jaga" siapa tau saya kangen pingin kerja lagi. Aduhhh siapa sih yg gak terharu denger hal ini... Siapa sih yg gak tergiur utk kembali kerja di departemen yg rasa kekeluargaannya sangat kental, super-asyik & melapor kepada para bos yg luar biasa baik... 

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan bertambahnya usia, prioritas orang bisa berubah, apa yg dulu dirasa "penting", "harus" & "menyilaukan-mata" dalam sekejap bisa berubah... Saya pun demikian. People change and so does priority... Sejujurnya saya sudah cukup puas dikasih kepercayaan menjabat sebagai Sr Officer IR Psychology. 

Memasuki usia 30 ini saya makin ingin dekat dengan keluarga. Dekat dengan Heng, Orangtua, Ipar, Adik, Ponakan & Sepupu. To be honest, I love my job, but on a certain level, keinginan & passion bisa berubah menjadi kebutuhan lalu mengalahkan semuanya. Don't get me wrong, I don't ask you to leave your job. Dalam kasus ini, keinginan saya untuk dekat dengan keluarga amat sangat kuat & berubah menjadi kebutuhan. Tidak semua orang seperti saya. Mungkin ada yg ingin mengejar passionnya di bidang kuliner/membuka cakeshop, mungkin ada yg berkeinginan kuat utk mendapatkan overseas scholarship, mungkin diantara kamu ada yg ingin pindah kerja ke bidang lain sesuai cita-cita masa kecil dulu, mungkin ada juga yg bertekad untuk promosi tahun ini atau pingin beli rumah lagi. 

Apapun yg kamu inginkan, apapun itu, pastikan bahwa hal yg kamu kerjakan saat ini adalah jalan yg sedang membawamu kepada kebahagiaan hatimu... Jangan berada terlalu jauh dari koridor rencana hatimu, karena semua hal yg baik sekalipun, bisa berubah menjadi tekanan bila tidak ada passion... 

Ingat deh, sekarang sudah hampir pertengahan tahun, coba rewind lagi resolusi awal-tahunmu, mari kembali ke tujuan awal, petakan posisimu saat ini, raih kembali mimpimu & nikmati setiap liku perjalanannya...
Remember: you only live once, make sure you ENJOY the ride...

#YOLO #passion #priority #CarpeDiem #SeizeTheDay #TheHappyWifeHappyLifeClub

Reminiscing Time...


Back on my early college life, my family had a financial problem coz my Dad was discovered having a terrible diabetes. I was so afraid of losing him & being drop out from college. So my mom sold some of our properties & have the money to get the best medication for my Dad, while me concentrated on finding a job to fund my study. Then, I joined a beauty contest on 2005, the Miss Indonesia program was aired on RCTI that year. From this  pageant I got lots of friend not only from the entertainment industry but also from many other business in this country, from them, I got some links to find a job. Before Freeport, I met lots of people in showbiz business whom had helped me a lot. They're not perfect, they smoke pots, they do drugs & some of them are alcoholic but they treat me respectfully as they know what truly happened inside my family. I worked as a master of ceremony on many many occasions from one cafe to another cafe & have them sitting/partying with me but strangely, they didn't harm me any single time. They get drunk, they smoke pots in front of my eyes but never ask me to do such things because they fully understand that I have no other chauffeur but myself to drive my old Toyota back home safely. I hang out with jerks & assholes. I work with the sinners. But honestly I don't see any evil in their eyes. People called it "networking" but I called it "a blessing..." cause believe me, when you have a good heart, The Owner of The Universe will lead you to His Light even if you had to walked thru the darkest alley, His mercy will endures forever... 
If rite now youre having problems or difficulties on anything, always maintain your heart, do good & be good, remember that blessing comes NOT because of our strength alone but it is Him who opens the door...
It is Him who opens all door of possibilities...

Thursday, April 3, 2014

Tentang Saya, Traveling & Heng ;)


Baru kembali ke tanah air, komentar dan sapaan yang saya terima dari teman-teman isinya selalu sama:

 "Nisyeeee aduhhhh kamu kok enak banget sih kerjanya cuma jalan-jalan melolo!!!" 


Oww-oww masa sih... Jadi kalau boleh jujur, sebenarnya saya gak begitu hobby traveling (aneh khan?), lahir dan besar dari keluarga TNI AD (yang bila dipelesetkan berarti: Terima Nasib Ini Apa ADanya) membuat saya biasa hidup prihatin walopun juga tiap hari berkecukupan tanpa kekurangan sandang, pangan & papan tapi selama ini, ide traveling paling jauh bagi saya hanyalah ke Bali dan Lombok ;) Maklum deh anak kolong, terbiasa pindah sana-sini ikut tugas orang tua... Tohhh itu kan namanya juga jalan-jalan (antar kota antar propinsi) walaupun baru di dalam negeri saja ;) Dulu, sebelum menikah dengan Heng, bagi saya ide untuk traveling overseas hanyalah sebuah kemewahan yang mungkin masih lama akan tercapai... Saya sendiri sudah cukup puas dengan pengalaman menemani Papa dinas dan tinggal berpindah-pindah tempat setiap tahun ke Bandung, Makassar, Manado, Serang, dan Papua. Dengan banyaknya perpindahan dinas dari Papa, saya cukup bangga dengan wawasan per-traveling-an saya ;) Dan sangking easy-to-pleased nya saya diajak jalan sama Heng ke Jogja saja rasanya sudah sangat bersyukur ;) 

Prinsip saya memang aneh, urusan traveling berada di list paling bawah dari hal penting lain yang perlu saya lakukan, misalnya: daripada buang-buang uang mendingan ditabung, masukin reksadana & dibelikan properti atau emas saja ;) Saya tidak hobby traveling, karena tidak terlalu suka menghabiskan uang hanya untuk kesenangan/kepuasan yang sifatnya hanya sesaat, misalnya masuk wahana ini-itu seharga ratusan dollar demi menikmati roller coaster / bungee jumping etc yang hanya mendatangkan kepuasan sehari saja. Atau daripada jauh-jauh menghabiskan uang ke luar negeri mendingan saya belanja barang-barang yang berguna untuk kehidupan saya & keluarga sepuasnya di Jakarta hahahahahay *_* Alesan saya aneh banget ya ;) 

Karena Heng sudah tau nih gelagat saya kayak gini makanya setelah nikah, dia langsung boyong saya ke Phoenix dan ajak saya putar-puter obrak-abrik Amerika hanya demi memuaskan rasa ingin travelingnya juga ingin menjelajah sampai ke pelosok Paman Sam dan katanya sih saat kita merantau, kita belajar hidup dan menjadi pribadi yang menghargai kehidupan...

Nah boleh dikatakan, selama ini saya sering jalan sana sini karena menemani Heng yang doyan jalan. Jangan kaget, karena dia memang high-traveler sejak masa kuliah, jurusan yang dia ambil saat kuliah dulu nih: Tambang Eksplorasi, jadi darah explorernya emang sudah eksis sejak muda *_* dan makin menjadi-jadi tiap tahun. Heng juga hobby fotografi sehingga setiap kita jalan, selalu banyak ide jepretan foto di berbagai spot di belahan dunia ini. 

Sejak menikah dengan Heng, saya mulai terekspose dengan dunia tambang yang akhirnya juga menyeburkan saya sekaligus dalam segala macam dunia per-traveling-an ini ;) Selain jalan-jalan vacation biasa, alasan lain yang juga maha penting adalah menemani company business alias tugas dinasnya Heng (entah untuk study banding, Mine Visit, Mining Tour, komparasi alat berat, atau apapun yang urusannya berhubungan dengan Tambang) dan akhirnya saya pun ikutan bersamanya indehoy dan susah-senang sama-sama ;) 

Dari perjalanan 7 tahun kami bersama-sama, hanya benua Afrika saja yang belum kami kunjungi ;) Walaupun tidak terlalu hobby traveling namun saya amat menikmati semua perjalanan liburan yang kami lalui bersama, setiap kota (baik di dalam negeri atau di luar negeri) selalu memberikan pencerahan bagi kami berdua, tak terkecuali dengan trip ke Eropa pada pertengahan maret lalu ;) Menghabiskan 2 Minggu di Eropa bersama dengan orang yang kita sayang merupakan peristiwa yang amat menyenangkan! Dan walaupun saya selalu mengatakan bahwa saya tidak begitu hobby traveling, adalah kebohongan bila saya tak mau mengakui betapa nikmatnya perjalanan demi perjalanan yang telah saya lalui berdua dengan Heng ;)

Beberapa waktu lalu saya banyak mendapat pertanyaan: 

"Gimana caranya traveling tanpa menghabiskan banyak uang?" 

"Situs traveling apa yang terpercaya?"

"Apa kalian suka traveling back-packer?"

"Gimana cara yang gampang apply visa US & Eropa?" 

"Gimana cara traveling yang aman tanpa kehilangan barang?"

"Gimana caranya kelihatan cantik saat traveling sehingga bisa ambil foto narsis yang enak dipandang?" 

---

OK baik, saya coba jawab satu persatu ya... Seperti yang sudah berulang kali saya jelaskan diatas, saya adalah tipe orang yang tidak suka menghamburkan uang demi kepuasan sesaat. Sehingga pada setiap ajakan traveling yang ada, saya selalu memastikan apakah:
 1. Kondisi keuangan keluarga memungkinkan?
 2. Apa tujuan, faedah, manfaat & kegunaan yang dapat dipetik dari traveling ini? 

Berangkat dari 2 hal tersebut maka saya dan Heng bisa mengambil keputusan apakah kita jadi traveling atau memilih untuk tinggal di rumah. Kebanyakan dari alasan kami berdua adalah ketika traveling, kami sama-sama ingin melepas kejenuhan dan rutinitas yang tiap hari mendera dalam pekerjaan. Semakin hari, seiring dengan promosi, tanggung jawab kerja dan load pekerjaan Heng yg semakin menggila, rasanya bepergian selama beberapa waktu terbukti ampuh dalam menghilangkan stres dan membuat performa kerja kembali membara... Karena alasan tersebut maka pada beberapa kasus, liburan bukan lagi kami pandang sebagai kebutuhan tertier/sekunder melainkan sebagai kebutuhan primer yang harus segera dilaksanakan, sehingga kami pun sengaja mengalokasikan sejumlah uang dari pendapatan kami dan membuat pos khusus untuk pengeluaran liburan ;) Perlu diketahui juga, kami tidak pergi liburan fancy atau ke luar negeri tiap bulan... Walau memang kami membutuhkan liburan namun hal ini tidak perlu dilakukan sering-sering bukan? Lagi pula, kegiatan yang dilakukan secara terus menerus pasti juga akan memberikan efek jenuh. Intinya, setelah dana siap, maka liburan baru boleh dilakukan dengan syarat, tidak melebihi jumlah yang telah disepakati. 

Selain itu, kebiasaan lain yg saya lakukan sebelum liburan jarak jauh, adalah: terlebih dahulu mempersiapkan sejumlah uang yang ditinggalkan untuk orang tua dan adik adik handai taulan sekalian sebagai kompensasi karena mereka belom dapat join dengan kami. Kompensasi lain adalah, saya dan Heng selalu membeli oleh2 cinderamata bagi keluarga, teman baik dan kolega. Bahkan beberapa koper sering penuh dengan isi hanya berupa barang oleh2 saja. 

Pastikan dulu, kamu sudah memiliki dana pensiun, dana investasi masa tua & dana darurat sebelum melakukan traveling yang jauh dengan jangka waktu yang panjang. First thing first: Secure your money for the future, stick to the designated budget & have yourself a lil fun...

Lanjut ke topik berikutnya. Situs terpercaya untuk traveling yang paling banyak saya dan Heng gunakan adalah: Trip Advisor, Lonely Planet & Agoda. Kami banyak mendapatkan insight perihal bagaimana cara & gaya hidup masyarakat setempat dari ke-3 situs tersebut. Setiap traveling, saya & Heng selalu berusaha avoiding any touristy area coz we wanna learn how the local live plus we don't like crowdedness & busy situation... Banyak-banyaklah browsing tentang daerah yang akan dikunjungi, perkaya diri dengan banyak membaca dan tentu saja, nikmati seluruh prosesnya ;) 

Lanjut ke topik berikutnya: back-packer. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para back-packers, sejujurnya saya tidak bisa (dan juga tidak mampu) melakukan traveling dengan tingkat penghematan yang tinggi, serba pas-pasan dan atau harus irit sana-sini... Kalau uangnya belum cukup untuk beli tiket pesawat yang punya kabin luas, mending tunda saja dulu daripada harus maksa perjalanan berjam-jam kempit-kempitan kaki, makan seadanya di atas pesawat & seblahan dengan orang yang jarak bersinnya hanya 5 cm dari hidung kita ;) Saya tidak sanggup demikian sodara-sodara ;) Kalau di tempat tujuan hanya mampu tinggal di penginapan murah meriah dan nginap dempet2an dengan kualitas kamar buruk, mendingan sabar aja nabung dulu biar afford untuk ambil room yang bagus & nikmatin viewnya. Kalau nanti di tempat liburan tiap hari hanya mampu makan pop-mie hasil bawaan dari Indonesia mah menih tunggu bulan depan atuh saat tabungan sudah mencukupi, tanggung kan pas sampai tujuan tapi gak sempat nyobain makanan khas setempat atau kalau tiap hari makan McD & chinese food kan malah nanti kena sembelit plus sariawan karena kebanyakan MSG lho... Gak mau akhhh.... 

Bukan berarti juga tiap traveling harus jor-joran bergaya jet-set nan eksklusif kesana kemari. Tapi perlu diingat bahwa kenyamanan itu perlu modal dan melakukan ritual liburan itu adalah untuk seneng, bukan bawa diri untuk susah dan sengsara kan ;) bagi saya, Vacation time adalah saat kita untuk relax menenangkan dan menentramkan jiwa raga, bukan saat untuk bersusah-susah raya di kota lain ;) 

Tetapi apabila rasa berkorban dan rasa keingintahuanmu lebih besar dari rasa ingin nyaman, tentu saja opsi back-packer bisa jadi cocok untukmu... Kalo kamu memang pingin dan gak keberatan sih gpp lho, yang penting enjoy aja kan!!!

OK lanjut ke topik visa US & Schengen. Hmmmm ini susah susah gampang ya jawabnya. Kalau masalah visa US memang ada beberapa teman yang susah dapatnya karena sering ditolak. Tapi jaman sekarang kan jaman teknologi, bisa browsing yg banyak di Internet dan cari tahu lebih dalam dari orang orang yang mempersiapkan diri dengan baik dan lulus mendapatkan visa US tsb. Coba lagi dan coba terus ya! Saya sendiri gak pernah mengalami masalah penolakan visa US karena Heng kan kerjanya di salah satu perusahaan Amerika & saat apply visa tinggal ikut American Chamber (list gabungan perusahaan Amerika di Indonesia) biasanya interview dilaksanakan tiap hari Rabu di US Embassy. 

Kalau Visa Schengen seru nih! Saya dan Heng pernah ditolak oleh kedutaan Jerman yang berlokasi di LA. Jadi saat itu, visa kerja US punya Heng memang sudah expired, tapi karena emang kita mau pulang ke Indo for good ya ngapain kita perpanjang itu Visa & balik lagi ke Phx, mendingan langsung pulang Indo aja (tapi mampir ke Eropa dulu dari NY) tapi ya karena entah lagi sial atau emang syaratnya gitu, jadi ditolak deh sama Kedubes Jerman. Akhirnya setelah dinas dari Phx ya kita gak jadi ke Eropa tapi puter-puter dan obrak-abrik USA dari Miami, Orlando, DC sampe ke NYC ;) Sampe sekarang saya jadi males mau ke Jerman lagi. Mungkin masih bete karena penolakan visa kemarin ya?!? Lagipula, kalo gak kepepet banget ya ngapain sih kesana? Masih banyak negara tujuan lain yg lebih unik dan cantik kok, misalnya: Skandinavia, Eastern Europe, Athens atau Morocco! 

Anehnya, kemarin sebelum ke Paris, permohonan visa schengen saya & Heng 
amat sangat mudah tuh dibantu oleh agen tanpa repot sana sini hanya datang ke Kuningan untuk cap jari selama 10 menit dan udah jadi... Idihhhh ngapain coba pake ditolak-tolak sama kedubes Jerman di LA? Lha wong negara lain di Eropa juga toh meloloskan permohonan kami untuk jalan-jalan dan buang duit di negara orang... 

Masih sewot ^__*
Hahahahahahay ;)

Ok, baiklah... Sebenarnya saya gak gitu sewot juga sih toh juga kalau suatu hari nanti jalur yang paling memungkinkan dari Indo ke Eastern Europe memang harus dari Frankfurt yaudah berarti emang harus ke Jerman kan ;) Visa Schengen itu bisa dilihat dari kota pertama yang hendak kita tuju saat tiba di Eropa atau kota terlama yang akan kita singgahi selama disana... Jadi, selamat melamar visa ya! Persiapkan sebaik dan selengkap mungkin. Kalau sudah diapproved, visa Schengen berlaku selama 5 tahun, kita hanya perlu datang ke kantor pembuatan visa untuk cap jari buat legalitas perpanjangannya. 

Pertanyaan lain yang banyak saya dapatkan adalah: Bagaimana caranya traveling secara aman tanpa kehilangan barang? 

Terus terang, saya bukan orang yang rapih dan well-organized dalam urusan packing & traveling ;) Jadi, saya hanya bisa mengandalkan banyak banyak mengucapkan doa kepada Tuhan... Sebelumnya (di paragraf atas) saya sudah jelaskan bahwa bila memungkinkan saya dan Heng selalu ingin melakukan perjalanan wisata bersama dengan keluarga sehingga bisa membagi kebahagiaan bersama mereka namun karena alasan satu & lain hal kami gak bisa selalu traveling bersama, maka ritual yang tak pernah putus kami lakukan adalah: banyak memberi! Memberi sejumlah uang untuk keluarga dan membelikan oleh2 yang banyak untuk saudara teman dan handai taulan sebagai kompensasi! Yup, somehow if we give a lot, we will be given & being granted for so many blessings including guidance, penyertaan dan penjagaan dari Sang Pemilik Semesta... 
Syukur puji Tuhan, selama ini saya dan Heng gak pernah mengalami kehilangan barang yang berarti. Saya pernah sakit parah, keracunan makanan (food poisoning) di Charters Tower - QLD Australia. Muntah-muntah, mencret, pusing, pening dan pucat sampai bibir berwarna biru, juga badan pun lemah gak kuat berdiri. Waktu itu Heng sampai panik dan panggil ambulans, setelah disuntik anti kram perut, saya langsung dilarikan ke RS. Di dalam RS saya diinfus dan kembali disuntik, badan sudah membaik tapi tidak dengan kepala saya yang pusing nyut-nyutan, bukan karena sakit tapi mikirin, aduhhh gimana bayarnya inih... Soalnya saya dan Heng kemarin gak beli asuransi perjalanan!!! Tapi percayalah, dalam kesulitan paling parah sekalipun, kalau hatimu baik, Tuhan pasti selalu membantumu... Singkat cerita, pada tengah malam itu juga setelah badan saya sehat dan bisa berjalan, sang dokter keturunan India membolehkan saya pulang tanpa membayar uang sepeserpun! Heng hanya perlu tanda tangan surat tanpa perlu menunjukkan paspor atau visa ataupun copy kartu kredit! Aneh sekali bukan??? Puji Tuhan, rasanya hanya bisa bersyukur sama Tuhan... Besokannya bahkan saya dan Heng langsung ke Townsville dan naik pesawat menuju Bali tanpa kesulitan kesehatan yang berarti! God is good... Benar-benar luar biasa penyertaan dan penjagaan dari Sang Pemilik Semesta...

Kalimat paragraf diatas merupakan penjelasan secara pendekatan rohani, kalau secara logika, saya selama ini bawa paspor kami berdua kemanapun kami pergi! Gila ya? Hahahhahahay ;) Banyak juga yg menyarankan: semua barang berharga harus disimpan di safety box inside dalam lemari kamar hotel!!! Tapi saya ini gaptek dan jadilah semuanya saya bawa dalam tas qiqiqiqiqi ;) Selama ini setiap mau keluar kamar, saya memecah kekuatan keuangan kami menjadi 3: yaitu uang ada di dompet saya, ada di dompet Heng dan sebagian di tinggal dalam koper dibawah tumpukan baju ;) Saya juga tidak terlalu membawa cash dalam jumlah banyak, karena resiko jatuh, hilang dan kecopetan besar ya... Saya biasanya membeli makanan dengan cash dan membeli barang mahal dengan kartu kredit atau via debit tabungan dengan menggunakan pin ATM. Saya juga selalu sedia uang kecil untuk transaksi santai seperti membeli tiket train atau bis juga memberi sedikit uang kepada pengamen-pengemis di jalan. Tidak memperlihatkan kepada umum sesuatu yang mewah dan berlebihan juga sangat membuat perasaan kita aman dan nyaman. Kecuali mau fancy dinner, tea time dan shoping cantik di hotel mewah boleh deh pamerin itu perhiasan dan tas mahal ;) Tapi kalau hari itu kita mau sight-seeing putar puter kota dengan modal kaki dan transportasi umum mungkin harus pikir panjang untuk mengenakan fancy blink-blink thing ya... 

Baiklah, sampai juga akhirnya kita di topik membuat foto narsis yg enak dipandang ;) Jadi diawal kan saya sudah pernah bilanga bahwa Heng sangat tergila-gila dengan fotografi, waktu kita masih tinggal di Phx, dia punya satu set kamera dan beberapa lensa sekaligus yg untuk foto jarak jauhlah, lensa untuk moving objectlah, lensa fish-eyelah, lensa ini dan itu pokonya lengkap! Tapi karena setiap traveling, barang bawaan kita sangatlah banyak dan berjubel oleh2 jadinya sekarang Heng cuma pake iPhone / HP Samsung doang hehehheeh ;) 

Sebelum traveling, sebaiknya googling dulu pakaian yg pas selama berada di kota tujuan dan berpakaianlah sesuai dengan konsep foto yg kamu inginkan. Saya selalu senang dengan gaya High-Fashion yg berkesan mewah ;) Tapi kalau cuma ke pantai di Bali atau di Jayapura ya casual chic juga OK kok... Biasanya sebelum liburan, outfit merupakan hal pertama yg saya persiapkan! Saya gak mau pulang traveling tanpa membawa hasil foto yg bagus, minimal ada foto dengan orang yg disayang sebagai kenangan dan pemacu semangat ;)

Biasanya kalau saat traveling lagi pingin photo-shoot, saya juga bawa persediaan make-up, aksesoris pemanis (bandana, scarf, topi, etc) & beberapa sepatu heels (yg tentunya akan saya pakai di TKP dan setelah itu ganti sepatu teplek lagi hehehehe) Sayang dunk udah sampai di tempat tujuan tapi fotonya cuma ala kadar mah di rumah juga bisa ;) Berfoto dengan pakaian yg enak dipandang, pemandangan yg indah plus resolusi pixel yg baik pasti akan memberi efek positif bagi penikmatnya tak terkecuali dengan kita! Hasil foto gak hanya dipajang di sosmed tapi juga bisa jadi pajangan rumah & ketika suntuk, memori kenangan juga energi dalam foto tsb akan memberikan efek semangat lho... Gak percaya? Coba sendiri deh! Pasti nagih ;)



Wednesday, April 2, 2014

Very Prive Kid - My Size : 37



Masa Muda ;)


Bulan November tahun lalu, umur gua baru 30, nah pas kemarin traveling keliling Paris, Amsterdam & Belgia kan digeber abis-abisan tuh tenaga karena gak mau rugi jadi bangun pagi (cuma bfast sebentar) lalu jalan puter sana sini, maksa pake sepatu kitten heels (sengaja demi hasil foto yg ok) jumpalitan demi action foto, lanjut jalan sampe tengah malem demi memuaskan hasrat ingin tau daaaaannnn akibatnya badan rontokkkkk kecapean pingin di pijet 3 hari 3 malem bila perlu Mas Gatot gua boyong sekalian tiap liburan hahahahahahay ;) 

Jadi kalo Elu-Elu-Pada emang seneng traveling & sight-seeing yang tempatnya jauh-jauh, dan gaya vacation Lu pada sukanya jalan sana sini naik train dan modal kaki, mendingan dilakukan sekarang & saat Lu masih muda deh... Soalnya harus diakui bahwa faktor U juga mempengaruhi stabilitas vacation Lu & performa photo-shoot yang dibuat ;)

Jadi saat udah tua nanti ya kalo liburan ga perlu yg terlalu "fisik" banget (yaitu jalan sana sini demi memuaskan tasa ingin tau) tapi lebih santai, maybe doing a lil shopping on that day or duduk - duduk manis, having high tea sama teman-teman, gak perlu merasa dikejar-kejar dengan waktu untuk kesini dan kesana.... karena you're already know bout here and there coz you've been done this and that ;) 

#seizetheday

Tuesday, April 1, 2014

Tomawin


OK baiklah, mari kita bicara serius hari ini. Saya mau pengakuan dosa... Setelah 3 bulan melanglang-buana off-site, kesana-sini membereskan urusan pribadi sampe berasa luntang lantung halfway around the world, akhirnya saya kembali juga ke tanah air...

Proyek pertama: langsung sembah sujud minta ampun sama teman-teman Volunteer yg udah mau cover kerjaan selama periode absen saya kemarin ;) ijinnya cuma 1 minggu tapi kok malah hilang tanpa rimba selama 3 bulan itu namanya keterlaluan bukan??? Qiqiqiqiq ;)  minta dikemplang piring... Ampuunnn Dijeee! Anyway makasih yah Gals udah mau bantuin! Many blessings return to you... 

Proyek kedua: terjun langsung ke TKP (mirip kampanye blusukan) juga temu kangen sama anak-anakku My Babies tersayang & tergemes 2014 ❤ Sumpah yak, saya baru tau kayak gini tho ternyata rasanya rindu seorang ibu kepada anak?!? *Lebayyyy*

Surprisingly, mereka sudah lancar membaca, sudah berbahasa Indonesia dgn baik, sudah mengenal angka & fasih menyapa saya dgn bahasa Inggris! Adohhh ini anak sapah ciii bisa pinter begini... Ayo ngaku, sapa yg ngajarin???
*pingin nyungsep dlm got* 
Hahahahahahay ;) 

Jadi dari 11 anak yg saya pegang kayanya yg paling pesat perkembangannya adalah Apeon Uamang. Pertama kali ketemu  dia, saya susah berkomunikasi verbal sehingga lebih banyak menggunakan bahasa tubuh - body language (mirip olahraga yak?) Iya, semuanya pakai gerak tangan & anggota tubuh utk berkomunikasi karena Apeon belum lancar bhs Indo, maklum aja; dia baru dtg dari Aroanop (4 hari jalan kaki ke Tembagapura). Di asrama ini, Apeon selain belajar bhs indo juga diajarkan math & ikut kelas akselerasi utk bisa masuk kelas 1 di local school. Luar biasa, baru bbrp bulan saya tinggal, sekarang dia sudah lancar ini itu! Ayo Adek-Adek manah tepuk tangannya?!? *GR deh Situ kemane emang 3bulan ini?!? Wakakakakak ;)
Bener bgt ya, children are like sponge, they absorb anything fast!!! They're like a white blank page, we cud write anything on it... We cud make any shape we like... But dont forget to make sure, we are building a new generation with a good attitude....

Ayo ayo sapa yg minat jadi volunteer? 
#MendingCobaAjaDulu #pastiNagih #LetsMakeADifference 

Would like to say thankyou for Lusiana Syahputra yg uda ngirimin buku berkilo-kilo beratnya utk anak2ku, makasih sayang! Thankyouuuu juga utk Rise & teman-teman yg udah mau bantu ;) Kiranya semesta selalu menyertai kalian dengan suka cita! ;)

Anyway, tunggu postingan saya selanjutnya ttg perkembangan mereka ya!
Stay tuned. Stay blessed!

Tuesday, March 25, 2014

Paris





The thing about this city is: you can dress yourself with anything you want, playing girlie, edgy or classic Parisian look at the same time, wearing any make-up you like, putting your craziest lip color & posing yourself anywhere you want or even act as if you're a supermodel with thousand of #selfie on your camera and.... 
there will be NOBODY ever give a FUCK on your #STYLE ��
#paris

Monday, March 17, 2014

C'est La Vie...




Belajar menikmati hidup dari orang Perancis. Dulu, tiap traveling saya pasti punya 1000 list things to explore, to see, to visit, to taste, to whateva to do di satu kota. Kalo ga kesampaian, pasti berasa sebel. Heng sering kesel karna menurutnya, traveling dengan saya sperti kejar-kejaran dengan waktu... Di trip kali ini, saya mulai stop kelakuan itu. It's such a surprise for me to see how Parisian appreciate their life. Exp: When they have breakfast, they're eating their croissant, sipping their tea, listening to their fave music or having eye-to-eye conversation while enjoying the morning breeze & the sunshine, of course no busy fingers typing something with their celly, unlike me busy asking WiFi password, browsing the internet, preparing today's itinerary while my left hand busy calling my mom, asking my Dad's health, having my niece on the phone, texting my sisters: Yola, Bella, Angel & asking same boring bla-bla-bla stuffs to my housekeeper back home. Now that I grow older, I realized that "if it's meant to be, it will meant to be..." 
We only live once, so lets live in the moment... Stop worrying things, lets chill and relax for a while, enjoy your latte, kiss your loved ones a lot, and don't forget to tarik nafas panjang lalu mengucap syukur yang banyak sama Tuhan...